Penjelasan Presiden Trump Mengenai Perang AS terhadap Iran
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, akhirnya mengungkapkan alasan di balik serangan besar-besaran yang dilancarkan oleh negaranya terhadap wilayah Iran. Serangan ini, yang diberi nama Operation Epic Fury (Operasi Amukan Epik), dimulai pada 28 Februari 2026 dan melibatkan kolaborasi antara AS dan Israel. Dalam peristiwa tersebut, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas, sehingga memicu reaksi balasan dari Iran.
Iran segera merespons dengan menyerang pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Bahkan hingga saat ini, Iran terus mengirimkan ratusan rudal yang menyerang wilayah Israel. Konflik ini kini semakin memanas dan telah menyebar ke wilayah Lebanon, memperlihatkan eskalasi yang signifikan.
Trump menjelaskan bahwa alasan utama penyerangan adalah untuk menghentikan ancaman yang berasal dari rezim Iran. Ia menyatakan bahwa langkah tersebut dilakukan setelah Iran mengabaikan peringatan pasca operasi sebelumnya, “Operation Midnight Hammer”, yang menargetkan fasilitas nuklir Iran.
Empat Tujuan Utama Perang AS terhadap Iran
Dalam upacara penganugerahan Medal of Honor, Trump mengungkapkan empat tujuan utama dari intervensi militer yang sedang berlangsung:
-
Menghancurkan gudang senjata dan pabrik pembuatan rudal balistik Iran
Trump menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah menghancurkan kemampuan rudal Iran yang dianggap mengancam pangkalan militer AS dan daratan Amerika. Ia juga mengklaim bahwa AS telah menenggelamkan sedikitnya 10 kapal perang Iran ke dasar laut. -
Menghentikan program nuklir Iran selamanya
Trump menekankan bahwa ia ingin memastikan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Ia kembali mengkritik kesepakatan nuklir era Obama (JCPOA) yang ia anggap sebagai “dokumen berbahaya”. -
Menghentikan kemampuan Iran untuk mendanai dan mengarahkan kelompok proksi
Trump menilai bahwa Iran menggunakan kelompok proksi untuk memperluas pengaruhnya di luar perbatasan mereka. Ia menegaskan bahwa hal ini harus dihentikan. -
Mengatasi ancaman sejarah selama 47 tahun
Trump mengaitkan operasi militer ini dengan dendam sejarah selama 47 tahun, di mana ia menuduh rezim Iran bertanggung jawab atas kematian dan luka-luka yang dialami tentara Amerika melalui bom pinggir jalan (IED). Ia secara spesifik menyebut Jenderal Qasem Soleimani — yang tewas dalam serangan udara AS pada masa jabatan pertama Trump — sebagai “bapak bom pinggir jalan”.
Ancaman Terbaru dan Proyeksi Durasi Perang
Trump kembali memberikan ancaman terbarunya kepada Iran dalam wawancaranya dengan CNN. Ia menyatakan bahwa “gelombang besar” serangan militer AS masih akan datang. “Kami sedang menghancurkan mereka (Iran). Segalanya berjalan sangat baik dan sangat kuat,” ujarnya.
Meskipun awalnya diproyeksikan memakan waktu empat hingga lima minggu, militer AS siap bertahan lebih lama jika diperlukan. Trump menepis anggapan media bahwa dirinya akan “bosan” dengan konflik ini. “Saya tidak akan bosan. Tidak ada yang membosankan tentang hal ini,” katanya.
Pengaruh terhadap Struktur Kekuasaan di Iran
Menurut Trump, kepemimpinan militer Iran telah berhasil dilumpuhkan jauh lebih cepat dari jadwal semula. Ia mengklaim setidaknya 49 pejabat tinggi Iran tewas dalam gelombang serangan awal. “Kami telah melumpuhkan 49 pemimpin mereka. Saat ini, mereka sendiri bingung siapa yang memimpin negara,” ujarnya.
Trump juga menyatakan bahwa Washington mendukung rakyat Iran untuk merebut kembali kedaulatan negara mereka dari rezim saat ini. Namun, ia memberikan peringatan keamanan yang serius bagi warga sipil. “Kami ingin semua orang tetap berada di dalam rumah. Saat ini tidak aman di luar sana, dan situasinya akan menjadi jauh lebih berbahaya dalam waktu dekat,” pungkasnya.












