Bangunan Bersejarah yang Menjadi Saksi Bisu Pendidikan
BOGOR, –
Dari luar, bangunan SMP Negeri 2 Bogor tampak seperti rumah besar peninggalan kolonial. Atap genteng merah kecokelatannya membentang panjang, berdiri di atas dinding tua bercat putih dan hijau. Jendela-jendela kayu besar dengan engsel kunonya tetap terpasang, terbuka lebar membiarkan cahaya dan angin masuk ke ruang-ruang kelas. Kesederhanaannya terlihat jauh dari sekolah modern, namun justru suasana inilah yang membuatnya berbeda, fragmen masa lalu yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk Kota Bogor.
Menjelang siang, di teras panjang berlantai tegel abu-abu, para siswa mondar-mandir dari satu kelas ke kelas lainnya. Pintu kayu tua berwarna hijau gelap berderit pelan setiap kali dibuka. Dari halaman tengah, bangunan kelas yang berderet tampak seperti koridor sejarah yang tak berubah sejak era kolonial. Plafon tinggi dan ventilasi atas berornamen klasik tetap terjaga, menjadi bukti usia bangunan yang sudah lebih dari seabad.
Memasuki ruang guru, nuansa masa lalu terasa semakin kuat. Plafon tinggi, kabel-kabel listrik yang ditempel rapi di dinding tua, hingga lemari arsip besi yang tampak solid meski sudah berumur, menambah kesan antik ruangan. Globe, pajangan karya siswa, serta tumpukan dokumen di atas meja membuat ruang tersebut terasa hidup. Ruang-ruang itu dahulu digunakan para murid MULO, sekolah menengah zaman Hindia Belanda, dan kini menjadi tempat belajar generasi muda Bogor.
Nuansa Klasik di Tengah Aktivitas Belajar
Bagi Rayi (14), siswa kelas VIII, pengalaman belajar di SMPN 2 terasa tidak sama dengan sekolah-sekolah lain. Rayi sudah mengetahui sejak awal bahwa sekolah yang ia masuki bukan sekolah biasa. Lingkungan bangunannya membuatnya merasa seolah sedang berada di tempat bersejarah, bukan hanya ruang belajar biasa.
“Tahu sih kan ada juga guru yang suka cerita gitu kalau di sela-sela jam pelajaran gitu. Banyak juga peninggalannya yang belum diubah sampai sekarang. Dan ini juga sebagai cagar budaya yang tidak boleh diubah sama sekali,” ujarnya. Ketika ditanya bagaimana rasanya belajar di ruang kelas dengan jendela kayu besar, pintu tua, dan atmosfer yang berbeda dari sekolah modern, Rayi tersenyum kecil.
“Kadang juga kayak ada senangnya gitu. Beda aja sih, beda kayak di film-film gitu,” katanya. Ruang kelas di SMPN 2 memang menghadirkan suasana yang mirip dengan latar cerita film zaman kolonial, plafon tinggi, sedikit ornamen, namun tetap memancarkan pesona dari kesederhanaannya.
Rayi mengaku merasa punya beban moral lebih besar karena bersekolah di gedung yang dilindungi sebagai cagar budaya. “Pastinya punya sih. Apalagi kan di kelas ini. Jadi harus lebih dijaga aja sih. Apalagi kebersihan sekitar kelasnya gitu. Yang pasti juga bangunan-bangunan juga harus dijaga ya,” ucapnya. Rayi menambahkan bahwa keberadaan bangunan kuno ini mendorong dirinya dan teman-temannya untuk lebih menghargai lingkungan sekolah.
Menurut dia, belajar di gedung yang memiliki sejarah panjang memberikan rasa bangga tersendiri. “Bangga banget. Bangga pastinya. Karena nggak semua orang bisa keterima di sini kan. Jadi patut dipertahankan aja sih,” ujarnya.
Kesan Pertama Siswa
Alsha (13), siswi kelas VII, juga merasakan hal serupa. Hari pertama masuk sekolah meninggalkan kesan yang sulit dilupakan. “Jujur rasanya beda banget dibanding sekolah lain. Dari pertama masuk, langsung merasa bangunannya beda,” ujarnya. Setelah mendengar cerita para guru, Alsha memahami bahwa gedung tempat ia belajar adalah warisan pendidikan kolonial yang dahulu digunakan untuk sekolah pribumi.
