Budaya  

5 Ritual Kematian Hewan Paling Unik dan Mengharukan di Dunia

Ritual Kematian di Alam Liar: Bagaimana Hewan Merayakan Perpisahan

Ketika berbicara tentang ritual pemakaman atau rasa duka, kita sering menganggap bahwa hal ini hanya terjadi pada manusia. Kita merasa bahwa perasaan kehilangan dan upacara penghormatan adalah sesuatu yang eksklusif hanya untuk kita. Namun, ternyata, alam liar juga memiliki cara unik untuk menghadapi kematian. Para ilmuwan semakin sering menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa banyak hewan juga memiliki “ritual” mereka sendiri saat menghadapi kematian. Berikut adalah beberapa contoh menarik dari dunia hewan dalam mengucapkan selamat tinggal.

1. Gajah

Gajah dikenal memiliki ikatan sosial yang kuat dan ingatan yang tajam. Ketika salah satu anggota keluarganya mati, mereka tidak akan langsung meninggalkan jenazah. Sebaliknya, seluruh kawanan akan berkumpul mengelilingi jenazah, seolah sedang “melayat”. Mereka diam sejenak, lalu mulai menyentuh, mengendus, dan meraba-raba tubuh yang sudah kaku itu dengan belalai mereka. Hal yang paling menarik adalah ritual “penguburan” mereka. Gajah-gajah ini akan bekerja sama menarik ranting-ranting pohon, mencabut rumput, dan mengumpulkan tanah, lalu menutupi jenazah temannya itu. Ini adalah bentuk “pemakaman” parsial yang paling jelas terlihat di dunia hewan. Bahkan, gajah Afrika dikenal akan kembali mengunjungi lokasi tempat temannya dikubur atau di mana ada tulang-belulang gajah, bahkan bertahun-tahun setelahnya.

2. Primata (Simpanse, Gorila, dan Babun)

Sebagai “sepupu” terdekat kita di alam, perilaku primata saat berduka sering kali mirip dengan manusia. Contohnya, induk simpanse atau gorila yang kehilangan bayinya tidak akan langsung meninggalkan jenazah. Sebaliknya, mereka akan menggendong tubuh kaku itu ke mana pun mereka pergi, kadang sampai berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Selama itu, mereka tetap “merawat”, membersihkan (grooming), dan melindungi jenazah tersebut. Anggota kelompok lain juga sering terlihat berkumpul, menyentuh-nyentuh, atau membuka mata jenazah, seolah-olah mencoba membangunkannya. Penelitian pada babun membuktikan bahwa rasa duka mereka bisa diukur secara ilmiah. Ketika seekor babun kehilangan anggota keluarga dekatnya, level hormon stres di darahnya langsung melonjak tinggi. Mereka punya “terapi” sendiri, yaitu lebih sering melakukan grooming satu sama lain. Aktivitas ini melepaskan hormon oksitosin yang ampuh menekan hormon stres.

3. Mamalia Air (Lumba-Lumba dan Paus/Orca)

Ritual duka tidak hanya terjadi di daratan. Di lautan, mamalia cerdas seperti lumba-lumba dan paus juga menunjukkan duka yang mendalam, terutama antara induk dan anak. Induk lumba-lumba atau orca yang anaknya mati sering kali tidak rela melepaskan jenazah bayinya. Mereka akan menggunakan kepala, punggung, atau moncong mereka untuk terus mendorong dan menyeimbangkan jenazah si anak di permukaan air. Perilaku ini bisa dilakukan berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, meskipun jenazahnya sudah mulai membusuk. Seluruh kelompok juga ikut “berkabung”. Mereka melambatkan laju renang mereka untuk menemani si induk dan jenazah bayinya. Mereka juga akan berjaga-jaga, berenang mengelilingi jenazah, dan sering kali bersikap protektif.

4. Burung Gagak

Ritual “pemakaman” ala burung gagak berbeda dari hewan lain. Mereka lebih mirip tim penyelidik yang sedang melakukan olah TKP dari keluarga yang sedang “berkabung”. Ritualnya biasanya dimulai oleh satu gagak yang menemukan temannya mati. Dia tidak diam saja, tapi langsung “teriak-teriak” mengeluarkan “panggilan alarm” yang kencang dan berisik. Fungsi panggilan ini adalah untuk memanggil semua gagak lain di area itu untuk berkumpul. Nggak lama kemudian, puluhan gagak akan terbang dan berkumpul di atas lokasi kejadian, berkoak-koak dengan ribut. Mereka hampir tidak pernah menyentuh jenazah temannya itu. Menurut para ilmuwan, ini bukan ritual kesedihan, melainkan momen belajar penting. Mereka berkumpul untuk “investigasi” tentang kenapa temannya tersebut mati.

5. Serangga Sosial (Semut, Lebah, dan Rayap)

Ritual pemakaman ala serangga sosial 100% soal efisiensi. Koloni semut, lebah, dan rayap sangat padat penduduknya. Jika ada satu yang mati dan dibiarin aja, itu bisa menjadi bom waktu penyebab penyakit. Maka dari itu, mereka punya “petugas pemakaman” khusus. Semut akan mengangkut jenazah temannya dan menguburnya di “kamar kuburan” khusus yang disiapkan di dalam sarang. Tujuan utama mereka adalah menjaga kebersihan alias sanitasi. Jenazah yang membusuk bisa menjadi tempat ideal bagi jamur dan bakteri berkembang biak. Lebah punya tim yang tugasnya cuma mengangkut mayat, lalu terbang jauh-jauh dan membuangnya dari sarang. Rayap mungkin yang paling praktis: jika jenazahnya masih segar, mereka akan memakannya, tapi jika sudah mulai membusuk, mereka akan menguburnya rapat-rapat agar tidak jadi sumber penyakit.

Jadi, jelas banget ya kalau ritual pemakaman bukan hanya dilakukan oleh manusia. Alasan di baliknya beda-beda, tapi satu yang pasti, dunia hewan punya cara-cara yang kompleks dan menakjubkan untuk merespons tentang kematian.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?