Kabar Duka: Wakil Gubernur Sulawesi Barat Meninggal Dunia
Wakil Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar), Salim Sayyid Mengga, meninggal dunia pada hari Sabtu, 31 Januari 2026. Ia mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Siloam Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) sekitar pukul 06.40 WITA. Kepastian kematian Salim disampaikan oleh keluarga dan diberitakan melalui berbagai media lokal.
Salim Sayyid Mengga dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta. Sebelum proses pemakaman dilakukan, jenazahnya sempat berada di kediaman putri pertamanya di Jalan Taman Cilandak IV Nomor 26, Cilandak, Jakarta Selatan.
Kabar duka ini menutup perjalanan hidup seorang tokoh pemerintahan yang telah memberikan kontribusi besar bagi masyarakat Sulbar. Salim sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit karena kondisi kesehatannya yang menurun secara signifikan.
Riwayat Perawatan Medis
Sebelum wafat, Salim Sayyid Mengga sempat menjalani operasi lutut. Setelah dinyatakan boleh pulang dari rumah sakit, ia seharusnya melanjutkan perawatan dengan fisioterapi. Namun, rencana tersebut tidak berjalan sesuai harapan.
Putri Salim, Mila, menjelaskan bahwa sang ayah mengalami sesak napas setelah pulang ke rumah. “Pulang ke rumah tadinya cuma mau berangkat fisioterapi, tapi Bapak sesak dadanya karena lendir banyak, ternyata banyak cairan dan kakinya bengkak,” ujarnya. Akibat kondisi tersebut, Salim kembali dirawat di ruang High Care Unit (HCU) RS Siloam Makassar.
Selama menjalani perawatan, kondisi Salim tidak menunjukkan perkembangan signifikan. Akhirnya, kondisi kesehatannya memburuk dan ia diduga mengalami serangan jantung yang menyebabkan kematiannya.
Latar Belakang dan Karier
Salim Sayyid Mengga lahir pada 24 September 1951 di Pambusuan, Kabupaten Polewali Mandar, Sulbar. Ia adalah putra dari Bupati Polewali Mamasa periode 1980-1990, Sayyid Mengga Alatas. Sebelum masuk dunia politik, Salim memiliki latar belakang militer yang kuat. Ia merupakan pensiunan prajurit TNI dengan pangkat terakhir yaitu Mayor Jenderal (Mayjen).
Setelah lulus dari AKABRI pada tahun 1974, Salim melanjutkan pendidikan seperti Susarcab Kavaleri (1975), Seskoad (1981), Susdandim (1993), hingga Lemhanas (2001). Karier militernya dimulai pada tahun 1975 sebagai Komandan Peleton Detasemen Kavaleri Yonkav 10 Kodam XIV Hasanuddin dengan pangkat Letnan Dua (Letda).
Karier Salim di militer terus berkembang hingga akhirnya menjabat sebagai Wakil Komandan Komando Pembina Doktrin, Pendidikan, dan Latihan Angkatan Darat (Wadankodiklat) pada tahun 2003. Jabatan terakhirnya sebelum pensiun adalah Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XV/Pattimura dari tahun 2005 hingga 2006.
Masuk Dunia Politik
Setelah pensiun dari militer, Salim mulai meniti karier di dunia politik dengan bergabung ke Partai Demokrat. Ia langsung terpilih sebagai anggota DPR saat Pemilu 2009. Pada Pemilu 2014, ia kembali terpilih sebagai anggota dewan dengan meraih 51.168 suara di daerah pemilihan (dapil) Sulbar.
Pada tahun 2017, Salim mencalonkan diri sebagai calon gubernur Sulbar berpasangan dengan Hasanuddin Mas’ud. Meski kalah dari Ali Baal Masdar, ia tetap menjadi tokoh penting dalam politik Sulbar.
Tahun 2024, Salim kembali berkontestasi dalam Pilkada Sulbar sebagai calon wakil gubernur berpasangan dengan Suhardi Duka. Ia menerima tawaran tersebut setelah gagal kembali ke parlemen pada Pemilu 2024.
Ucapan Duka dari Gubernur Sulbar
Gubernur Sulbar Suhardi Duka menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya Salim. “Saya Gubernur dan seluruh rakyat Sulbar sangat kehilangan sosok teladan, pemimpin yang istikamah, pemimpin yang sangat mencintai rakyatnya. Selamat jalan kakanda, sahabat sekaligus orang yang kami tuakan. Kami doakan Allah SWT menempatkanmu di tempat yang mulia,” kata Suhardi Duka dikutip dari akun resmi Pemprov Sulbar di Instagram.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."












