Budaya  

Dua Pemuda Tolitoli yang Berjalan Kaki Menjelajahi Indonesia

Perjalanan Kaki yang Penuh Makna

Di sebuah dusun kecil bernama Ogomoinit di Desa Bajugan, Kecamatan Galang, dua pemuda memulai perjalanan yang mungkin tampak mustahil bagi kebanyakan orang. Nasrun Mokoginta dan rekannya, Fattah, meninggalkan rumah mereka dengan hanya membawa tas punggung, beberapa helai pakaian, tenda kecil, dan semangat yang nyaris tak terbatas. Tujuan mereka bukan sekadar menapaki jalanan Indonesia, melainkan menunaikan sebuah nazar: berjalan keliling negeri setelah Prabowo Subianto terpilih menjadi presiden.

Bagi Nasrun, pria kelahiran Parigi Moutong yang kini menetap di Tolitoli, janji itu lebih dari sekadar tekad pribadi. Ia menyebutnya sebagai “panggilan hati” — bentuk rasa syukur sekaligus doa panjang yang berubah menjadi langkah-langkah nyata. “Kalau presiden pilihan saya menang, saya ingin keliling Indonesia dan ketemu langsung beliau di Jakarta,” ujarnya sebelum berangkat.

Namun perjalanan mereka bukan semata untuk menepati janji. Nasrun dan Fattah membawa misi sosial yang jarang diusung oleh para pejalan kaki lainnya: kampanye melawan tawuran dan narkoba di kalangan pelajar. Setiap kota yang mereka singgahi akan menjadi panggung kecil bagi puisi-puisi mereka — lebih dari 700 karya yang ditulis dari hati dan pengalaman hidup. “Kami ingin bicara lewat kata, bukan ceramah,” kata Fattah. “Puisi lebih mudah masuk ke hati anak-anak muda.”

Dalam tiap bait, mereka menyelipkan pesan sederhana namun tajam: tentang damai, persahabatan, dan masa depan yang lebih bersih dari kekerasan dan zat berbahaya. Di beberapa sekolah, undangan sudah menanti. Mereka akan membaca puisi di lapangan, di aula, bahkan di pinggir jalan jika diperlukan. Semua dilakukan dengan sukarela, tanpa sponsor, tanpa panggung besar, hanya dengan niat berbagi.

Yang menarik, di antara barang-barang yang mereka bawa, terdapat selembar bendera partai. Bukan sebagai simbol kampanye, tetapi sebagai pengingat dan harapan. “Kami ingin menyampaikan pesan bahwa politik jangan lagi gaduh,” kata Nasrun. “Rakyat lebih butuh ketenangan dan perhatian.” Bendera itu, kata mereka, adalah doa agar para politisi bisa bersatu untuk kepentingan bangsa.

Sebelum memulai langkah panjang itu, keduanya menemui sejumlah pihak di Tolitoli. Mereka meminta restu dan izin kepada Polres Tolitoli, pihak TNI, Dinas Pariwisata, serta Dinas Pendidikan. Tak ada penolakan. Sebaliknya, mereka mendapat dukungan moral. “Kami bangga ada anak muda seperti ini,” ujar seorang pejabat setempat. “Mereka membawa nama daerah dengan cara yang damai.”

Perjalanan ini tidak akan mudah. Dari Tolitoli, mereka akan menapaki ratusan kilometer jalan lintas Sulawesi sebelum menyeberang ke pulau lain. Mereka tidak menargetkan waktu pasti, hanya arah. “Kami berjalan sekuat kaki kami mampu,” kata Fattah sambil tertawa. Di beberapa titik, mereka mengandalkan tumpangan warga, tidur di pos jaga atau masjid, dan makan dari sumbangan orang yang mereka temui.

Misi mereka, meski sederhana, mengandung simbolisme yang kuat. Di tengah zaman serba instan, ketika banyak orang mencari jalan pintas menuju popularitas, dua pemuda dari dusun kecil ini memilih jalur yang sebaliknya — lambat, melelahkan, namun penuh makna. Mereka melangkah bukan untuk viral, tetapi untuk membuktikan bahwa idealisme masih punya ruang di negeri ini.

Bagi Nasrun, pertemuan dengan Presiden Prabowo nanti bukanlah akhir perjalanan. Ia dan Fattah berencana melanjutkan misi mereka berjalan kaki ke Arab Saudi — perjalanan spiritual untuk menunaikan ibadah dan menutup nazar yang ia mulai dengan keyakinan. “Kalau Tuhan izinkan, kami akan ke Tanah Suci dengan kaki kami sendiri,” katanya.

Di balik langkah-langkah kecil mereka, ada cerita besar tentang tekad, kesederhanaan, dan cinta terhadap tanah air. Jalan yang mereka tempuh mungkin panjang dan terjal, tetapi di setiap tapak yang mereka tinggalkan, terselip pesan bahwa perubahan bisa dimulai dari hal paling sederhana — bahkan dari sepasang kaki yang rela berjalan jauh demi janji dan harapan.

Dan ketika matahari Tolitoli perlahan tenggelam di ufuk barat, dua sosok itu terus berjalan, menyusuri jalan berdebu dengan selembar bendera di tangan dan segenggam mimpi di dada. Dunia mungkin tidak tahu nama mereka, tetapi di setiap langkahnya, Indonesia ikut bergerak.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?