Kepastian Jadwal Musda Golkar Sulsel Masih Tidak Jelas
Jadwal Musyawarah Daerah (Musda) DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan masih belum jelas hingga saat ini. Hal ini menimbulkan berbagai spekulasi di kalangan internal partai, terutama setelah beberapa pertemuan penting yang dilakukan oleh tokoh-tokoh partai.
Ketua Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Sulsel, Rahman Pina, mengunjungi Ketua Umum DPP Golkar, Bahlil Lahadalia di Jakarta pada 5 Januari 2026. Pertemuan tersebut berlangsung sehari sebelum Plt Ketua Golkar Sulsel, Muhidin M Said, mengumumkan penundaan pelaksanaan Musda.
Pertemuan Rahman Pina dan Bahlil mencuat ke ruang publik melalui unggahan Sekretaris Bidang Ekonomi DPP Golkar, Abdul Farisi, di media sosial. Dalam foto tersebut, Rahman Pina tampak duduk tepat di sisi Ketua Umum DPP Golkar. Caption yang ditulis oleh Abdul Farisi menyebutkan, “Mari bung kembali rebut Sulawesi.”
Dari penelusuran, pertemuan itu bukan agenda tunggal Rahman Pina di Jakarta. Pada pagi hari yang sama, Wakil Ketua DPRD Sulsel Fraksi Golkar itu juga tercatat bertemu Muhammad Arief Rosyid Hasan. Arief Rosyid adalah kader muda Golkar yang memiliki kedekatan personal dengan Bahlil.
Rahman Pina sendiri mengakui adanya pertemuan dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil. Namun ia menegaskan agenda tersebut bersifat informal dan tidak membahas secara spesifik Musda Golkar Sulsel. Ia menegaskan bahwa pertemuannya dengan Bahlil murni bersifat silaturahmi.
“Hanya diajak makan siang Papeda oleh Pak Ketum di salah satu restoran Papua di Jakarta. Saya baru tahu ternyata Pak Ketum, meski sudah menteri, selera makannya masih lidah kampung,” ujar Rahman Pina sambil tersenyum kepada Tribun Timur, Jumat (9/1/2026). Rahman Pina bahkan menyebut menu makan siang itu jauh dari nuansa politik. Ia menegaskan tidak ada pembahasan khusus terkait dinamika Musda Golkar Sulsel dalam pertemuan tersebut.
Meskipun demikian, kedekatan waktu antara pertemuan tersebut dan pengumuman penundaan Musda menimbulkan berbagai spekulasi di internal partai. Terlebih, Rahman Pina saat ini menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Golkar Barru. Ia bahkan belum menyatakan sikap terkait arah dukungannya jelang Musda Golkar Sulsel 2026.
Sehari setelah pertemuan di Jakarta, Muhidin M Said menyatakan Musda belum dapat digelar Januari. Alasannya, karena kepengurusan pelaksana tugas belum rampung. Muhidin mengungkapkan, penundaan Musda merupakan kemauan langsung Bahlil. Bahlil meminta agar Musda tidak digelar secara tergesa-gesa sebelum konsolidasi internal benar-benar tuntas.
“Saya lapor ke Ketua Umum di kantor DPP bahwa rencana saya mau gelar Musda cepat. Tapi beliau bilang, ‘jangan dulu bang, sempurnakan dulu di sana, konsolidasi dulu secara keseluruhan supaya kita tahu persis persoalannya’,” ujar Muhidin.
Wakil Ketua Banggar DPR RI itu menjelaskan, konsolidasi awal yang dilakukan sebelumnya belum melibatkan seluruh ketua DPD II kabupaten/kota. Karena itu, DPP menilai Musda Golkar Sulsel belum ideal digelar dalam waktu dekat.
“Yang hadir kemarin (konsolidasi Desember) itu baru sebagian kecil ketua-ketua. Belum lengkap. Tapi Golkar Sulsel tetap berjalan dengan bagus. Insyaallah, kalau saya hubungi, semuanya masih aktif,” katanya.
Olehnya, saat ini fokus utamanya adalah menyempurnakan struktur kepengurusan pelaksana tugas Golkar Sulsel. Penyempurnaan tersebut ditargetkan rampung dalam waktu dekat.
“Kita mau sempurnakan dulu kepengurusannya. Mungkin Minggu ini sudah selesai. Tapi ini Plt ya, bukan definitif. Definitif itu harus melalui Musda,” jelasnya.
Menurut Muhidin, penyempurnaan struktur Plt penting agar roda organisasi berjalan normal dan panitia Musda dapat segera dibentuk. Panitia, kata dia, hanya bisa dibentuk oleh DPD I Golkar Sulsel yang kepengurusannya telah lengkap.
“Kalau Plt sudah sempurna, kita bisa berjalan, kita bisa bentuk panitia Musda. Karena panitia itu dibentuk oleh DPD I,” ujarnya.
Ia menambahkan, proses evaluasi pengurus dilakukan secara menyeluruh. Sejumlah pengurus lama diketahui sudah tidak aktif, meninggal dunia, bahkan ada yang telah berpindah partai.
“Oleh karena itu, semua pengurus kita lihat lagi. Ada yang tidak aktif, ada yang sudah meninggal, dan ada juga yang pindah partai,” kata Muhidin.
Saat ditanya apakah Musda Golkar Sulsel ke depan tetap diarahkan pada mekanisme mufakat atau calon tunggal, Muhidin secara tegas menyatakan keinginannya agar Musda berakhir dengan aklamasi.
“Saya mau aklamasi, supaya tidak ada konflik,” tegasnya. Ia menilai, jabatan ketua partai di daerah sejatinya berfungsi sebagai pelaksana dan pengatur kebijakan partai. Sementara arah politik tetap mengikuti keputusan Bahlil sesuai ketentuan yang berlaku.
“Ketua itu hanya mengatur dan membantu. Keputusan politik itu kan sesuai aturan dan melalui DPP. Di daerah ini pelaksana kepentingan partai,” jelasnya.
Lebih jauh, Muhidin meminta kekompakan internal agar Golkar Sulsel kembali kuat dan fokus pada kepentingan rakyat.
“Kita mau tahu programnya bagaimana, bagaimana mensejahterakan rakyat, dan tidak menjadi alat sesuatu di partai. Saya mau Golkar di Sulsel ini kompak,” ujarnya.
Keinginan aklamasi, kata Muhidin, juga dilandasi pengalaman pahit Musda sebelumnya yang berlangsung ricuh dan melelahkan.
“Saya yang pimpin Musda Golkar Sulsel yang lalu di Jakarta. Dua hari dua malam kita tidak tidur. Akhirnya lahir kepengurusan yang tidak semua didukung kader,” katanya.
Ia berharap, Musda mendatang melahirkan kepemimpinan yang mendapat dukungan penuh seluruh kader agar Golkar Sulsel kembali berjaya seperti masa-masa sebelumnya.
“Siapapun yang jadi ketua nanti harus didukung semua kader. Supaya Golkar bisa kembali seperti masa-masa lalu di Sulsel,” katanya.
Terkait agenda konsolidasi lanjutan, Muhidin menyebut masih menunggu terbitnya surat keputusan (SK) kepengurusan Plt Golkar Sulsel.
“Sekarang ini saya tunggu dulu SK Plt. Setelah itu, baru kita lanjutkan konsolidasi,” katanya.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."












