
Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, berbicara tentang perjalanan politiknya serta pandangan mengenai pemberdayaan perempuan dalam Islam saat memberikan pidato akademik setelah menerima gelar doktor kehormatan (honoris causa) dari Princess Nourah bint Abdulrahman University (PNU) di Riyadh, Arab Saudi, Senin (9/2).
PNU adalah universitas khusus perempuan terbesar di dunia dengan jumlah mahasiswa lebih dari 30 ribu orang. Penganugerahan gelar DHC kepada Mega tidak lepas dari prestasinya sebagai presiden perempuan pertama di Indonesia. Hal ini selaras dengan visi PNU yang fokus pada pemberdayaan perempuan.
Penganugerahan gelar tersebut dilakukan oleh Plt Rektor PNU Fawziyah bint Suliman Al Amro. Momen ini menjadi istimewa karena Megawati adalah tokoh pertama di luar warga negara Arab Saudi yang menerima gelar kehormatan dari PNU.
Pemberdayaan Perempuan dalam Islam
Megawati menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan dalam Islam tidak dapat dipisahkan dari konsep keadilan dan amanah.
“Dalam Islam, pemberdayaan perempuan tidak dapat dilepaskan dari konsep amanah dan keadilan. Islam mengajarkan bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan hak istimewa,” kata Megawati.
Ia menyebut prinsip kesetaraan manusia dalam Al-Quran dengan mengutip Surat An-Nisa ayat 1 dan Al-Hujurat ayat 13, yang menegaskan kemuliaan manusia tidak ditentukan jenis kelamin atau status sosial, melainkan ketakwaan dan tanggung jawab moral.
“Prinsip-prinsip ini tidak berhenti pada teks. Sejarah Islam menunjukkan praktik yang nyata,” ujarnya.
Terjemahan An-Nisa ayat 1:
Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki yang banyak dan perempuan. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.
Terjemahan Al-Hujurat ayat 13:
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.
Perempuan dalam Sejarah Islam
Megawati membahas peran perempuan pada masa awal Islam yang hadir di berbagai bidang kehidupan. Ia menyebutkan nama-nama perempuan tangguh di era Nabi Muhammad Saw.
“Kita mengenal Khadijah binti Khuwailid sebagai pengusaha yang mandiri. Kita mengenal Aisyah binti Abu Bakar sebagai periwayat hadis dan rujukan keilmuan. Kita juga mengenal Ummu Salamah dan Nusaibah binti Ka‘ab,” katanya.
Tiga nama pertama merupakan Ummul Mu’minin atau istri Nabi Muhammad yang turut membentuk sejarah Islam, sementara nama terakhir adalah sahabat perempuan (Shahabiyah) yang legendaris sebagai prajurit pelindung Rasulullah dalam Perang Uhud.
Menurut Megawati, Islam tidak pernah memposisikan perempuan sebagai pihak yang harus disingkirkan.
“Perempuan hadir sebagai penjaga nilai, penopang moral dan keadilan, dan penggerak peradaban,” ujar Megawati.
Dari DPR hingga Presiden
Dalam pidato tersebut, Megawati menceritakan perjalanan panjangnya di dunia politik, mulai dari anggota DPR, Ketua Umum PDIP, Wakil Presiden hingga Presiden RI. Ia menekankan posisinya sebagai presiden perempuan pertama di Indonesia.
Megawati menyebut, saat ini masih mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta memimpin Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).
Dari pengalamannya, ia menarik satu kesimpulan utama.
“Pemerintahan yang adil dan efektif tidak dapat dibangun dengan mengecualikan perempuan. Justru kualitas pemerintahan sangat ditentukan oleh sejauh mana perempuan dilibatkan secara bermakna dalam pengambilan keputusan,” katanya.
Kenalkan Puan dan Kisah Sarinah
Megawati dalam acara ini mengenalkan putrinya yang kini menjabat Ketua DPR RI Puan Maharani kepada hadirin. Ia menceritakan selalu mengajarkan kepada Puan bahwa perempuan harus mampu melakukan banyak hal, tanpa melupakan peran dalam keluarga.
Megawati lantas menyebut buku Sarinah karya Bung Karno yang ditulis pada 1947. Menurutnya, pemikiran Bung Karno tentang perempuan bersifat visioner.
“Perempuan adalah tiang negara. Apabila perempuan kuat, bermartabat, dan berdaya, maka negara akan berdiri tegak,” ujar Megawati mengutip pemikiran Bung Karno.
Kisah Fatmawati dan Momen Haru
Menutup pidatonya, Megawati mengenang peran ibundanya, Fatmawati, dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Saat menyebut kisah Fatmawati yang menjahit Sang Saka Merah Putih untuk Proklamasi 17 Agustus 1945, Megawati tampak terharu.
“Ibu saya sendiri, Fatmawati Soekarno adalah seorang pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia,” ucap Megawati sambil menitikkan air mata.












