Apa Bedanya Pemimpin Tertinggi dan Presiden di Iran?

Peran dan Kekuasaan Supreme Leader dalam Sistem Pemerintahan Iran

Iran memiliki dua figur puncak dalam struktur pemerintahannya, yaitu supreme leader dan presiden. Meskipun keduanya dianggap sebagai pemimpin negara, tidak berarti mereka memiliki otoritas yang setara. Sejak Revolusi Islam 1979, Iran dirancang sebagai negara teokratis di mana ulama tertinggi memegang otoritas absolut di atas semua cabang kekuasaan, termasuk eksekutif yang dipimpin oleh presiden.

Posisi supreme leader, atau dalam bahasa Persia disebut Rahbar, adalah jabatan tertinggi dalam sistem pemerintahan Iran. Jabatan ini lahir dari konsep teologi Syiah yang disebut Velayat-e Faqih, atau kepemimpinan ahli hukum Islam, yang digagas oleh pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini.

1. Supreme Leader: Pemimpin Seumur Hidup yang Tak Dipilih Rakyat

Konsep Velayat-e Faqih (Perwalian Ahli Hukum Islam) menempatkan seorang ulama terkemuka sebagai wali tertinggi negara selama era kegaiban Imam Mahdi dalam keyakinan Syiah. Supreme leader berwenang mengendalikan angkatan bersenjata, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), lembaga kehakiman, serta media dan penyiaran negara. Ia pula yang menetapkan arah besar kebijakan luar negeri Iran, termasuk program nuklir dan hubungan dengan negara-negara Barat.

Supreme leader memiliki hak veto tidak langsung atas hampir semua kebijakan strategis negara melalui lembaga-lembaga yang berada di bawah kendalinya. Berbeda dari presiden, supreme leader tidak dipilih melalui pemilu rakyat. Ia dipilih oleh Majelis Ahli, sebuah dewan yang terdiri dari 88 ulama senior, dan menjabat seumur hidup.

Kini, posisi tersebut dipegang oleh Mojtaba Khamenei, putra dari pemimpin sebelumnya, Ali Khamenei, yang resmi ditunjuk pada 8 Maret 2026. Mojtaba Khamenei tidak pernah maju dalam pemilu apapun, namun selama puluhan tahun memang dikenal sebagai figur yang berpengaruh di lingkaran dalam sang ayah dengan hubungan erat ke IRGC.

2. Presiden: Kepala Pemerintahan yang Dipilih, Tapi Terbatas Kewenangannya

Presiden Iran adalah kepala pemerintahan yang bertanggung jawab atas urusan eksekutif sehari-hari: mengelola kabinet, mengusulkan anggaran negara, serta menjalankan kebijakan domestik di bidang ekonomi, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat. Presiden memimpin rapat kabinet dan bertanggung jawab langsung atas implementasi undang-undang yang disahkan parlemen.

Presiden dipilih langsung oleh rakyat setiap empat tahun sekali dan dapat menjabat maksimal dua periode. Namun sebelum nama mereka muncul di surat suara, semua kandidat harus mendapat persetujuan dari Dewan Wali. Itu adalah sebuah badan yang terdiri dari enam ahli hukum Islam yang ditunjuk langsung oleh supreme leader dan enam hakim yang direkomendasikan oleh kepala kehakiman.

Proses seleksi kandidat oleh Dewan Wali kerap menggugurkan calon reformis atau moderat, sehingga pilihan yang tersedia bagi pemilih sudah terlebih dahulu disaring secara ideologis.

Presiden Iran saat ini adalah Masoud Pezeshkian, seorang dokter bedah jantung yang memenangkan pemilihan pada Juli 2024 dengan mengusung platform moderat. Meski berjanji memperbaiki hubungan Iran dengan dunia internasional, ruang geraknya dalam kebijakan besar tetap dibatasi oleh garis yang ditetapkan supreme leader. Banyak analis menilai kemampuan Pezeshkian mendorong agenda moderatnya sangat bergantung pada toleransi dari supreme leader, bukan semata mandat dari pemilihnya.

3. Siapa yang Lebih Berkuasa? Jawabannya Sudah Jelas

Dalam konstitusi Iran, supreme leader secara eksplisit berada di atas presiden. Pasal 110 secara gamblang menguraikan kewenangannya yang mencakup penetapan kebijakan umum negara, pengawasan atas pelaksanaannya, hingga kekuasaan untuk memecat presiden melalui mekanisme tertentu.

Tidak ada satu pun keputusan strategis besar Iran, dari negosiasi nuklir hingga kebijakan kawasan di Timur Tengah, yang dapat berjalan tanpa restu supreme leader. Perbandingan sederhananya: jika di banyak negara terdapat pemisahan antara kepala negara dan kepala pemerintahan, di Iran supreme leader menjalankan keduanya secara de facto. Presiden hanya mengelola operasional negara dalam koridor yang sudah ditentukan oleh sang pemimpin tertinggi.

Sejumlah presiden Iran yang pernah mencoba mendorong agenda berbeda dari supreme leader, seperti Mohammad Khatami di era reformasi, pada akhirnya menghadapi jalan buntu karena kalah wewenang secara struktural.

Memahami perbedaan antara supreme leader dan presiden di Iran penting untuk membaca dinamika politik negeri tersebut secara utuh. Pergantian supreme leader kepada Mojtaba Khamenei menandai babak baru dalam sejarah Republik Islam Iran. Namun satu hal tidak berubah: dalam sistem ini, presiden boleh berganti, tapi kendali sesungguhnya selalu ada di tangan satu orang.

Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?