Kasus Bunuh Diri Siswa SD, Gubernur NTT: Pemerintah Gagal

Kekhawatiran terhadap Sistem Sosial dan Pemerintahan di NTT

Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, mengungkapkan kekecewaannya terhadap sistem sosial dan pemerintahan daerah yang dinilai gagal mencegah kematian seorang siswa SD. Kejadian ini berawal dari tindakan bunuh diri seorang anak berusia 10 tahun, YBR, yang tinggal di Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada.

Anak tersebut ditemukan gantung diri di pohon cengkeh pada Kamis, 29 Januari 2026, sekitar pukul 11.00 WITA. Diduga, kejadian ini terjadi karena korban tidak mampu membeli buku dan pena untuk keperluan sekolah. Dalam video unggahan akun Instagram resmi Gubernur, Melki menyampaikan bahwa peristiwa ini menjadi alarm bagi pranata sosial yang gagal dalam menangani masalah seperti ini.

“Pranata sosial kita berarti gagal urus model begini. Pemerintahan kita juga gagal. Provinsi sama, Kabupaten Ngada juga sama. Kita punya pranata agama juga gagal, pranata budaya juga gagal sampai ada orang mati karena miskin begini,” ujar Melki dalam video tersebut.

Ia menegaskan kepada pejabat daerah agar tidak menganggap kejadian ini sebagai hal biasa. “Besok ada lagi model begini, Pak, saya tuntut orang-orangnya. Kalaupun saya salah saya siap dituntut. Kesalahan itu ada di mana, siap dia dituntut untuk itu,” tambahnya.

Masalah dengan Program Bantuan Sosial

Melki juga menyampaikan kekesalannya terhadap Program Keluarga Harapan (PKH) yang dinilai tidak efektif. Ia merasa heran karena meskipun ada uang triliunan rupiah yang dialirkan ke NTT, masih saja ada warga yang mengalami kesulitan ekonomi hingga meninggal karena masalah serupa.

“Enggak boleh Pak Sekda, ini enggak boleh. Ini cukup, ini yang terakhir,” ujarnya dalam video tersebut.

Gubernur memerintahkan pemerintah daerah untuk memfungsikan kembali perangkat sosial berjenjang hingga ke tingkat RT dan RW. Ia meminta agar perangkat daerah membantu warga yang miskin dan kesulitan.

“Kalau ada yang miskin susah, kita urus! Uang ada kok, walaupun terbatas, uang kita ada. Uang kita masih ada untuk kasih makan orang, hanya sekadar beli buku tulis dan bolpoin, yang penting kita baku tahu kita baku bantu,” kata Melki.

Konteks Kejadian dan Surat Perpisahan

YBR, siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, meninggalkan sepucuk surat yang ditujukan kepada ibunya, MGT, yang berusia 47 tahun. Surat tersebut berisi pesan perpisahan korban kepada ibunya. Korban tinggal bersama neneknya, sementara ibunya bekerja sebagai petani dan serabutan.

Menurut laporan Harian Kompas pada 3 Februari 2026, korban putus asa dengan kondisi yang dialaminya. Saat meminta uang untuk membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp 10 ribu, ibunya menjawab bahwa mereka tidak punya uang. Akhirnya, korban diduga mengakhiri hidupnya pada 29 Januari 2026.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda NTT, Komisaris Besar Henry Novika Chandra, menjelaskan bahwa jenazah bocah tersebut ditemukan di kebun milik neneknya. “Korban sudah dalam keadaan tergantung pada salah satu dahan pohon (cengkeh),” ujar Henry kepada Tempo, Rabu, 4 Februari 2026.

Proses Investigasi dan Bukti yang Ditemukan

Henry menjelaskan bahwa korban awalnya dibangunkan oleh ibunya untuk bersekolah pada pagi hari sekitar pukul 7.30 WITA. Bocah tersebut sempat menolak karena merasa sakit kepala, tetapi oleh ibunya tetap dipaksa berangkat.

Korban diantar ke rumah neneknya oleh tukang ojek untuk mengambil seragam sekolah. Namun, sesampainya di sana, korban justru beranjak menuju bale yang berada di sekitar kebun milik neneknya. Beberapa kerabat yang ada di sekitar rumah nenek korban juga sempat menanyakan alasan bocah tersebut tidak bersekolah. “Korban menjawab tidak pergi karena sakit kepala,” tutur Henry lewat pesan singkat pada Rabu, 3 Februari 2026.

Sekitar pukul 11.00 WITA, korban terlihat sudah dalam kondisi tergantung di dahan pohon cengkeh di dekat bale tersebut. “Selanjutnya korban dibawa ke Puskesmas Dona Jerebuu untuk dilakukan visum,” kata Henry.

Di sekitar lokasi kejadian, petugas menemukan beberapa barang bukti, termasuk tali nilon, pakaian korban, dan selembar kertas tulisan tangan dalam bahasa daerah Ngada. Surat tersebut berisi pesan perpisahan korban kepada ibunya.

Henry mengatakan kepolisian hingga saat ini masih menyelidiki kasus kematian siswa SD tersebut. “(Proses) pengumpulan keterangan dari para saksi guna memastikan secara menyeluruh rangkaian peristiwa,” ujar Henry.

Informasi Tambahan untuk Bantuan Kesehatan Jiwa

Dinas Kesehatan Jakarta menyediakan psikolog gratis bagi warga yang ingin berkonsultasi tentang kesehatan jiwa. Terdapat 23 lokasi konsultasi gratis di puskesmas Jakarta dan bisa diakses peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan.

Konsultasi juga bisa dilakukan secara online melalui laman https://sahabatjiwa-dinkes.jakarta.go.id. Selain itu, konsultasi lanjutan bisa dijadwalkan dengan psikolog di puskesmas apabila diperlukan.

Selain mengontak Dinas Kesehatan DKI, Anda dapat menghubungi lembaga berikut ini untuk berkonsultasi:

  • Yayasan Pulih: (021) 78842580
  • Hotline Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan: (021) 500454
  • LSM Jangan Bunuh Diri: (021) 9696 9293
Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?