Peran Pulau-Pulau di Sekitar Selat Hormuz dalam Konflik
Pulau-pulau yang berada di sekitar Selat Hormuz memiliki peran penting dalam konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel. Salah satu pulau yang menjadi fokus utama adalah Pulau Kharg. Pulau ini merupakan lokasi terminal ekspor minyak utama Iran, sehingga serangan terhadap infrastruktur minyak di sana dapat sangat membatasi pasokan minyak negara tersebut. Hal ini juga bisa menjadi tanda eskalasi besar yang berpotensi memicu serangan balasan dari pihak lain.
Pulau Kharg terletak hanya 33 kilometer dari pantai Iran, posisi yang strategis bagi pasukan AS jika mereka menduduki pulau tersebut. Selain itu, ada beberapa pulau lain di dekat Selat Hormuz yang juga bisa menjadi target, seperti Pulau Abu Musa, Tunb Besar, dan Tunb Kecil. Ketiga pulau ini dikuasai oleh Iran tetapi diklaim oleh Uni Emirat Arab (UEA). Sementara itu, Pulau Qeshm menjadi tempat pabrik desalinasi yang memasok air ke sejumlah desa.
Pulau Kharg: Pusat Ekspor Minyak Iran
Pulau Kharg adalah salah satu pulau terpenting di kawasan ini. Di sini terdapat terminal ekspor minyak yang digunakan untuk mengirimkan sebagian besar minyak Iran ke luar negeri, terutama ke China. Meskipun ada serangan-serangan yang mengganggu lalu lintas melalui Selat Hormuz, Iran masih terus mengekspor minyak melalui jalur ini.
Jika terminal di Pulau Kharg hancur atau hilang, maka sumber pendapatan utama Iran akan terganggu. Ini juga akan berdampak pada pasokan minyak dunia, terutama karena harga minyak sedang melonjak. Hancurnya terminal tersebut bisa merusak perekonomian Iran dan melemahkan pemerintahan masa depan.
Presiden AS Donald Trump pernah menyatakan bahwa serangan pada pertengahan Maret 2026 “menghancurkan” aset militer Kharg, meski tidak menargetkan infrastruktur minyak. Ia juga memperingatkan bahwa jika Iran terus mengganggu lalu lintas melalui Selat Hormuz, AS mungkin akan mempertimbangkan kembali keputusan untuk tidak menyerang target energi di pulau tersebut.
Pulau Abu Musa, Tunb Besar, dan Tunb Kecil
Tiga pulau kecil ini telah menjadi sumber ketegangan antara Iran dan UEA. Pasukan Iran merebut ketiga pulau tersebut pada November 1971, beberapa hari setelah Inggris menarik diri dari Teluk Persia. Iran mempertahankan aset militer di sana, sementara UEA mengklaim ketiga pulau tersebut. Pulau-pulau ini juga menjadi tempat latihan militer oleh Iran.
Pulau Qeshm: Rumah Bagi Pabrik Desalinasi
Pulau Qeshm adalah pulau terbesar di Teluk Persia dan terletak dekat Selat Hormuz. Di sini terdapat pabrik desalinasi yang memasok air ke sekitar 30 desa. Iran mengklaim bahwa AS menyerang pabrik desalinasi ini pada 8 Maret, sebuah klaim yang belum diakui oleh Washington.
Ancaman Trump dan Perang yang Berlangsung
Presiden Trump mengancam akan melakukan penghancuran besar-besaran terhadap sumber daya energi Iran dan infrastruktur vital jika kesepakatan untuk mengakhiri perang tidak segera tercapai. Dalam unggahan media sosialnya, ia menyatakan bahwa “kemajuan besar sedang dicapai” dalam pembicaraan dengan Iran. Namun, ia juga menegaskan bahwa jika kesepakatan tidak tercapai dan Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali, AS akan memperluas serangannya dengan “menghancurkan sepenuhnya semua pembangkit listrik, sumur minyak, dan Pulau Kharg”.
Perang yang berlangsung selama sebulan telah menyebar ke seluruh wilayah, menewarkan ribuan orang, mengganggu pasokan energi, dan menghantam ekonomi global. Harga minyak mentah Brent naik menjadi hampir $116 per barel, meningkat 2,8 persen pada hari Senin.
Peran Pakistan dalam Diplomasi
Pakistan bertindak sebagai perantara antara Teheran dan Washington. Negara ini sedang bersiap untuk menjadi tuan rumah “perundingan yang bermakna” dalam beberapa hari mendatang. Namun, belum jelas apakah AS dan Iran sudah setuju untuk hadir dalam perundingan tersebut.
Trump mengatakan bahwa ia pikir AS telah berhasil melakukan “perubahan rezim” di Teheran setelah serangan udara menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Namun, ia juga menyatakan bahwa pengganti Khamenei tampak “masuk akal”. Khamenei digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei.
Serangan Iran terhadap infrastruktur energi dan cengkeramannya pada Selat Hormuz, yang dilalui seperlima minyak dunia pada masa damai, telah menyebabkan harga minyak meroket. Harga spot minyak mentah Brent berada di sekitar $115, naik hampir 60 persen dari saat AS dan Israel memulai perang dengan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."












