Banyumas Culture Festival 2026: Puncak Perayaan Hari Jadi Ke-455
Banyumas Culture Festival 2026 menjadi acara yang sangat dinantikan dalam rangkaian peringatan Hari Jadi ke-455 Kabupaten Banyumas. Festival ini diinisiasi oleh Dewan Kesenian Banyumas dan diselenggarakan di Hetero Space Purwokerto pada malam hari, Sabtu (14/2/2026). Acara ini merupakan festival perdana yang diinisiasi oleh Dewan Kesenian Banyumas untuk memeriahkan hari jadi daerah.
Ketua Panitia Rangkaian Acara Banyumas Culture Festival 2026, Bungsu, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menampilkan kekayaan seni dan budaya Banyumas. Ia menyebutkan bahwa festival ini tidak hanya sekadar pameran, tetapi juga menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengekspresikan kreativitasnya.
Sekretaris Umum Dewan Kesenian Banyumas, Djarot Setioko, mengatakan bahwa gairah seni budaya Banyumas saat ini sedang meningkat pesat, terutama di kalangan generasi muda. Menurutnya, anak-anak muda kreatif di Banyumas mampu menjalankan proses kreatif secara mandiri dengan kemampuan berkesenian yang luar biasa.
Ia menyebut beberapa komunitas seperti Jagabaya Nusantara, Sanggar Seni Samudra, dan lainnya sebagai contoh. Mereka terlihat sangat antusias dalam proses kreatif dan sering kali datang ke sanggar setiap hari.
Djarot menambahkan bahwa kini mayoritas aktivitas di sanggar seni justru didominasi oleh anak-anak muda. Bahkan ia sering menjadi orang paling tua ketika berada di sanggar. Menurutnya, generasi muda Banyumas sangat gemilang dalam melestarikan seni budaya.
Salah satu contoh keberhasilan adalah pementasan sendratari Jagabaya yang ditiketkan seharga Rp35.000 beberapa bulan lalu. Pertunjukan tersebut mampu memenuhi gedung dengan lebih dari 5.500 penonton. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak muda mampu membangun pengembangan audiens secara mandiri.
Namun, Djarot juga menyampaikan adanya tantangan dalam hal fasilitas pertunjukan di Purwokerto. Saat ini belum ada venue berkapasitas lebih dari 1.000 orang untuk pertunjukan seni, sehingga nilai ekonominya belum optimal. Meski demikian, ia percaya masa depan seni budaya tradisional anak Banyumas sangat gemilang di tangan anak muda.
Penghargaan Banyumas Gatra Budaya
Dalam kegiatan tersebut juga diberikan penghargaan Banyumas Gatra Budaya kepada sejumlah tokoh dan komunitas seni. Beberapa penerima penghargaan antara lain:
- Sanggar Dharmo Yuwono: menerima penghargaan sebagai sanggar tertua di Kabupaten Banyumas.
- Sanggar Oemah Gamelan: mendapatkan penghargaan sebagai sanggar teraktif.
- Yayasan Chandra Birawa: memperoleh penghargaan sebagai komunitas pedalangan teraktif.
- Sanggar Jagabaya Nusantara: mendapatkan penghargaan sebagai pemrakarsa pertunjukan seni tari inovatif terpopuler.
- Majalah Ancas: meraih penghargaan sebagai media terdepan dalam pelestarian dan pemajuan bahasa Jawa panginyongan.
- Panitia Bisik Serayu: menerima penghargaan sebagai penyelenggara kegiatan seni budaya dengan jejaring luar daerah terbanyak.
- Jerami Fest: meraih penghargaan sebagai penyelenggara seni budaya dengan partisipasi masyarakat terbanyak.
- Lengger Bicara: menerima penghargaan sebagai penyelenggara seni budaya termegah.
- Joko Wiyono dan Setia Rahendra: mendapatkan penghargaan sebagai mitra strategis dalam pembinaan seni dan budaya.
- Keluarga Suherman: menerima penghargaan sebagai kategori seni ebeg dan seni tradisional.
- Ahmad Tohari: meraih penghargaan sebagai tokoh pelaku pelestari.
Peluncuran Buku Singadipa, Singaperang dari Banyumas
Selain itu, dalam acara tersebut juga diluncurkan buku berjudul Singadipa, Singaperang dari Banyumas, karya Aditia Hera Nurmoko dan kawan-kawan. Buku ini mengungkap kisah di balik Perang Diponegoro, termasuk loyalitas strategis dan spiritual yang melatarbelakanginya.
Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, menyampaikan bahwa Banyumas Culture Festival menjadi ruang ekspresi budaya, bukan sekadar seremoni. Ia memberikan contoh ruang pusaka di Pendopo Si Panji Jaka Kaiman yang dahulu disakralkan, namun kini bisa diakses masyarakat dengan tertib sebagai bentuk penghormatan dan upaya melestarikan budaya Banyumas.
Di ruang tersebut, terdapat salah satu tombak milik Eyang Singadipa yang digunakan saat perang dan diberikan oleh Pangeran Diponegoro. Sadewo menekankan bahwa acara ini adalah ruang ekspresi, bukan hanya seremoni. Banyumas adalah daerah yang punya nilai luhur, dan buku ini bukan sekadar karya tulis, karena Banyumas telah melalui sejarah panjang.
Ia menambahkan bahwa Banyumas tidak hanya dikenal dengan logat ngapak dan sikap egaliter, tetapi juga melahirkan banyak tokoh besar. Karena itu, semangat gotong royong harus terus dijaga.
Sadewo juga menyebut Convention Hall di kawasan menara memiliki kapasitas hingga 2.500 orang. Ia memastikan tempat tersebut bisa digunakan untuk kegiatan seni dan budaya secara gratis.
Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."