“Iya, saya tahu dari guru-guru juga suka cerita cerita kalau bangunan ini sudah ada sejak zaman Belanda dan dipakai untuk sekolah pribumi,” jelasnya. Ia mengaku bangga bisa bersekolah di bangunan bersejarah yang umurnya melampaui satu abad. “Bangga. Teman dari sekolah lain sering bilang sekolah kita unik. Nggak semua orang bisa belajar di bangunan berusia seratus tahun lebih,” ujar Alsha. Menurut Alsha, suasana bangunan tua justru memberikan motivasi tambahan. Ia merasa menjadi bagian dari sejarah panjang sekolah dan ingin ikut menjaga kelestariannya.
Edukasi Sejarah bagi Murid
Koordinator Tata Usaha SMPN 2 Bogor, Daud Suhendar menyampaikan bahwa masih banyak siswa yang belum mengetahui asal-usul sekolah tersebut. “Sebagian tidak tahu. Padahal itu bagian dari edukasi. Anak-anak harus tahu sejarah SMPN 2 dibangun pada masa apa, oleh siapa, awalnya bernama apa, kemudian berubah menjadi apa,” jelas Daud. Ia menilai bahwa nilai historis yang melekat pada bangunan sekolah seharusnya dapat berperan dalam membentuk karakter para siswa.
“Kami merasa bangga bisa menjaga gedung bersejarah. Harapannya dapat menjadi informasi dan edukasi bagi anak-anak. Sekolah zaman Belanda ini dulunya diisi anak-anak menak Belanda. Sekarang diisi anak-anak Indonesia. Mudah-mudahan karakter dan semangatnya berkembang baik,” ujar Daud.
Awal Mula SMPN 2 Bogor
Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Bogor, Taufik Hassunna, menjelaskan bahwa kawasan sekolah ini sejak awal dirancang sebagai pusat pendidikan pada masa kolonial. “Tiga sekolah itu berdampingan. Holland Inlandsche School itu SD Pengadilan 1 di sebelahnya itu Holland Europe School, SD Pengadilan 2. Dan di sebelahnya lagi MULO. MULO itu SMPN 2 sekarang,” kata Taufik kepada , Senin (10/11/2025). Ia menuturkan bahwa pendirian MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) merupakan bagian dari kebijakan edukasi pemerintahan kolonial Belanda untuk memperluas akses pendidikan, termasuk bagi bumiputra.
“Kalau Mulo itu bisa juga dari kalangan pribumi. Jadi memang semua lintas ras bisa masuk ke situ. Itu kan sebetulnya produk kebijakan ETS Belanda untuk membuka ruang, membuka kesempatan kepada pribumi dan kelompok lain untuk juga mempunyai akses ke pendidikan,” kata dia.
Perubahan dari Masa Jepang hingga Era Kemerdekaan
Perjalanan panjang SMPN 2 Bogor tidak hanya berlangsung pada masa kolonial, tetapi juga melalui berbagai fase penting pada periode pendudukan Jepang dan awal kemerdekaan. Saat Jepang berkuasa, banyak gedung sekolah di berbagai daerah mengalami perubahan fungsi yang signifikan. Setelah perang berakhir, kegiatan belajar-mengajar pun sempat terhenti untuk waktu yang cukup panjang.
Taufik menekankan bahwa transformasi MULO hingga menjadi SMP Negeri 2 Bogor tidak berlangsung secara tiba-tiba dan memerlukan proses panjang. “Hampir se-Indonesia itu sama, karena kemudian ketika diambil alih Jepang, institusi pendidikan itu tentu mengalami banyak perubahan, banyak aturan. Kemudian ada yang dipakai untuk menjadi tempat pendidikan baru dengan kurikulum berbeda, ada juga yang kemudian tidak difungsikan,” ungkap dia. Setelah penyerahan kedaulatan pada 1949–1950, barulah sekolah-sekolah peninggalan kolonial mulai beroperasi kembali.
Pemerintah Indonesia kemudian menetapkan identitas baru bagi institusi-institusi pendidikan tersebut. “Baru tahun 50 kemudian sekolah-sekolah tadi, kemudian mengadakan kegiatan belajar-mengajar lagi, termasuk Identitas baru yang diberikan oleh pemerintah yang sudah NKRI,” kata dia.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”












