Pengusulan Boki Fatimah sebagai Pahlawan Nasional Kembali Digebrak
Usulan untuk mengangkat Boki Fatimah atau Princess Van Kasiruta, putri Sulatan Bacan ke-18, Oesman Sadik, sebagai pahlawan nasional kembali mendapat perhatian. Inisiatif ini muncul setelah sebuah FGD yang berlangsung di Aula Kantor Bupati Halmahera Selatan pada Sabtu (7/3/2026) membahas perannya dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.
FGD tersebut diinisiasi oleh Generasi Muda Kesultanan Bacan atau Gema Suba dengan tema “Satu Perempuan untuk Kebangkitan Jurnalis Nusantara”. Acara ini menghadirkan sejumlah narasumber seperti sejarawan Unkhair Ternate Irfan Ahmad, Wakil Bupati Halmahera Selatan Helmi Umar Muchsin, dan Ompu Juru Tulis Raa Kesultanan Bacan Ibnu Tufail Iskandar Alam.
Sebelumnya, usulan Boki Fatimah sebagai pahlawan nasional juga telah digaungkan oleh komunitas literasi di Halmahera Selatan saat menyelenggarakan event Bacan Membaca (Babaca) pada 2023 lalu. Selain Boki Fatimah, Sultan Bacan ke-18, Oesman Sadik, juga masuk dalam daftar pengusulan.
Profil Boki Fatimah
Boki Fatimah atau Princess van Kasiruta adalah istri dari Bapak Pers Nasional, Tirto Adhi Soerjo.
Tirto dan Fatimah bertemu saat Tirto melakukan perjalanan ke Pulau Bacan dan berkenalan dengan keluarga kesultanan. Mereka menikah pada tahun 1905.
Selama tinggal di Pulau Bacan, pengalamannya memperkuat ide Tirto untuk menerbitkan surat kabar Medan Prijaji. Medan Prijaji dikenal sebagai perintis pers di bumi Nusantara dan surat kabar nasional pertama di Indonesia. Boki Fatimah disebut terlibat dalam pendirian dan penerbitan surat kabar ini pada awal tahun 1907.
Sultan Oesman Sadik, ayah Boki Fatimah, turut memberi modal penerbitan surat kabar Medan Prijaji. Bersama Tirto Adhi Soerjo, Oesman mengupayakan Medan Prijaji berbadan hukum dan membentuk perusahaan N.V. Medan Prijaji pada 1908.
Di Medan Prijaji, Boki Fatimah menjadi salah satu anggota redaksi. Ia pandai membaca dan menulis dalam Bahasa Melayu serta Bahasa Belanda. Medan Prijaji adalah media pertama berbahasa Melayu yang menyuarakan semangat nasionalisme Indonesia yang saat itu masih benih.
Peran lebih sentral dijalankan Boki Fatimah saat Tirto merilis surat kabar berikutnya, Poetri Hindia, yang terbit di Betawi (Jakarta) sejak 1 Juli 1908. Nama Boki Fatimah juga diabadikan dalam novel trilogi Pramoedya Ananta Toer berjudul Jejak Langkah.
Peran Boki Fatimah dalam Jurnalistik
Dalam sejarah jurnalistik, Boki Fatimah dikenal sebagai istri Tirto Adhi Soerjo yang berperan sebagai redaktur surat kabar Medan Prijaji. Perannya tidak hanya terbatas pada penulisan, tetapi juga pada penyiaran semangat nasionalisme melalui media yang ia kelola.
Respons Bupati Halmahera Selatan
Bupati Halmahera Selatan, Bassam Kasuba, saat membuka FGD tersebut, mengapresiasi langkah Gema Suba mengusulkan Boki Fatimah sebagai pahlawan nasional. Ia menyatakan bahwa FGD ini menjadi momentum penting untuk mengangkat kembali sosok jurnalis perempuan tersebut.
Bassam berharap, melalui diskusi bersama para narasumber dapat melahirkan gagasan serta memperkaya referensi sejarah mengenai jejak perjuangan Boki Fatimah. “Kita berharap melalui forum ini dapat menggali data dan referensi sejarah yang kuat sebagai dasar untuk mengusulkan Princess Van Kasiruta atau Boki Fatimah sebagai pahlawan perempuan nasional,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa peran perempuan dalam sejarah perjuangan bangsa sangat besar, termasuk dalam dunia pers. “Dan kemudian salah satu tokoh yang dinilai memiliki kontribusi penting adalah Boki Fatimah, yang dikenal sebagai pejuang pers perempuan dari Halmahera Selatan,” tegasnya.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”












