Analisis Rocky Gerung Mengenai Teror terhadap Ketua BEM UGM
Rocky Gerung, seorang pengamat politik dan mantan dosen Universitas Indonesia (UI), memberikan analisisnya mengenai teror yang dialami oleh Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto. Menurutnya, pelaku pengancaman terhadap Tiyo bukanlah Presiden Prabowo Subianto.
Ia yakin bahwa ada pihak lain yang menjadi “kompor” dalam kasus ini. Teror yang menimpa Tiyo Ardianto terjadi setelah ia menyuarakan kasus anak SD di NTT yang akhirnya meninggal dunia. Tak hanya Tiyo, sang ibu juga menerima dampak dari kejadian ini.
Bentuk-bentuk teror yang dialami Tiyo antara lain penguntitan, penyebaran isu tidak benar, hingga ancaman pembunuhan. Rocky Gerung menegaskan bahwa aksi teror ini tidak berasal dari lingkaran pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Jika dia (Tiyo) diancam, saya tidak percaya yang mengancam itu adalah presiden. Tidak mungkin Presiden Prabowo mengancam,” ujarnya.
Pria kelahiran 20 Januari 1959 ini menuding pihak yang meneror Tiyo bersalah dari kelompok the fifth column atau koloni kelima. Mereka memanfaatkan situasi untuk mencari keuntungan sendiri.
“Mereka ingin mengambil keuntungan dengan menyebar teror pada si ketua BEM ini. Jadi saya kira ketua BEM tidak perlu takut bahwa yang dia alami itu biasa dan semua orang mengambil risiko di dalam upaya untuk menegakkan demokrasi,” saran Rocky Gerung.
Kritik Akademik dan Pemahaman yang Tepat
Rocky Gerung juga menilai bahwa pernyataan yang dikeluarkan Tiyo berdasarkan data, bukan dari kebencian personal terhadap Presiden Prabowo. Ketua BEM UGM tersebut ingin menyampaikan pendapatnya dari kacamata seorang mahasiswa, serta tidak memiliki niatan melakukan makar.
Tiyo hanya memakai haknya dalam berdemokrasi, yakni menyampaikan pendapat. “Sekali lagi itu adalah pendapat akademis dengan menguji data, dengan memperhatikan opini publik. Teman ini (Tiyo) proporsional untuk mengucapkan itu di dalam kapasitas dia sebagai manusia akademis.”
“Kita sebut pikiran mahasiswa itu tidak ada urusan dengan makar, tidak ada urusan dengan kebencian personal,” tegasnya.
Oleh karena itu, ia meminta pemerintah tidak perlu ‘kepanasan’ menghadapi kritik dari Ketua BEM UGM. Isu ini menjadi polemik karena ada pihak lain yang membuat suasana semakin keruh.
“Jadi pemerintah tidak usah terlalu tegang menghadapi ini. Dan saya kira yang membuat dia (pemerintah) tegang itu justru karena ada pihak lain yang ingin ngomporin supaya si ketua BEM ini ditangkap, ngomporin supaya ketua BEM ini dianiaya sehingga terjadi krisis politik,” tegasnya.
Tiyo dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, menegaskan dirinya melayangkan kritik bukan karena benci dengan Pemerintahan Prabowo.
“Sebenarnya tidak ada yang membenci Bapak. Kita hanya membenci imajinasi terhadap Indonesia yang harus hancur karena apa yang Bapak lakukan atau mungkin juga Bapak tidak sadar sedang lakukan.”
“Bapak saya kira harus rendah hati untuk belajar. Bapak harus rendah hati untuk sadar. Kerendahan hati itu penting untuk supaya telinganya menjadi terbuka,” katanya.
Respons Istana Kepresidenan
Istana Kepresidenan merespons kabar adanya tindakan teror yang dialami Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto setelah melontarkan kritik keras terhadap kasus anak bunuh diri di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyatakan bahwa meskipun kritik adalah hal yang konstitusional, penyampaiannya harus tetap mengedepankan etika dan adab.
“Menyampaikan kritik atau masukan itu selalu kami sampaikan bahwa itu sah-sah saja gitu. Nah, tetapi tentu kita mengimbau kepada semuanya untuk menyampaikan segala sesuatu itu dengan penuh tanggung jawab juga, kemudian juga mengedepankan etika, adab, adat-adat ketimuran gitu lho,” ujar Prasetyo Hadi di Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu (18/2/2026).
Sebagai sesama alumni UGM yang pernah aktif di BEM, Prasetyo mengingatkan pentingnya pemilihan diksi dalam berpendapat. Ia meminta para aktivis mahasiswa untuk menghindari kata-kata yang dianggap tidak sopan.
“Penyampaian pendapatnya enggak ada masalah, tapi caranya itu kan juga itu perlu menjadi pelajaran bagi kita semua kan. Misalnya, hindarilah menggunakan kata-kata yang tidak sopan atau kurang baik. Ini berlaku untuk siapa pun ya, tidak hanya untuk adik saya yang dari BEM UGM,” lanjutnya.
Mengenai ancaman teror, intimidasi pesan singkat, hingga penguntitan yang dialami Ketua BEM UGM dan keluarganya, Prasetyo mengaku belum mengetahui secara pasti siapa pelakunya. Namun, ia memastikan bahwa konstitusi tetap menjamin kebebasan berpendapat.
“Kalau teror kita enggak tahulah siapa yang meneror ya. Tapi kalau berkenaan dengan apa yang disampaikan konstitusi kan menjamin kebebasan berpendapatnya ya. Maka sekali lagi yang bisa kita sarankan ya sampaikanlah dengan arif caranya, jalurnya yang bijak dan pemilihan diksi mungkin juga itu penting,” ujarnya.
Prasetyo menekankan pemilihan kata yang tepat sangat penting agar masukan yang diberikan mahasiswa bisa menjadi bahan pembelajaran yang konstruktif bagi pemerintah.
Terkait desakan agar negara memberikan atensi khusus terhadap keselamatan para aktivis yang diteror, Mensesneg menjanjikan akan melakukan pengecekan lebih lanjut.
“Ya nanti kita kita cek lah,” ucapnya.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."












