Kronologi Biarawati Selamatkan 13 Wanita Korban Penyekapan, Gubernur Dedi Langsung Terbang Jemput

Kasus Perdagangan Orang (TPPO) yang Melibatkan 13 Perempuan Jawa Barat

Sebanyak 13 perempuan asal Jawa Barat diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Ketiga belas perempuan muda ini terjebak dalam sebuah tempat penyekapan di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), karena dugaan akan diperdagangkan oleh oknum tertentu. Mereka juga diduga mengalami kekerasan, pelecehan seksual, ancaman, serta dipaksa bekerja di luar kontrak di Pub Eltras, sebuah tempat hiburan malam dan pusat keramaian yang cukup ikonik di Maumere.

Kini, kasus dugaan TPPO yang dialami 13 perempuan asal Jawa Barat ini telah ditangani oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Dedi Mulyadi sudah berkoordinasi dengan biarawati katolik, Suster Ika, yang menjadi sosok penyelamat dalam kasus TPPO tersebut. Suster Ika adalah seorang biarawati sekaligus Ketua Tim Relawan untuk Kemanusiaan Flores (TRUK-F), lembaga advokasi Gereja Katolik yang terjun melakukan penyelamatan terhadap 13 korban TPPO asal Jawa Barat itu.

Terungkapnya Kasus

Awal mula terungkapnya kasus ini bermula saat para korban meminta bantuan. Salah satu korban menghubungi Suster Ika melalui pesan WhatsApp (WA) pada 20 Januari 2026. Korban itu meminta bantuan untuk keluar dari Pub Eltras. Menurut Suster Ika, korban merasa tertekan dan depresi karena tidak diizinkan keluar dari kamar di tempatnya bekerja. Bahkan, korban tidak bisa datang langsung ke kantor TRUK-F.

Berdasarkan pengaduan tersebut, Suster Ika dan timnya dari TRUK-F meminta bantuan Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Sikka untuk terjun pada hari berikutnya, yaitu 21 Januari 2026. Saat penyelamatan dilakukan, Suster Ika dan beberapa polisi dari Polres berbagi tugas. Pihak petugas Polres berjaga di luar, sementara Suster Ika menghampiri karyawan Eltras Pub untuk meminta bertemu dengan salah satu korban yang menghubunginya.

Suster Ika menyampaikan izin bertemu dengan salah satu korban yang mengirim WA, setelah itu mereka diperbolehkan masuk. Setelah mendapatkan izin tersebut, Suster Ika masuk dan korban langsung keluar dari kamarnya dengan wajah ketakutan dan badan gemetar. Suster Ika menenangkan korban tersebut dan langsung mengambil keterangan awal.

Keesokan harinya, Suster Ika kembali menerima pesan WA dari tiga korban dari 13 perempuan asal Jabar tersebut. Ketiganya mengirimkan sejumlah foto yang menjadi bukti bahwa mereka mengalami kekerasan. Foto-foto tersebut menunjukkan bekas biru (lebam) pada tubuh mereka akibat dipukul oleh pemilik pub.

Penjemputan Korban

Biarawati Ika mengatakan bahwa para korban cerdas karena menyimpan bukti-bukti tersebut. Karena lewat bukti-bukti dari korban itu, pihaknya dapat langsung berkoordinasi dengan PPA Polres Sikka. Para korban juga memberikan daftar nama mereka yang ingin keluar dari pub tersebut. Didampingi PPA Polres Sikka, Suster Ika menjemput 13 korban tersebut. Namun, saat meminta KTP para korban, mereka tidak memiliki identitas tersebut karena ditahan pihak Pub Eltras.

Pada saat kami minta KTP, ternyata mereka punya identitas yang seharusnya mereka pegang sebagai pekerja itu, tidak ada satu pun yang ditangan mereka, jadi saya langsung beri tahu pak Kasatreskrim untuk memintakan KTP mereka akhirnya langsung dikasih oleh manajer pub.

Kendala Hukum

Suster Ika menceritakan saat penjemputan korban, pemilik Pub Eltras tidak sedang di tempat melainkan sedang berada di Jakarta. Namun, saat itu dia berkomunikasi dengan manajer hingga akhirnya kuasa hukum pemilik Pub Eltras datang. Kuasa hukum tersebut langsung menuding seolah-olah pihaknya melakukan penjemputan sembarangan. Bersyukurnya, protes kuasa hukum itu langsung dijawab Polres Sikka dengan menunjukkan Surat Perintah Penyidikan (Spindik) yang sebelumnya sudah dibuatkan bersama PPA Polres Sikka.

