SURABAYA — Ribuan jemaah umrah yang berasal dari Provinsi Jawa Timur kini menghadapi ancaman penundaan keberangkatan mereka menuju Tanah Suci. Hal ini terjadi akibat konflik bersenjata antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran yang memicu ketegangan di kawasan Jazirah Arab.
Plt. Kepala Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kanwil Jawa Timur, Asadul Anam, menjelaskan bahwa pemerintah pusat telah mengeluarkan imbauan untuk menunda keberangkatan jemaah pada Minggu (1/3/2026). Saat ini, pihaknya sedang melakukan pendataan secara menyeluruh terhadap para jemaah asal Jawa Timur yang terdampak oleh kebijakan tersebut.
“Sudah mengeluarkan statement yang melalui Pak Wakil Menteri Haji [Dahnil Anzar Simanjuntak] untuk menunda keberangkatan. Nah, ini sedang kita himpun,” ujar Anam, Selasa (3/3/2026).
Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Pengelolaan Terpadu Umrah dan Haji Khusus (Siskopatuh), terdapat sekitar 2.100 jemaah asal Jawa Timur yang sudah tercantum dalam daftar keberangkatan. Meskipun demikian, Anam menegaskan bahwa teknis operasional keberangkatan ribuan jemaah tersebut sepenuhnya berada di tangan masing-masing biro perjalanan atau Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU). Pihaknya hanya bertugas untuk mengontrol dan memantau proses keberangkatan menuju Arab Saudi.
“Daftar di Siskopatuh, ada sekitar 2.100 jemaah yang sudah mendaftar di Nusuk Masar, dan akan berangkat pada hari-hari ke depan. Kita belum tahu karena teknisnya [keberangkatan jemaah] berada di otoritas PPIU, bukan di kita, tapi tetap kita pantau untuk proses keberangkatan, dan sebagainya seperti apa,” tambahnya.
Anam juga menyampaikan bahwa saat ini pihaknya belum dapat menentukan waktu pasti keberangkatan ribuan jemaah tersebut. Hal ini disebabkan oleh eskalasi konflik di kawasan Jazirah Arab yang masih belum dapat dipastikan kapan akan mereda atau kondusif sepenuhnya. Oleh karena itu, Kemenhaj akan terus melakukan pengawasan secara ketat dengan mempertimbangkan tingkat ketegangan yang terjadi saat ini.
“Kita juga tidak tahu sampai kapan berakhirnya konflik di Timur Tengah itu. Yang saya kira harus diperhatikan adalah aspek eskalasinya. Kalau nanti eskalasinya ini semakin tinggi, saya kira akan lebih diperketat terkait dengan itu [keberangkatan jamaah ke Tanah Suci],” ujarnya.
Selain itu, Anam mengimbau agar para jemaah tetap tenang dan aktif mencari informasi terbaru melalui PPIU yang menaungi perjalanan mereka. Komunikasi yang intensif antara jamaah dan PPIU diharapkan dapat berlangsung jelas dan transparan.
Sebelumnya, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) telah mengimbau jemaah umrah untuk menunda jadwal keberangkatannya di tengah memanasnya konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS). Pemerintah meminta jemaah untuk menunggu hingga kondisi kembali kondusif.
Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk kehati-hatian pemerintah dalam memastikan keamanan warga negara. Sejalan dengan itu, pemerintah mencermati perkembangan situasi keamanan di kawasan Timur Tengah yang kian dinamis dan tidak menentu.
“Mempertimbangkan kondisi Timur Tengah yang tidak menentu dan eskalasinya semakin tinggi, kami mengimbau jemaah umrah yang akan berangkat dalam waktu dekat untuk menunda keberangkatannya,” ujar Dahnil dalam keterangan resmi, Minggu (1/3/2026).
Pemerintah juga meminta seluruh jemaah umrah yang saat ini berada di Arab Saudi maupun keluarga di Tanah Air agar tetap tenang dan tidak panik. Dahnil menegaskan bahwa Kementerian Haji dan Umrah bersama Kementerian Luar Negeri terus berkoordinasi dengan otoritas Arab Saudi, maskapai penerbangan, serta Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) guna memastikan jemaah yang mengalami penundaan kepulangan dapat tertangani dengan baik.
“Kami terus berkoordinasi dengan pihak Arab Saudi, maskapai, dan PPIU agar jemaah yang tertunda kepulangannya dapat ditampung di hotel maupun tempat-tempat lain yang aman dan layak,” ujarnya.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."












