Aksi Solidaritas di Jembatan Talang untuk Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus
Pita-pita berwarna merah muda menghiasi jembatan di Jalan Talang, Salemba, Jakarta Pusat. Aksi ini dilakukan oleh sejumlah elemen masyarakat sipil yang tergabung dalam Solidaritas untuk Andrie Yunus. Pita pink ini menjadi simbol kuat solidaritas publik terhadap korban penyiraman air keras yang menimpa Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus.
Aksi ini merupakan bagian dari rangkaian aksi jalan bertajuk Langkah Keadilan untuk Andrie. Aksi berlangsung selama dua jam, mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB. Massa berjalan kaki menyusuri titik-titik yang diduga menjadi lokasi penguntitan hingga tempat terjadinya penyiraman air keras terhadap Andrie. Mereka memulai perjalanan sekitar 1 kilometer dari Kantor YLBH hingga ke jembatan di Jalan Talang.
Visual pita pink yang menghiasi jembatan ini sekaligus mengingatkan masyarakat pada peristiwa penyiraman yang menimpa Andrie. Aksi ini menunjukkan dukungan kuat dari masyarakat terhadap korban dan tuntutan keadilan atas kasus yang terjadi.
Tiga Tuntutan dari Aksi Solidaritas
Perwakilan aksi, Hema, dalam pernyataan sikapnya mengatakan mereka membawa tiga tuntutan. “Andrie berhak mendapat keadilan dan kebenaran atas kejahatan yang menimpa dirinya,” kata Hema di lokasi, Minggu (12/4/2026).
“Bukan hanya penangkapan pelaku penyiraman, akan tetapi juga pengungkapan aktor intelektual di balik percobaan pembunuhan dan kejahatan terorganisir,” sambungnya.
Berikut tiga poin tuntutan yang disampaikan:
- Kepada Presiden Prabowo Subianto untuk segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) pada kasus Andrie Yunus.
- Kepada Mahkamah Konstitusi untuk segera mempercepat putusan JR Undang-Undang TNI tentang peradilan umum.
- Kepada Komnas HAM untuk segera melakukan penyelidikan pro-justisia untuk memperkuat penegakan hukum.
Proses Hukum Kasus Penyiraman Air Keras
Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus kini memasuki tahap hukum di Oditurat Militer Jakarta, dengan empat tersangka dari oknum anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI sudah dilimpahkan.
Meski begitu, dalang utama di balik serangan ini masih belum terungkap sepenuhnya. Andrie Yunus, Wakil Koordinator KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), disiram air keras di kawasan Salemba, Jakarta, setelah menerima telepon misterius.
Kejadian berlangsung pada Kamis malam, 12 Maret 2026, sekitar pukul 23.00 WIB. Kasus ini diduga melibatkan oknum anggota BAIS TNI. Empat tersangka sudah diproses hukum militer. Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) mengidentifikasi 16 orang tak dikenal (OTK) yang diduga terlibat, termasuk kemungkinan adanya pihak sipil.
Kondisi Korban yang Memprihatinkan
Serangan air keras itu mengakibatkan kerusakan parah pada mata kanan Andrie Yunus. Dinding bola mata sempat meleleh, kornea menipis, dan penglihatan menurun tajam. Ia sudah menjalani hingga lima kali operasi di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), termasuk transplantasi membran amnion untuk memperbaiki jaringan mata.
Selain itu, luka bakar mengenai sekitar 20 persen area tubuh, termasuk kulit yang melepuh. Hingga kini Andrie masih menjalani perawatan intensif. Kondisi medis ini memperkuat urgensi tuntutan publik agar kasus segera diusut tuntas.












