Proses Uji Operasional RDF Plant Rorotan Dihentikan Sementara
Uji operasional Refuse Derived Fuel (RDF) Plant di Rorotan, Jakarta, sempat menuai protes dari masyarakat sekitar. Namun, ada harapan bahwa fasilitas tersebut bisa kembali beroperasi dalam dua pekan ke depan. Harapan ini disampaikan oleh Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike, saat rapat kerja dengan Dinas Lingkungan Hidup (LH), Selasa (11/11).
“Semua pasti berharap hal ini tidak terjadi dan RDF Plant bisa berjalan dengan baik. Tapi, dikarenakan hal ini sesuatu yang baru di Jakarta, tentunya perlu penyesuaian kembali,” ujar Yuke.
Menurut Yuke, masalah penerapan RDF Plant di Jakarta muncul karena karakteristik sampah yang dihasilkan masyarakat Jakarta berbeda dibanding negara-negara Eropa yang telah lebih dulu menerapkannya. Sampah di Jakarta cenderung basah, meski sudah dipilah. Hal ini menyebabkan masalah seperti bau tidak sedap selama pengangkutan jika menggunakan truk terbuka atau terjadi kebocoran lindi.
“Sampah kita itu kebanyakan sampah basah. Meski sudah dipilah, tapi sampah kita memang karakternya masih sampah-sampah yang basah. Sehingga muncul persoalan dengan bau yang tidak sedap apabila dalam pengangkutannya masih (menggunakan truk) terbuka ataupun ada kebocoran lindi, yang berujung polemik di masyarakat,” jelasnya.
Yuke juga menilai bahwa keterlambatan pengoperasian RDF Plant Rorotan merupakan langkah terbaik saat ini. Meskipun demikian, ia mengakui bahwa keterlambatan tersebut berdampak pada keuangan Pemprov DKI karena harus membuang sampah ke TPS Bantargebang, Bekasi.
“Saya kira lebih baik terlambat, tapi segala persoalan bisa terselesaikan. Harus diakui, jika RDF Plant sukses, tentu hal ini akan menjadi percontohan,” ujarnya.
Pada 2026 mendatang, jika semua berjalan sesuai rencana, RDF Plant diharapkan dapat melakukan pengolahan sampah dalam jumlah optimal setiap hari. Hal ini diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang dikirim ke Bantargebang.
“Dinas terkait dan juga KSO-nya harus mempercepat semua masalah yang ada, sehingga bisa lebih cepat untuk berjalan dengan optimal,” tegas Yuke.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memerintahkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta untuk menghentikan sementara proses uji operasional RDF Plant Rorotan di Jakarta Utara. Ia menilai fasilitas tersebut belum memiliki kendaraan pengangkut sampah yang layak dan aman bagi lingkungan.
“Saya sudah meminta kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup untuk sementara commissioning-nya dihentikan terlebih dahulu, dipersiapkan sampai dengan adanya truk yang compact yang bisa membawa sampah ke Rorotan,” ujar Pramono.
Masalah Teknis yang Menghambat Operasional
Salah satu masalah utama yang dihadapi RDF Plant adalah kurangnya armada pengangkut sampah yang memenuhi standar. Truk-truk yang digunakan saat ini dinilai tidak cukup aman dan efisien untuk mengangkut sampah basah yang dominan di Jakarta. Hal ini berpotensi menyebabkan kebocoran lindi dan bau tidak sedap yang mengganggu masyarakat sekitar.
Selain itu, sistem pemilahan sampah juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan RDF Plant. Sampah yang tidak dipilah dengan baik dapat mengurangi efektivitas proses pengolahan dan meningkatkan risiko pencemaran lingkungan.
Langkah Perbaikan yang Diperlukan
Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan beberapa langkah perbaikan. Pertama, pengadaan kendaraan pengangkut sampah yang lebih modern dan ramah lingkungan. Kedua, penguatan sistem pemilahan sampah agar lebih efisien. Ketiga, sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya partisipasi dalam pengelolaan sampah.
Dengan perbaikan-perbaikan ini, diharapkan RDF Plant dapat beroperasi secara optimal dan memberikan manfaat besar bagi pengelolaan sampah di Jakarta. Masyarakat juga diharapkan dapat mendukung upaya ini untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”












