Budaya  

Mengungkap Sejarah Berdirinya NU dan Tokoh-Tokohnya

Sejarah Kelahiran Nahdlatul Ulama

Di sudut Surabaya pada awal tahun 1926, sekelompok ulama pesantren berkumpul dengan kegelisahan yang sama. Mereka tidak hanya membicarakan organisasi, tetapi juga masa depan tradisi Islam Nusantara yang terancam oleh arus perubahan dunia Islam. Dari ruang-ruang musyawarah itulah lahir sebuah organisasi besar yang akan menjadi bagian penting dalam sejarah Indonesia.

Nahdlatul Ulama (NU) kini dikenal sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan jutaan pengikut yang tersebar hingga pelosok desa. Namun, kelahirannya bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba. Ia tumbuh dari kesadaran kolektif para ulama Nusantara untuk menjaga ajaran Islam moderat, mempertahankan kebebasan bermazhab, dan melindungi warisan sejarah Islam di tengah gejolak global abad ke-20.

Sejarah berdirinya NU tak bisa dilepaskan dari situasi keagamaan di Timur Tengah, khususnya kebijakan Raja Ibnu Saud di Hijaz. Pada saat itu, muncul rencana penerapan Mazhab Wahabi secara tunggal di Makkah dan Madinah, disertai niat merobohkan situs-situs bersejarah Islam dan pra-Islam yang selama berabad-abad menjadi tujuan ziarah umat Muslim.

Bagi ulama pesantren di Indonesia, kebijakan tersebut bukan sekadar persoalan geografis yang jauh. Mereka memandangnya sebagai ancaman serius terhadap keberagaman mazhab dan tradisi Islam yang telah mengakar kuat di Nusantara. Ziarah, tawassul, dan praktik keagamaan lain yang selama ini dijalankan dianggap berpotensi dicap bid’ah.

Ketegangan memuncak ketika kalangan pesantren dikeluarkan dari Kongres Al-Islam di Yogyakarta pada 1925. Lebih dari itu, mereka tidak lagi dilibatkan dalam delegasi Muktamar Alami Islami di Makkah. Ulama Nusantara seolah kehilangan ruang untuk menyuarakan pandangannya di panggung dunia Islam.

Komite Hijaz: Suara Nusantara di Panggung Internasional

Tidak tinggal diam, para ulama kemudian membentuk Komite Hijaz yang dipimpin KH Abdul Wahab Hasbullah. Komite ini menjadi kendaraan diplomasi ulama pesantren untuk menyampaikan aspirasi mereka kepada penguasa Hijaz dan komunitas Islam internasional.

Upaya ini membuahkan hasil. Gelombang penolakan dari berbagai negara Muslim membuat Raja Ibnu Saud akhirnya membatalkan rencana penghancuran situs-situs bersejarah dan membuka ruang bagi keberagaman mazhab. Bagi ulama Nusantara, keberhasilan Komite Hijaz bukan hanya kemenangan diplomatik, tetapi juga bukti bahwa suara pesantren mampu bergema hingga pusat dunia Islam.

Pengalaman tersebut menyadarkan para ulama akan pentingnya organisasi yang kuat dan sistematis. Tantangan zaman tidak cukup dihadapi dengan sikap individual atau gerakan sporadis. Dibutuhkan wadah bersama yang mampu menjaga tradisi, merespons perubahan, dan memperjuangkan kepentingan umat.

Melalui serangkaian musyawarah intens, disepakati pendirian organisasi bernama Nahdlatul Ulama yang berarti Kebangkitan Ulama pada 16 Rajab 1344 Hijriah atau 31 Januari 1926. KH Hasyim Asy’ari kemudian ditetapkan sebagai Rais Akbar NU.

Para Ulama Terkemuka di Balik Lahirnya NU

Di balik berdirinya NU, berdiri pula deretan ulama besar yang perannya tak terpisahkan dari sejarah bangsa.

Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari menjadi figur sentral yang dihormati lintas generasi. Lahir pada 14 Februari 1871, pendiri Pesantren Tebuireng ini bukan hanya ulama, tetapi juga pejuang. Resolusi Jihad yang digagasnya menjadi salah satu pemantik perlawanan rakyat terhadap penjajahan, hingga mengantarkannya dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 1964.

Restu spiritual NU datang dari Syekh Kholil Bangkalan, guru para ulama besar Jawa. Perannya yang begitu menentukan membuat namanya selalu disebut dalam sejarah awal NU. Atas jasanya dalam pendidikan Islam, Syekh Kholil ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2025.

KH Abdul Wahab Chasbullah tampil sebagai motor penggerak. Ia adalah sosok visioner yang jauh sebelum NU berdiri telah membangun organisasi dan ruang diskusi, seperti Nahdlatul Wathan, Nahdlatut Tujjar, serta Tashwirul Afkar wadah lahirnya gagasan-gagasan progresif ulama muda.

Sementara itu, KH Bisri Syansuri dikenal sebagai ulama fikih yang berpengaruh. Ia kelak menjabat Wakil Rais ‘Aam hingga Rais ‘Aam PBNU, sekaligus pelopor pendirian pesantren perempuan sebuah langkah maju di masanya.

NU: Rumah Besar bagi Umat Islam Moderat

Hampir satu abad setelah berdiri, Nahdlatul Ulama terus tumbuh menjadi kekuatan besar Islam Indonesia. NU bukan hanya organisasi, tetapi rumah besar bagi ulama, santri, dan masyarakat yang menjunjung Islam rahmatan lil alamin, moderat, toleran, dan berakar pada tradisi keilmuan pesantren.

Dari kegelisahan di masa lalu, NU menjelma menjadi penyangga utama harmoni keagamaan dan kebangsaan. Sejarah kelahirannya menjadi pengingat bahwa kebijaksanaan ulama Nusantara lahir dari keberanian menjaga tradisi, tanpa menutup mata terhadap perubahan zaman.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?