Proses Penuaan Bintang dan Bahaya bagi Planet
Seiring bertambahnya usia, bintang akan mengembang. Namun, ekspansi ini tidak hanya berdampak pada bintang itu sendiri, tetapi juga dapat menyebabkan kerusakan besar bagi planet-planet yang mengorbit di sekitarnya. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam Monthly Notices of the Royal Astronomical Society telah mengungkap mekanisme ini dan menunjukkan bahwa planet-planet yang paling dekat dengan bintang induknya berada dalam risiko tinggi untuk dihancurkan atau ditelan.
Penelitian Mengungkap Bahaya yang Mengancam Planet
Studi ini mengungkap bahwa planet-planet yang mengorbit dalam waktu 12 hari atau kurang memiliki peluang lebih besar untuk hancur akibat proses penuaan bintang. Peneliti memperkirakan bahwa seiring bintang menua, mereka akan berevolusi ke fase raksasa merah (red giant), yang bisa menghancurkan planet-planet yang berada di dekatnya.
Proses ini bukanlah hal baru, tetapi penelitian ini memberikan bukti kuat tentang bagaimana fenomena ini terjadi secara langsung. Para ilmuwan melakukan survei terhadap lebih dari 400.000 bintang pasca-deret utama untuk melihat apakah ada penurunan populasi planet di sekitar bintang-bintang yang lebih tua. Mereka menemukan bahwa jumlah planet yang mengorbit bintang-bintang yang sudah mencapai fase raksasa merah jauh lebih sedikit dibandingkan bintang-bintang yang masih muda.
Data Menunjukkan Perbedaan yang Jelas
Dengan menggunakan data dari satelit Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS), tim peneliti berhasil mendeteksi 130 planet yang berada dekat dengan bintang mereka, termasuk 33 kandidat planet baru. Perbandingan antara bintang muda dan tua sangat jelas: tingkat planet raksasa gas yang mengorbit dekat bintang muda mencapai sekitar 0,35 persen, sementara untuk bintang tertua, tingkat tersebut turun menjadi 0,11 persen.
“Ini adalah bukti kuat bahwa seiring bintang berevolusi, mereka dapat dengan cepat menyebabkan planet berputar ke dalamnya dan dihancurkan,” kata Edward Brant, penulis utama studi ini.
Gaya Pasang Surut sebagai Penyebab Utama
Salah satu penyebab utama penghancuran planet adalah gaya pasang surut (tidal forces) antara bintang dan planet raksasa gas. Gaya ini mirip dengan yang terjadi antara Bumi dan Bulan, tetapi efeknya jauh lebih besar. Gaya pasang surut menyebabkan orbit planet meluruh, yang akhirnya membuatnya berputar spiral ke dalam menuju kehancuran. Dalam beberapa kasus, gaya ini bahkan dapat merobek planet raksasa gas menjadi bagian-bagian kecil.
“Kami memperkirakan akan melihat efek ini, tetapi kami masih terkejut dengan betapa efisiennya bintang-bintang ini menelan planet-planet terdekat mereka,” tambah Edward Brant.
Nasib Bumi dan Masa Depan Kehidupan
Matahari kita sendiri diperkirakan akan mencapai tahap pasca-deret utama dalam waktu sekitar 5 miliar tahun. Meskipun Bumi tidak berada dalam posisi yang sama seperti Merkurius atau Venus, masa depan Bumi tetap tidak pasti. Vincent Van Eylen, rekan penulis studi ini, memberikan peringatan bahwa meskipun Bumi mungkin bertahan dari fase raksasa merah Matahari, kehidupan di Bumi mungkin tidak.
“Bumi tentu lebih aman daripada planet raksasa dalam studi kami, yang jauh lebih dekat ke bintang mereka. Tetapi kami hanya melihat bagian paling awal dari fase pasca-deret utama, satu atau dua juta tahun pertamanya – bintang-bintang memiliki lebih banyak evolusi yang harus dijalani,” ujar Van Eylen.
Masa Depan Penelitian
Tim peneliti berharap dapat meningkatkan pemahaman tentang kehancuran planet di sekitar bintang yang menua di masa depan menggunakan misi PLATO, yang dijadwalkan diluncurkan pada akhir 2026. Dengan data yang lebih akurat, para ilmuwan harap bisa memahami lebih baik bagaimana proses ini terjadi dan apa implikasinya bagi sistem tata surya kita.












