Tradisi Bantaian Adat: Simbol Kebersamaan dan Syukur Menyambut Ramadan
Bantaian Adat adalah tradisi khas yang dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Merangin dalam menyambut bulan suci Ramadan. Tradisi ini hadir sebagai bentuk ekspresi rasa syukur kepada Allah SWT, sekaligus menjadi simbol kebersamaan dan solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Tradisi ini berkembang di beberapa desa di wilayah adat seperti Kecamatan Sungai Manau dan sekitarnya. Dalam prosesi Bantaian Adat, biasanya hewan ternak seperti kerbau dipotong menjelang datangnya Ramadan. Proses penyembelihan ini tidak hanya sekadar ritual, tetapi juga mengandung makna filosofis yang mendalam.
Makna Filosofi Bantaian Adat
Menurut pemahaman masyarakat setempat, Bantaian Adat merupakan cara untuk memperingati warisan leluhur yang harus dilestarikan. Hal ini dijelaskan oleh tokoh adat Desa Bukit Batu, Datuk Harun. Ia menekankan bahwa semua tahapan dalam Bantaian Adat sudah diatur secara ketat, mulai dari pemilihan hewan, penyembelihan, hingga pembagian daging.
Dalam pembagian daging, prinsip keadilan menjadi dasar utama. “Ado papatah mengatokan, ‘manusio batingkek turun, maningga warih tingga pusako’,” ujar Datuk Harun. Maksudnya, manusia meninggalkan warisan berupa pusaka. Salah satunya adalah tradisi Bantaian Adat ini.
Pembagian daging dilakukan dengan prinsip adat Melayu, yaitu semua merasakan nikmat yang sama. Ada bagian khusus untuk Niniak Mamak (tokoh adat), ada pula bagi pemilik ternak, anak kemenakan, dan masyarakat umum. Semua dilakukan secara terbuka dan transparan.
Peran Tokoh Adat dalam Bantaian Adat
Ninik mamak memiliki peran penting dalam Bantaian Adat. Mereka bertugas menentukan tata cara pemotongan, mengawasi pembagian daging, menjaga agar pelaksanaan sesuai hukum adat, serta menjadi penengah jika terjadi perbedaan pendapat.
Tradisi ini juga menjadi sarana pendidikan adat bagi generasi muda. Meski zaman semakin modern dan metode beternak semakin canggih, masyarakat Merangin masih mempertahankan Bantaian Adat sebagai identitas budaya lokal.
Pelaksanaan Bantaian Adat Tahun Ini
Tahun ini, Desa Bukit Batu mencatat jumlah hewan ternak yang disembelih sebanyak 13 ekor kerbau. Jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya tujuh ekor. Peningkatan partisipasi masyarakat ini menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap tradisi ini.
Acara Bantaian Adat tahun ini dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Merangin, Abdul Khafidh. Ia hadir bersama sejumlah OPD terkait dan tampak berbaur dengan masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan adat tersebut.
Pesan dan Harapan dari Wakil Bupati
Abdul Khafidh menyampaikan apresiasi atas kekompakan masyarakat Desa Bukit Batu dalam menjaga adat istiadat. Ia menekankan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar memotong daging, tetapi juga ungkapan rasa syukur dalam menyambut Ramadan.
Ia juga mengingatkan agar pelaksanaan Bantaian Adat tetap disertai dengan ketaatan terhadap aturan adat yang telah disepakati bersama. “Mari kita taati apa yang sudah disepakati ‘Niniak Mamak’, jangan sampai ada selisih paham, mari kita masuki bulan suci Ramadan dengan hati yang bersih dan saling memaafkan,” ujar Abdul Khafidh.
Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Bantaian Adat
Bantaian Adat tidak hanya sekadar menyembelih hewan, tetapi juga mengandung nilai-nilai religius, gotong royong, keadilan sosial, dan pelestarian budaya lokal. Tradisi ini menjadi simbol bahwa adat dan agama dapat berjalan seiring.
Selain itu, Bantaian Adat juga menjadi ajang mempererat silaturahmi dan solidaritas sosial di lingkungan masyarakat. Dengan demikian, tradisi ini tidak hanya sekadar upacara, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Merangin yang tak terpisahkan.
Kesimpulan
Bantaian Adat adalah salah satu tradisi unik yang menggambarkan kekayaan budaya dan spiritual masyarakat Merangin. Dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, tradisi ini membuktikan bahwa nilai-nilai adat dan agama bisa hidup bersama dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."












