Tugu Angklung, Simbol Kebanggaan dan Harapan Masa Depan
Tugu Angklung yang berdiri megah di simpang tiga Jl Cipari-Cisantana, Kecamatan Cigugur, menjadi saksi bisu atas kegigihan dan visi Bapa Urang, Bupati H Dian Rachmat Yanuar. Tidak hanya sebagai bentuk kebanggaan terhadap budaya lokal, tugu ini juga menjadi simbol bahwa Kuningan adalah Kabupaten Angklung yang memiliki identitas unik dan kaya akan warisan seni tradisional.
Peresmian Tugu Angklung dilakukan langsung oleh Bupati H Dian beberapa waktu lalu, menjelang lebaran Idul Fitri 1447 Hijriyah/2026 M. Acara tersebut dihadiri oleh Wakil Bupati Hj Tuti Andriani, para pejabat, kepala OPD, tokoh masyarakat, akademisi, seniman, serta organisasi masyarakat lainnya. Tidak hanya sekadar acara formal, peresmian ini menjadi momen penting dalam memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan budaya lokal.
Salah satu tokoh yang turut andil dalam pembuatan Tugu Angklung adalah Kepala Bidang (Kabid) Ekonomi Kreatif (Ekraf) dan Industri Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Kuningan, Dading Fajarudin. Ia mengaku selalu hadir sejak awal proses perencanaan hingga pengerjaan dan peresmian. Menurutnya, tugas ini tidak hanya tentang membangun monumen, tetapi juga memberikan makna yang lebih dalam terhadap nilai-nilai budaya yang telah lama hidup dalam masyarakat Sunda.
“Gagasan pembuatan Tugu Angklung ini berasal dari Bapak Bupati yang sudah lama diidamkan. Kini, gagasan itu menjadi kenyataan. Tugu Angklung bukan hanya simbol budaya, tetapi juga representasi doa, harapan, dan penghormatan terhadap warisan leluhur,” ujar Dading. Ia menekankan bahwa pembuatan tugu ini tidak menggunakan anggaran APBD, melainkan dibiayai secara mandiri oleh pihak-pihak yang peduli terhadap seni dan budaya.
Kehadiran Tugu Angklung di ruang publik diharapkan mampu mengingatkan generasi muda bahwa seni tradisi tidak hanya peninggalan masa lalu, tetapi juga kekuatan masa depan. Angklung, sebagai alat musik bambu diatonis, telah lama dikenal sebagai warisan budaya Nusantara. Dari getaran bambu yang sederhana, lahir harmoni yang menyatukan hati.
- Tugu Angklung yang berdiri di simpang tiga Jl Cipari-Cisantana menjadi bukti nyata bahwa harmoni tidak hanya terdengar, tetapi juga terlihat dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
- Pemerintah daerah dan para pegiat seni berharap, keberadaan ikon ini mampu menjadi daya tarik wisata budaya sekaligus ruang edukasi.
- Di setiap getar angklung, tersimpan jati diri. Disetiap harmoni yang menggema, terpatri suara kebanggaan Kuningan yang tak ingin berhenti dan terus bergema.
Dading Fajarudin juga menyampaikan harapan agar Tugu Angklung terus dijaga dan dilestarikan. Ia berharap, angklung lahir dari rahim Kuningan dapat menjadi bahasa universal yang bisa dimainkan di setiap pelosok desa.
“Kita menjaga akar agar dahan mampu menggapai langit. Itu harapan saya ke depan. Seni budaya angklung berasal dari Kuningan ini bisa membuka jendela dunia sebagai alat seni komunikasi secara universal, tidak hanya bersekala nasional melainkan bertaraf internasional,” ujarnya.
Tugu Angklung menjadi simbol kebanggaan “Dari Rahim Kuningan Menyapa Dunia.” Semoga keberadaannya dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus melestarikan dan mengembangkan seni budaya yang kaya akan makna.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”












