Akademisi UNAS: Sjafrie Sjamsoeddin Jadi Matahari Baru Pilpres 2029



JAKARTA – Seorang akademisi dari Universitas Nasional (UNAS) Jakarta, Firdaus Syam, menyatakan bahwa Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin memiliki potensi untuk menjadi tokoh baru yang muncul dalam Pilpres 2029. Menurutnya, Sjafrie memiliki peluang sebagai “matahari baru” dalam kontestasi politik lima tahun mendatang.

“Dalam budaya politik Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin memiliki peluang besar untuk menjadi tokoh baru dalam Pilpres 2029. Hal ini disebabkan oleh posisinya yang strategis dan karakter petarungnya, yang berasal dari daerah Indonesia Timur,” ujar Firdaus Syam dalam sebuah diskusi publik yang diadakan oleh DPP Indonesia Youth Congress dengan tema “Posisi Menhan Sjafrie Sjamsoeddin dalam Pilpres 2029: Jabatan Strategis dan Modal Politik” di Tamarin Hotel, Jakarta Pusat, Senin, 2 Maret 2026.

Firdaus menekankan bahwa sosok Sjafrie adalah seorang pejuang dan petarung. Ia mengatakan bahwa orang-orang dari Sulawesi, seperti Bj. Habibie, Yusuf Kalla, Amir Yusuf hingga Sjafrie Sjamsoeddin, memiliki sifat berani, cerdas, dan tangguh.

Di sisi lain, Gian Kasogi, peneliti politik milenial dan penulis buku Demokrasi dan Populisme Islam, menyatakan bahwa Sjafrie Sjamsoeddin merupakan bagian dari elite politik yang memiliki posisi strategis dan jaringan inti Presiden Prabowo Subianto.

Hasil survei terbaru lembaga Indonesian Public Institute (IPI) menunjukkan bahwa sejumlah wajah baru masuk dalam bursa bakal calon presiden 2029. Salah satu nama yang muncul adalah Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, bersama dengan beberapa gubernur dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

“Berdasarkan hasil survei terbaru kami, sejumlah wajah-wajah baru masuk dalam bursa bakal capres 2029 seperti Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi hingga Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa,” ujar Peneliti IPI Abdan Sakura dalam konferensi pers rilis hasil survei bertajuk Peta Elektabilitas Calon Presiden 2029 di Semanggi, Jakarta, Senin (9/2/2026).

Menurut survei tersebut, Sjafrie Sjamsoeddin berada di urutan ke-7 dengan tingkat elektabilitas sebesar 7,5 persen, disusul oleh Purbaya Yudhi Sadewa (4,9 persen) dan Sherly Tjoanda (3,8 persen). Elektabilitas Sjafrie Sjamsoeddin bersaing ketat dengan sejumlah tokoh kepala daerah, seperti Mantan Gubernur Jakarta Anies Baswedan (8,5 persen), Gubernur Jakarta saat ini Pramono Anung (7,8 persen), dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (7,9 persen).

Abdan menjelaskan bahwa munculnya wajah-wajah baru tidak terlepas dari beberapa faktor yang memengaruhi elektabilitas mereka, termasuk kepemimpinan, ketokohan, rekam jejak, publikasi media, integritas, visi-misi, serta program kerja.

Ia mencontohkan empat indikator yang memperkuat elektabilitas Sjafrie Sjamsoeddin, antara lain kepemimpinan dan ketokohannya sebesar 44 persen, rekam jejak kepemimpinan 17 persen, rekomendasi lingkungan dan media 12 persen, serta integritas 10 persen.

Selain itu, Abdan menyebutkan bahwa tokoh-tokoh seperti Pramono Anung, Dedi Mulyadi, dan Syafri Syamsuddin tampil sebagai figur potensial yang memperoleh penilaian kelayakan cukup kuat, meski belum sepenuhnya terkonversi menjadi dukungan elektoral.

“Celah inilah yang membuka ruang bagi dinamika politik baru—terutama jika terjadi krisis, perubahan peta koalisi, atau absennya ‘pemain utama’. Sementara itu, rendahnya elektabilitas sejumlah tokoh populer menegaskan bahwa popularitas semata tidak lagi cukup di tengah pemilih yang semakin rasional dan kontekstual,” ujar dia.

Lebih lanjut, Abdan mengatakan bahwa di puncak elektabilitas dikuasai oleh Prabowo Subianto dengan angka 22,3 persen. Angka tersebut jauh melampaui tokoh lainnya. Elektabilitas Gibran Rakabuming Raka berada di urutan kedua dengan 12,2 persen, sedangkan Ganjar Pranowo mencapai 9 persen.

“Nama-nama besar masih mendominasi persepsi publik, seperti Prabowo Subianto, Gibran Rakabuming Raka, Ganjar Pranowo, dan Anies Baswedan menempati posisi teratas baik dalam penilaian kelayakan maupun elektabilitas, menunjukkan kuatnya pengaruh kekuasaan, kontinuitas elite, dan eksposur media dalam imajinasi pemilih. Namun, jarak antara tingkat kelayakan yang tinggi dan elektabilitas yang relatif moderat mengindikasikan satu hal penting, publik mengenal dan menilai, tetapi belum sepenuhnya menjatuhkan pilihan,” pungkas Abdan.

Survei Indonesian Public Institute (IPI) digelar dari 30 Januari 2026 hingga 5 Februari 2026 terhadap 1.241 responden yang merupakan masyarakat berusia 17 tahun hingga 65 tahun dan berasal dari 35 provinsi di Indonesia. Teknik sampling yang digunakan adalah Multistage Random Sampling, yaitu teknik sampling di mana pemilihan sampel dilakukan dalam beberapa tahap (stage), dari unit besar ke unit yang lebih kecil, dan setiap tahap dilakukan secara acak (random). Sampel berasal dari 35 provinsi di Indonesia yang terdistribusi secara proporsional. Margin of error dari ukuran sampel tersebut sebesar 2,78% pada tingkat kepercayaan ± 95 persen.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?