Sejarah dan Keunikan Masjid Jami Tua Palopo
Masjid Jami Tua Palopo, yang berada di Kota Palopo, Sulawesi Selatan, merupakan salah satu bangunan bersejarah yang memiliki nilai historis dan budaya yang tinggi. Dibangun sekitar tahun 1603 M, masjid ini menjadi simbol peradaban Islam di wilayah Luwu. Berbagai elemen arsitektur dan filosofi yang terkandung dalam bangunan ini masih terjaga hingga saat ini.
Arsitektur yang Menggambarkan Filosofi
Masjid ini memiliki struktur yang sangat unik. Tiang-tiang kayu tua yang masih kokoh berdiri, dinding dari batu cadas yang dipotong rapi, serta atap bertingkat tiga dengan konsep filosofi tellue poccé masih terlihat jelas. Filosofi tellue poccé dalam bahasa Bugis melambangkan persaudaraan di Tanah Luwu.
Batu-batu yang digunakan untuk dinding berasal dari pegunungan Tana Toraja. Teknik penyusunan batu menggunakan campuran putih telur dan kapur sebagai perekat, sehingga ketebalan dinding mencapai sekitar satu meter. Hal ini menunjukkan kemampuan arsitektur yang luar biasa pada masa itu.
Atap awalnya terbuat dari kulit kerang atau mutiara laut yang berwarna putih mengilap, namun seiring waktu diganti dengan sirap kayu. Masjid hanya memiliki satu pintu utama, yang melambangkan satu kebenaran dan satu jalan lurus dalam ajaran Islam.
Di bagian dalam masjid terdapat lima tiang utama yang dimaknai sebagai simbol lima Rukun Islam. Sementara itu, enam jendela ventilasi kecil melambangkan enam Rukun Iman. Salah satu tiang utama di tengah disebut “Cina Duri” atau “Cinga Duri”. Tiang tersebut kini dilindungi pagar kaca karena sering diambil oleh pengunjung yang percaya memiliki khasiat tertentu.
Fungsi Sejarah dan Kini Menjadi Ikon Kota
Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga pernah menjadi lokasi penting dalam tradisi kerajaan. Para Datu Luwu yang wafat biasanya disalatkan terlebih dahulu di masjid ini sebelum dimakamkan. Kini, Masjid Jami Tua Palopo tidak hanya berfungsi sebagai rumah ibadah, tetapi juga menjadi ikon Kota Palopo yang ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan hingga mancanegara.
Pengalaman Pengunjung
Guntur (43), warga Kabupaten Wajo, sering singgah di masjid ini setiap kali melintas menuju Kota Palopo. Bersama keluarganya, ia memilih beristirahat sekaligus menunaikan salat di sini. Ia mengatakan bahwa masjid ini luas, bersih, dan nyaman. Ia juga membawa anak-anaknya agar mereka bisa belajar tentang sejarah masjid tertua di Sulawesi Selatan.
Giska, warga lainnya, mengaku merasakan ketenangan setiap kali beribadah di masjid ini. Ia menyebut ornamen dan mimbarnya masih asli dari zaman dulu. Menurutnya, keberadaan bangunan asli yang masih dipertahankan menjadi sarana edukasi bagi generasi muda.
Penjelasan Imam Masjid
Imam Masjid Jami Tua Palopo, Radhi Nur, menjelaskan bahwa setiap bagian bangunan memiliki makna filosofis mendalam. Menurutnya, pembangunan masjid ini membutuhkan waktu yang cukup lama, baik 40 hari 40 malam atau tujuh hari tujuh malam. Namun yang jelas, teknik penyusunan batu menunjukkan kemampuan arsitektur yang luar biasa pada masa itu.
Masjid yang berada di Jalan Andi Machulau, Kelurahan Batupasi, Kecamatan Wara Utara, Kota Palopo ini diperkirakan dibangun sekitar tahun 1603 M. Lokasinya tidak jauh dari Istana Kedatuan Luwu atau Sao LangkanaE, yang dahulu menjadi pusat pemerintahan Kedatuan Luwu di kawasan Lalebbata.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."












