Pawai Genting di Dusun Bambu: Menggubah Suara dari Tanah Liat
BANDUNG BARAT,
Hujan baru saja menyudahi tugasnya di Dusun Bambu. Jalan setapak masih licin, dedaunan bambu menetes pelan, dan aroma tanah basah menggantung di udara 1 Januari 2026, siang. Di tengah suasana yang masih setengah basah itu, bunyi tek-tek-tek genting tiba-tiba muncul. Bukan dari atap, melainkan dari tangan manusia yang berjalan beriringan.
Di barisan paling depan, personel band Lair melangkah sambil menabuh genting. Mereka tidak berdiri di atas panggung, tidak menunggu lampu sorot. Mereka memilih berjalan, memimpin arak-arakan, mengawal bunyi tanah liat agar tidak tersesat di antara lorong-lorong bambu. Genting dipukul pelan, lalu semakin berani, seperti sedang mengetes sejauh mana kesabaran telinga wisatawan.
Tedi Nurmanto, salah satu personel Lair, tampak tak pernah jauh dari bunyi itu. Di sela langkahnya, ia menyimpan alasan yang sederhana sekaligus politis. “Karena kita dari Jatiwangi, Majalengka. Jatiwangi dikenal sebagai penghasil genting terbesar mungkin ya di Jawa Barat, atau bisa dikatakan di Asia Tenggara gitu,” kata Tedi saat ditemui di Dusun Bambu, Kamis (1/12/2025).
Bagi Lair, genting bukan sekadar properti pertunjukan, apalagi aksesoris budaya yang manis difoto. “Jadi kita mencoba mencari bentuk lain, dari tanah liat yang biasanya menjadi genting, tapi kita improv tanah liat menjadi alat musik,” ujar Tedi.
Pawai itu bergerak perlahan, seperti sedang mengajak ingatan berjalan bersama. Wisatawan yang semula berteduh pascahujan, mulai mendekat. Ada yang menerima genting, ada yang mencoba menabuh, ada pula yang tertawa tipis karena ritmenya yang unik. Lair tidak menghentikan siapa pun. Musik ini, rupanya, memang tidak menuntut keterampilan, cukup keberanian untuk ikut bunyi.
“Ini tuh sebenarnya serunya, kita tuh kemarin selama sebulan ada art installation dari Jatiwangi juga,” kata Tedi. Kalimat itu meluncur ringan, tetapi menyiratkan bahwa pawai siang itu bukan ide dadakan. Ada proses panjang, ada tanah yang dikeringkan, dibentuk, lalu disepakati untuk bersuara bersama.
Di tengah arak-arakan itu, Dusun Bambu berubah fungsi. Dari destinasi wisata menjadi lorong budaya berjalan. Dari tempat singgah menjadi tempat singgung—menyentil ingatan kolektif tentang kampung, sahur, dan bunyi yang dulu tak perlu tiket masuk.
Di titik tertentu, ketika rombongan semakin panjang dan bunyi genting kian berlapis, barulah Ari Hermanto, General Manager Dusun Bambu, muncul sebagai penutur konteks. “Hari ini kita tuh ada rampak genting. Jadi keliling sama bersama wisatawan Dusun Bambu, tapi konsepnya obrok-obrok gitu,” katanya.
Obrok-obrok, istilah yang akrab bagi masyarakat Pantura, sengaja dihadirkan ke ruang wisata. Ari menjelaskannya tanpa romantisasi berlebihan. “Obrok-obrok tuh kebiasaan masyarakat pantura ketika membangunkan sahur warga saat Ramadhan. Jadi itu emang konsepnya jadi emang pertunjukan keliling.” “Sebenarnya sih kaitannya sama band yang bakal main sekarang, Lair. Lair itu inspirasinya dari musik obrok-obrok yang ada di wilayah Pantura gitu,” ujarnya.
Sebuah benang merah antara kampung, genting, dan bunyi yang sengaja tidak dirapikan. Karena itu pula, pawai ini dibiarkan bergerak. “Makanya ketika Lair manggung tuh ini jadi salah satu bentuk pertunjukannya bisa mobile, bisa keliling gitu. Menggunakan toa speaker yang udah kita set sebagai instalasi musik ya,” kata Ari.
Gerobak sound system melaju pelan, seperti kendaraan kampanye yang tidak menjual janji, hanya pengalaman. Di tengah industri hiburan yang gemar mengukur perayaan dari besar panggung dan keras suara, Dusun Bambu memilih jalur sebaliknya. “Saya pikir kenapa Dusun Bambu enggak buka tahun baru dengan sesuatu yang seru, makanya kita invite Lair. Toh Band ini juga masih khas Jawa Barat,” ujar Ari.
Pilihan itu terasa makin jelas ketika ia menjelaskan alasan mengapa Lair wajib hadir di tahun yang baru di Dusun Bambu. “Karena musiknya musik dangdut keliling, terus berbau-bau dengan genting, juga etniknya dapet sesuai dengan visi-misi Dusun Bambu ya. Jadi ya kenapa enggak kita kolaborasi sih untuk tahun baru ini sekarang.”
Tanpa hitung mundur, tanpa pesta malam. Hanya siang hari yang basah dan bunyi genting yang tidak mau diam. “Jadi kita ngerayain hari yang baru, tahun yang baru, sesuatu yang baru aja. Dengan sesuatu yang fresh dan menyenangkan,” lanjutnya.
Fresh di sini bukan soal kebaruan ide, melainkan keberanian untuk memanggil ulang yang lama. Interaksi dengan wisatawan menjadi napas acara. “Tadi seru sih, banyak pengunjung yang ikutan juga. Tadi juga kita bagiin-bagiin genting ke pengunjung supaya kita main bareng. Jadi keliling-keliling Dusun Bambu, ramai-ramai,” ujar Ari.
Setelah pawai berkeliling, panggung di tengah danau menggema. Band Lair unjuk gigi memimpin keseruan perayaan tahun baru di Dusun Bambu. Musik dengan khas gaya pantura dan lirik yang antimainstream, memaksa siapapun yang mendengar ikut menggoyangkan badan. “Nah betulan hari ini, hari terakhir udah. Cuma art instalasi dari genting kita masih ada sampai tanggal 10 Januari 2026, minggu depan.”
Ajakan itu terdengar tenang. “Jadi kalau teman-teman mau datang, mau lihat art instalasi dari genting, buat foto-foto, mempelajari tentang genting bisa datang ke sini, Dusun Bambu,” ujarnya.
Siang itu, setelah hujan, genting tidak lagi sekadar penutup atap. Ia menjadi suara, pawai, dan sindiran lembut: bahwa untuk merayakan tahun baru, kita tidak selalu butuh kembang api.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."












