Penghematan Anggaran sebagai Respons terhadap Krisis Energi Global
Pemerintah Indonesia sedang merancang langkah-langkah penghematan anggaran sebagai respons terhadap dinamika geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk menjaga stabilitas keuangan negara di tengah potensi krisis energi dan ekonomi. Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan untuk efisiensi besar-besaran, termasuk penerapan kerja dari rumah (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan potensi pemotongan gaji pejabat.
Tujuan utama dari penghematan ini adalah untuk mencegah pemborosan dan korupsi, serta melindungi keuangan negara. Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiharto, menyampaikan bahwa pembahasan penghematan anggaran dilakukan secara lintas kementerian, termasuk melibatkan Kementerian Perekonomian. Tujuannya adalah merumuskan skema efisiensi yang tidak hanya berlaku di tingkat pusat tetapi juga berdampak pada pemerintah daerah.
Beberapa contoh skema penghematan yang disinggung oleh Presiden Prabowo antara lain penerapan WFH bagi ASN dan wacana pemotongan gaji menteri. Ia juga mengingatkan pemerintah daerah agar tidak menentang kebijakan efisiensi yang ditetapkan pemerintah pusat. “Jangan nantang-nantang pemerintah pusat, banyak biasa yang harusnya dilaksanakan oleh kabupaten dan provinsi, tidak dilaksanakan,” ujar Prabowo dalam diskusi di Hambalang, Bogor.
Cegah Pemborosan dan Korupsi
Presiden Prabowo menegaskan bahwa pemangkasan belanja negara yang tidak produktif bertujuan menutup celah penyimpangan serta potensi korupsi dalam pengelolaan APBN. Efisiensi besar-besaran menjadi langkah penting untuk menjaga keuangan negara dan melindungi uang rakyat. Penghematan tersebut dilakukan dengan menyisir berbagai pos belanja yang dinilai tidak memberikan manfaat nyata bagi masyarakat agar tidak menjadi beban keuangan negara.
Pastikan Pelayanan Publik Tidak Terganggu
Jaminan kelancaran layanan publik tetap menjadi prioritas pemerintah di tengah rencana penerapan kebijakan work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN). Tito Karnavian memastikan skema kerja fleksibel tersebut tidak akan mengganggu operasional pemerintahan di daerah. Kebijakan yang bertujuan untuk efisiensi konsumsi BBM ini dipastikan tetap mengedepankan operasional layanan esensial yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
“Kemendagri itu 25 persen, WFO jalan juga. Jadi, bukan sesuatu yang baru, tapi kita punya pengalaman,” tegasnya. Tito menjelaskan bahwa Kemendagri memiliki rekam jejak yang baik dalam mengelola pegawai saat pembatasan mobilitas di masa pandemi. Menurutnya, roda pemerintahan tetap berjalan efektif meski mayoritas pegawai bekerja dari rumah.
IESR Singgung 4 Prioritas
Satu pekan setelah libur Lebaran 2026, Pemerintah berencana menerapkan kebijakan Work From Home (WFH) selama satu hari dalam sepekan. Kebijakan WFH ini dimaksudkan untuk menahan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) seiring kenaikan harga global akibat konflik Amerika Serikat (AS) – Israel dan Iran. Namun kebijakan WFH yang rencananya diberlakukan Pemerintah ini dinilai bukan satu-satunya jawaban dari kenaikan harga energi global akibat perang AS-Israel dan Iran ini.
CEO Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menilai bahwa kebijakan WFH perlu diposisikan secara proporsional karena manfaatnya lebih ke arah segmen perjalanan kerja. Kebijakan WFH disebut hanya berdampak terbatas terhadap total konsumsi BBM nasional, mengingat konsumsi energi Indonesia juga berasal dari kegiatan logistik, angkutan barang, perjalanan antarkota, dan aktivitas ekonomi non-perkantoran, seperti industri.
IESR mengusulkan empat prioritas kebijakan yang harus segera dilaksanakan pemerintah untuk merespons tekanan harga BBM akibat eskalasi konflik Amerika Serikat-Israel versus Iran. Pertama, menetapkan protokol penghematan energi nasional untuk kantor pemerintah, BUMN, dan sektor swasta yang memungkinkan. Di antaranya, WFH, pembatasan perjalanan dinas non-prioritas, pengurangan pemakaian kendaraan dinas, serta mengutamakan pertemuan-pertemuan daring.
Kebijakan Jangka Panjang
IESR juga menyarankan sejumlah agenda untuk ketahanan energi di Indonesia dalam jangka panjang. Pertama, Indonesia perlu memperbesar cadangan strategis dan kapasitas penyimpanan energi nasional agar memiliki bantalan yang memadai saat terjadi guncangan pasokan global. Kedua, Indonesia harus mengurangi ketergantungan sistemik pada BBM impor melalui penguatan transportasi publik, percepat adopsi kendaraan listrik, dan pengembangan bioenergi berkelanjutan.
Dalam hal ini, Indonesia juga perlu mempertegas standar efisiensi energi. Salah satunya, dengan penerapan fuel economy standard untuk seluruh tipe kendaraan. Ketiga, Indonesia perlu mempercepat pembangunan energi terbarukan, akselerasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap untuk semua segmen pelanggan dan bangunan. Selain itu, memperkuat jaringan listrik supaya lebih fleksibel dan mengembangkan sistem penyimpanan energi agar kebutuhan maupun harga energi domestik semakin sedikit disetir volatilitas pasar minyak dunia.
Keempat adalah penataan kota untuk mendukung sistem mobilitas yang lebih hemat energi melalui integrasi antarmoda dan transit-oriented development. Penataan ruang difokuskan untuk mengurangi kebutuhan perjalanan harian berbasis kendaraan pribadi. Jadikan ketahanan energi sebagai agenda keamanan ekonomi nasional sehingga transisi energi dipandang bukan hanya sebagai isu iklim, tetapi juga sebagai strategi perlindungan fiskal, industri, dan daya beli masyarakat.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”












