Buick Jaya di Tiongkok, Merana di Amerika

Sejarah dan Perkembangan Buick di Tiongkok

Jika Anda berkunjung ke Tiongkok, maka akan sering menemukan merek mobil yang satu ini, Buick. Sebuah brand asal Amerika Serikat yang berhasil membuat pasar Tiongkok jatuh hati. Keintiman Buick dengan pasar Tiongkok ternyata sudah berlangsung sejak lama. Pada tahun 1924, Pu Yi, Kaisar terakhir Tiongkok mengimpor dua mobil Buick ke Istana Terlarang di Beijing.

Brand yang berada di bawah naungan General Motors (GM) ini seolah mendapatkan endorse langsung dari sang Kaisar, sehingga menjadi sangat populer di negara Tirai Bambu itu. Bahkan pada era 30-an, satu dari enam mobil di Tiongkok adalah Buick. Brand ini pun melenggang kuat di pasar Tiongkok dan menjadi simbol kemapanan serta kekuasaan saat itu.

Kondisi yang sama juga terjadi di pasar Amerika Serikat. Di negeri koboi, Buick menjadi mobil yang melayani segmen atas dan sering kali dianggap sebagai simbol papan atas. Namun, pada tahun 50-an posisi brand ini harus mengalah di bawah Cadillac.

Kembali ke pasar Tiongkok, keharuman nama Buick perlahan meredup di depan publik. Penggantian kekuasaan ke Partai Komunis pada 1949 menyebabkan keluarnya GM dari Tiongkok, sehingga produk Buick hilang dari pasar. Industri otomotif di sana bergeser kiblat, sebagian besar beralih ke Eropa Timur.

Baru pada tahun 1997, GM kembali masuk ke Tiongkok dengan bekerja sama dengan SAIC Motor dengan kepemilikan 50%-50%. Label Buick kembali dibawa, termasuk juga Chevrolet dan Cadillac.

Dibandingkan dengan dua label AS lainnya, Buick tampil menonjol dan segera mendominasi. Mengutip dari Thechinaacademy.or, puncak kejayaan Buick era modern terjadi pada tahun 2000-an, di mana 80% penjualan global Buick ada di pasar Tiongkok. Artinya pasar di Amerika Serikat sendiri telah terkalahkan secara mutlak.

Kondisi Buick di Pasar Amerika Serikat

Kondisi Buick di pasar AS tidak bisa dibilang cukup baik. Meskipun berhasil lolos dari krisis keuangan pada 2008, namun tidak bisa dikatakan sebagai brand yang bersinar. Produksinya di AS mengecil dinilai kurang menarik karena kurangnya varian dan model yang ditawarkan. Untuk mendapatkan produk yang lebih lengkap, maka terjadi impor dari China yang memiliki produk yang lebih beragam.

Pada tahun 2016, Buick Envision yang diproduksi di Tiongkok mulai masuk ke pasar AS, disusul oleh model-model lainnya seperti sedan Regal.

Tantangan brand berlogo tiga perisai ini di AS bukan hanya dikarenakan kurangnya ragam model. Di sisi lain, Buick seolah terjebak dalam stigma sebagai label identik dengan pengguna yang sudah berumur. Hal ini menjadikan konsumen muda di AS tidak banyak yang meliriknya. Ia pun tidak seagresif Cadillac yang melakukan banyak transformasi dengan menyesuaikan produk sesuai selera pasar terkini dan mulai diterima oleh kalangan yang lebih muda.

Kondisi Buick di Tiongkok Saat Ini

Sementara di Tiongkok, Buick bukan lagi penguasa pasar dan dominasinya sudah terkikis oleh brand lainnya, termasuk Tesla dari AS. Kebangkitan industri otomotif lokal Tiongkok dan munculnya tren mobil listrik yang dibawa oleh BYD dan lainnya memberikan tekanan tersendiri.

Meledaknya permintaan mobil listrik dan semakin agresifnya brand-brand lokal dalam mengusung teknologi EV di Tiongkok menyuguhkan banjirnya produk yang lebih beragam dan terjangkau, menjadi pukulan berat bagi Buick.

Walau tidak sepopuler di era keemasannya di Tiongkok, Buick masih menjadi salah satu pilihan masyarakat di sana. Dibandingkan dengan kondisinya di AS, di Tiongkok masih jauh lebih baik dan dinamis. Bahkan awal tahun lalu, Buick resmi meluncurkan sub-brandnya yakni Electra yang berfokus pada kendaraan new energy vehicle (NEV), termasuk mobil hybrid, PHEV, dan juga listrik murni.

Motor 1 menyebutkan bahwa sejak re-entry di Tiongkok pada 1997 dan mulai berproduksi pada 1999, Buick telah menghadirkan lebih dari 10 juta mobil di pasar domestik Tiongkok.

Buick di Indonesia

Untuk Indonesia, Buick pernah menjadi salah satu brand yang cukup disegani pada era 30 hingga 50-an. Bahkan mobil Kepresidenan pertama Indonesia adalah sebuah Buick 8 lansiran 1939.

Hanya saja sejarahnya tidak terlalu jelas di tanah air. Populeritasnya di negeri batik ini kalah oleh saudaranya, Chevrolet, yang menawarkan mobil lebih beragam dan terjangkau.

Erina Syifa

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?