Gerilya Kemitraan Global di Tengah Geopolitik Panas Prabowo, Lanjut ke Rusia

Kunjungan Presiden Prabowo ke Rusia dan Kekuatan Diplomasi Energi Indonesia

Setelah melakukan kunjungan luar negeri ke Asia Timur, yaitu Jepang dan Korea Selatan, Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo Subianto melanjutkan perjalanan diplomasi globalnya ke Rusia. Langkah ini dilakukan di tengah situasi geopolitik yang semakin memanas, terutama dengan konflik yang sedang berlangsung di kawasan Timur Tengah.

Perang antara Iran dengan AS-Israel meletus pada akhir Februari 2026. Konflik tersebut berdampak signifikan terhadap ekonomi global, khususnya dalam hal pasokan dan harga minyak. Penutupan Selat Hormuz sebagai dampak dari perang menyebabkan gangguan besar terhadap rantai pasok energi dunia.

Dalam rapat kerja (raker) pemerintah yang digelar di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/4/2026), Prabowo mengungkapkan bahwa kekacauan perang di Timur Tengah telah memberikan pengaruh besar terhadap pasokan energi global. Banyak negara yang bergantung pada Selat Hormuz berusaha mencari solusi untuk menjaga stabilitas pasokan energi mereka.

Prabowo menegaskan bahwa pemerintah juga sedang mengevaluasi dampak perang tersebut terhadap kondisi ekonomi di Indonesia. Namun, menurutnya, Indonesia memiliki ekonomi yang kuat dan mampu menghadapi tantangan ini.

Di samping itu, sebagai upaya menjaga keamanan pasokan energi nasional, Prabowo aktif menjajaki kerja sama dengan berbagai negara. Beberapa kesepakatan penting telah terjalin, termasuk dalam bidang energi. Pada awal bulan ini, Prabowo melakukan kunjungan resmi ke Jepang dan Korea Selatan, yang diakhiri dengan nilai kesepakatan bisnis sebesar US$33,89 miliar atau setara dengan Rp575 triliun.

Kunjungan luar negeri Prabowo bertujuan untuk mengamankan pasokan energi. Ia menyatakan bahwa tujuan utama dari kunjungan ini adalah untuk memastikan ketersediaan minyak dan energi yang stabil.

“Dibilang Prabowo jalan-jalan ke luar negeri. Untuk amankan minyak, ya kita harus ke mana-mana,” ujarnya dalam raker pemerintah.

Selain Jepang dan Korea Selatan, Prabowo juga berencana melakukan kunjungan ke negara-negara lain. Ia menyampaikan bahwa ia akan segera berangkat ke sebuah negara, dan nanti akan diketahui ke mana arahnya.

Kunjungan ke Rusia dan Potensi Kerja Sama Energi

Beberapa hari setelah pernyataan Prabowo dalam raker pemerintah, ia diketahui akan mengunjungi Rusia. Menteri Luar Negeri RI Sugiono menjelaskan bahwa keberangkatan Prabowo direncanakan berlangsung pada hari ini, Minggu (12/4/2026).

Sugiono menilai kunjungan Prabowo ke Rusia kali ini sangat penting di tengah dinamika global, terutama terkait stabilitas energi dan posisi Indonesia dalam menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik internasional.

Salah satu isu strategis yang akan dibahas dalam kunjungan ini adalah sektor energi, termasuk potensi kerja sama alternatif pasokan minyak. Sugiono menyebutkan bahwa isu ini sangat penting bagi bangsa Indonesia.

“Beliau akan bertemu dengan Presiden Putin, juga akan membahas mengenai geopolitik dunia dan juga yang pasti membahas tentang situasi energi,” ujar Sugiono.



Selat Hormuz/bnppri

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyampaikan bahwa komunikasi antara kedua negara tengah berlangsung dan potensi pertemuan tersebut sedang dipersiapkan. “Presiden Indonesia Prabowo Subianto mungkin akan mengunjungi Rusia dan mengadakan pembicaraan dengan Presiden Vladimir Putin,” kata Peskov.

Kunjungan Prabowo ke Rusia kali ini menjadi yang ketiga kalinya sejak menjabat sebagai Presiden RI. Sebelumnya, ia telah mengunjungi Rusia dua kali pada tahun lalu, yakni menghadiri Saint Petersburg International Economic Forum (SPIEF) pada 18–20 Juni 2025 dan melakukan pertemuan bilateral dengan Putin di Kremlin pada 10 Desember 2025.

Dalam agenda SPIEF, Prabowo hadir sebagai pembicara utama. Ia juga bertemu dengan Putin untuk memperdalam kemitraan strategis di bidang pertahanan, energi nuklir, perdagangan, teknologi, dan pendidikan. Indonesia dan Rusia juga menandatangani kesepakatan investasi dan kerja sama, serta menghormati korban blokade Leningrad dengan tabur bunga di Piskaryovskoye Memorial Cemetery.



Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin di Istana Kremlin, Moskow, pada Rabu (10/12/2025)/BPMI

Pertemuan bilateral dengan Putin pada akhir tahun lalu juga membahas penguatan kerja sama strategis Indonesia–Rusia di bidang politik, ekonomi, energi, dan perdagangan.

Urgensi Kerja Sama di Tengah Gejolak Geopolitik

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai geliat kunjungan Prabowo ke luar negeri, serta kerja sama yang dihasilkan, termasuk dengan dua negara Asia Timur, merupakan langkah tepat. Di tengah geopolitik yang memanas, diplomasi ekonomi seperti ini justru semakin penting. Negara-negara saat ini mencari mitra yang stabil untuk relokasi investasi. Indonesia punya peluang, tapi persaingannya juga ketat dengan negara lain di Asia Tenggara.

Namun, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira menilai bahwa dari ragam kerja sama serta komitmen investasi yang dihasilkan, yang menjadi persoalan utama adalah realisasi investasi. Komitmen investasi sebesar Rp294,9 triliun hasil kunjungan ke enam negara pada November 2025 belum sepenuhnya tercermin dalam peningkatan Penanaman Modal Asing (PMA) pada awal 2026.

Belum terlihat dari komitmen jadi realisasi investasi sehingga antara komitmen dan realisasi gap-nya masih besar. Salah satu penyebabnya adalah proyek-proyek investasi masih membutuhkan proses uji kelayakan (feasibility study) yang panjang, sehingga memperlambat eksekusi. Selain itu, ketidakpastian kebijakan juga menjadi faktor penghambat, termasuk isu perubahan aturan seperti Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Banyak ketidakpastian kebijakan… ikut jadi pertimbangan sebelum financial closing suatu proyek.

Dia juga menilai capaian diplomasi ekonomi pemerintah memang membuka peluang besar. Namun tanpa perbaikan fundamental di dalam negeri, terutama dalam eksekusi proyek dan kepastian regulasi, angka komitmen tersebut berisiko hanya menjadi pencapaian di atas kertas tanpa dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?