Berkat hal itu, akhirnya Suster Ika berhasil membawa ke-13 korban pada 23 Januari 2026 dini hari. Para korban tinggal di rumah aman untuk para korban kekerasan perempuan dan anak yang difasilitasi TRUK-F. Hal itu dilakukan Suster Ika sekaligus melakukan pendampingan untuk para korban.

Kondisi yang Dialami Korban

Kepada Dedi Mulyadi, Suster Ika juga sempat menceritakan kondisi yang dialami para terduga korban TPPO asal Jawa Barat tersebut. Ke-13 korban merupakan perempuan dari Jawa Barat (Jabar) ini berasal dari beberapa wilayah, di antaranya Bandung, Cianjur, Karawang dan Purwakarta. Bahkan ada di antara korban yang masih remaja di bawah umur yang mulai bekerja sejak usia 15 tahun.

Para korban dibawa ke Maumere tidak secara bersamaan. Mereka direkrut setelah ditawari pekerjaan dengan janji gaji Rp 8 juta hingga Rp 10 juta per bulan, mendapatkan tempat tinggal, pakaian, fasilitas salon dan kecantikan gratis. Namun, setibanya di Maumere, NTT, tawaran pekerjaan itu justru jadi mimpi buruk bagi mereka. Mereka dipaksa bekerja di luar kontrak, diminta membayar mes, makan hanya sekali sehari dan tidak diperbolehkan keluar dari area pub (tempat hiburan). Para korban juga dipaksa bekerja dan mengalami pelecehan seksual.

Meski begitu, kini kondisi korban tinggal di rumah aman TRUK-F dan mendapat pendampingan psikologis dan pendampingan hukum. Kondisi para korban pun kini berangsur membaik.

Dijemput Langsung Gubernur

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi dijadwalkan terbang ke Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk menjemput 13 warga Jabar, korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang dipekerjakan di sebuah tempat hiburan malam. Ketua Tim Hukum Jabar Istimewa, Jutek Bongso mengatakan, Gubernur telah berkomunikasi langsung dengan para korban untuk memberikan dukungan moral dan berjanji segera memulangkan mereka di daerah asalnya masing-masing.

Mudah-mudahan dalam waktu dekat semuanya dapat dipulangkan oleh Pak Gubernur Jawa Barat, ya. Pak Gubernur juga berencana akan menjemput mereka secara langsung ke NTT, ya,” ujar Jutek, Kamis (19/2/2026).

Jutek mengaku tidak tahu secara pasti, kapan Dedi Mulyadi akan terbang ke Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun yang pasti, pihak dari Polda Jabar sudah berkoordinasi dengan Polda NTT dan Polres Sikka.

Kami tidak tahu kapan akan dijemput oleh Pak Gubernur, ya. Tapi yang pasti KDM (Kang Dedi Mulyadi) akan langsung ke NTT. Kami sudah berkoordinasi dengan berbagai lintas dinas dan juga dengan teman-teman di Polda Jabar, Mabes Polri, Polda NTT dan Polres, kami sudah rapat dan kami sudah koordinasikan,” ucapnya.

Dikatakan Jutek, langkah yang diambil Gubernur bukan untuk mencampuri proses hukum yang sedang berjalan di NTT. Tapi, upaya mempercepat penyelamatan para korban yang saat ini masih berada di rumah penampungan.

“Pak Gubernur sangat concern terhadap perlindungan perempuan dan anak. Beliau tidak ingin mereka menjadi korban dua kali. Mereka sudah mengalami dugaan kekerasan seksual dan TPPO, kondisi psikis mereka trauma dan menurun,” katanya.

Jutek menyebut, kondisi para korban sudah mulai membaik setelah dihubungi langsung oleh Dedi Mulyadi melalui sambungan video call.

Rencananya, Dedi akan terbang ke NTT untuk menjemput langsung para korban dan membawa kembali ke daerahnya masing-masing.

“KDM langsung yang akan menjemput, tapi belum tahu kapan berangkatnya, tapi yang pasti akan membawa mereka pulang untuk menyelamatkan masa depan mereka dan menyelesaikan persoalan mereka,” katanya.




Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?