Peran Air dalam Kehidupan dan Tantangan Pengelolaannya
Air merupakan elemen penting dalam kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan. Secara kimiawi, air terdiri dari dua atom hidrogen (H) dan satu atom oksigen (O), dengan rumus molekul H2O. Di alam semesta, air ditemukan dalam tiga bentuk: padat, cair, dan gas. Meskipun jumlah total air di Bumi tetap, yaitu sekitar 1.385.984.610 km³, komposisi air berbeda. Hanya 2,5 persen dari total tersebut adalah air tawar, sementara 96,5 persen berupa air laut.
Peringatan Hari Air Sedunia yang diperingati setiap tanggal 22 Maret bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya air bersih dan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan. PBB pertama kali meresmikan peringatan ini pada tahun 1993, dan sejak itu menjadi momentum global untuk mendorong aksi nyata dalam konservasi air dan pembangunan berkelanjutan.
Studi Kasus di Desa Pattirodeceng, Kecamatan Camba, Kabupaten Maros
Salah satu studi kasus yang dilakukan adalah di Desa Pattirodeceng, Kecamatan Camba, Kabupaten Maros. Dulu, ketersediaan air di wilayah ini cukup melimpah. Namun, beberapa tahun terakhir, warga mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, terutama saat musim kemarau. Berdasarkan testimoni warga lama, kondisi ini berawal dari alih fungsi lahan hutan kemiri menjadi kebun palawija.
Pohon kemiri (Aleurites moluccana) memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan air. Daun pohon ini mampu menangkap air hujan secara optimal karena batang yang tinggi dan ranting yang lebar. Akar pohon yang kokoh juga membantu menyerap air hujan ke dalam tanah, menciptakan jaringan rongga yang memudahkan peresapan air kembali ke bawah permukaan.
Ketersediaan Air di Pulau Bonerate, Selayar
Di Pulau Bonerate, Kecamatan Pasimarannu, Kabupaten Kepulauan Selayar, keberadaan vegetasi Jambu Monyet (Anacardium occidentale) menjadi berkah. Tanaman ini tumbuh subur di atas lahan cadas dan berbatu-batu, serta berperan dalam alur hidrologi alami. Meski ketersediaan air tawar cukup mendukung di beberapa titik, intrusi air laut menjadi tantangan utama, terutama di dusun seperti Majapahit dan Lamentu.
Untuk mengatasi keterbatasan air, pendekatan teknologi Reverse Osmosis (RO) digunakan. Keterbatasan energi listrik di pulau ini diatasi dengan pemanfaatan energi surya dan bayu. Pilot project ini menggunakan panel surya untuk menggerakkan pompa dan peralatan filter serta sinar UV. Hasilnya sangat menggembirakan, bahkan mitra PKM BEM Berdampak Universitas Bosowa mulai menjajaki usaha Depot Air Isi Ulang untuk mensupplai wilayah lain seperti Pulau Lambego.
Tantangan dan Solusi di Berbagai Wilayah
Fenomena keterbatasan air tidak hanya terjadi di Camba, Mallawa, dan Pulau Bonerate, tetapi juga bisa terjadi di berbagai pelosok Nusantara. Bahkan, kasus serupa bisa ditemui di belahan Bumi lain yang memiliki keterbatasan akses air bersih.
Ketahanan air (water resilience) adalah kemampuan suatu sistem untuk menghadapi, menanggapi, dan pulih dari gangguan terkait air, seperti kekeringan, banjir, atau polusi. Di Pulau Jinato, Selayar, masyarakat yang tinggal di sana harus hidup dengan sumber air yang terbatas. Keberanian alih fungsi lahan hutan kemiri menjadi kebun palawija di dataran Camba, Maros, berdampak pada kurangnya pasokan air bersih di musim kemarau.
Pendekatan Holistik untuk Menjaga Keseimbangan Alam
Untuk menghadapi tantangan ini, diperlukan pendekatan holistik tentang bagaimana hidup berdamai dengan alam. Studi tentang pulau-pulau karang seperti Jinato di Kawasan Taka Bonerate sangat penting. Salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah penanaman Jambu Monyet secara massif.
Sementara itu, di Camba, upaya untuk mengembalikan kejayaan Hutan Kemiri dimasa lalu diperlukan. Selain itu, program intensifikasi dapat membantu warga tetap mempertahankan sumber pendapatan dari ladang palawija. Kasus di Kampung Satoa bisa menjadi alarm tentang urgensi keberadaan Hutan Kemiri.
Wilayah Cagar Alam Karaen hingga Camba sampai Mallawa adalah hamparan hutan tropis sebagai wilayah tangkapan air yang harus dijaga kelestariannya. Langkah kecil ini, jika dilakukan secara konsisten, bisa berdampak besar bagi penduduk bumi. Allahu Alam bi syawab.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”












