Keharapan yang Pecah dan Kekecewaan yang Menyebar
Banyak pengunjuk rasa Iran merasa dikhianati oleh Donald Trump, karena janji dukungan yang sebelumnya diberikannya berubah menjadi sikap mundur. Pernyataan Trump yang awalnya memberi semangat kepada demonstran justru berujung pada kekecewaan besar. Ribuan korban tewas dan tuduhan bahwa AS bersekongkol dengan rezim Iran menambah kompleksitas situasi ini.
Bagi banyak warga Iran yang turun ke jalan selama gelombang protes dalam beberapa minggu terakhir, Presiden AS Donald Trump sempat dipandang sebagai sosok “penyelamat”. Keyakinan itulah, menurut para pengunjuk rasa, yang membuat perubahan sikap Trump kemudian terasa seperti sebuah pengkhianatan. Rasa kekecewaan muncul dari perbedaan antara klaim Trump dan tindakannya di lapangan.
Pada awal kerusuhan, Donald Trump secara terbuka menyuarakan dukungan kepada para pengunjuk rasa Iran dan mengeluarkan peringatan keras kepada pemerintah Iran. Trump menyatakan di media sosial bahwa bantuan sedang dalam perjalanan dan kemudian mengatakan bahwa Amerika Serikat siap siaga jika demonstran disakiti. Pernyataan itu memicu harapan besar bagi para pengunjuk rasa.
Namun ketika para pengunjuk rasa kembali turun ke jalan, pemerintah Iran justru memutus komunikasi dan mengerahkan pasukan keamanan. Laporan dari berbagai wilayah menggambarkan adanya tembakan penembak jitu, serangan senapan mesin, serta banyak korban tewas dan orang hilang. Kabar bahwa Departemen Pertahanan AS (Pentagon) memerintahkan sejumlah personel non-esensial meninggalkan pangkalan utama AS di kawasan tersebut secara luas ditafsirkan sebagai persiapan menuju konflik.
Namun kemudian terjadi perubahan arah. Trump mengumumkan bahwa kepemimpinan Iran telah meyakinkannya bahwa mereka akan menghentikan pembunuhan dan eksekusi. Ia pun mengucapkan terima kasih. Bagi para pengunjuk rasa yang meyakini AS akan campur tangan, pengumuman itu menjadi sebuah kejutan besar. Beberapa bahkan menyalahkan Trump atas kematian ribuan orang.
Guncangan emosional itu sangat terasa bagi mereka yang bertindak berdasarkan pernyataan Trump. Mereka merasa bahwa pernyataan Trump telah meningkatkan harapan yang secara langsung memengaruhi keputusan orang untuk berdemonstrasi, hanya untuk melihat dukungan itu menghilang saat paling dibutuhkan. Sebagian meyakini telah terjadi kesepakatan rahasia. Yang lain melihatnya sebagai bentuk ketidakpedulian.
Warga Iran di perantauan juga mengaku merasa dikhianati. Selama dua minggu, mereka menyaksikan penindasan brutal di jalan-jalan Iran. Pesan dari keluarga jarang datang, bahkan nyaris tidak ada, dan pernyataan Trump bahwa bantuan sedang dalam perjalanan menjadi satu-satunya sumber harapan.
Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyalahkan Donald Trump atas demonstrasi selama beberapa minggu terakhir yang menurut kelompok hak asasi manusia telah menyebabkan lebih dari 3.000 kematian. Khamenei menganggap presiden AS sebagai penjahat atas korban jiwa, kerusakan, dan fitnah yang ia timbulkan terhadap bangsa Iran.
Protus terbaru di Iran dimulai pada akhir Desember 2025, dipicu oleh masalah ekonomi, termasuk devaluasi rial, kenaikan harga, dan salah urus keuangan yang membuat kebutuhan pokok sulit dijangkau. Awalnya berfokus pada isu ekonomi, protes tersebut kemudian berkembang menjadi seruan reformasi politik dan perubahan pemerintahan.
Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya? Meski Trump tampak mundur dari potensi serangan, AS sebelumnya menyatakan belum sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan intervensi. Trump telah memperjelas bahwa semua opsi masih terbuka untuk menghentikan pembantaian. Sebuah kapal induk AS dilaporkan sedang menuju Timur Tengah, sementara aset militer dikerahkan kembali untuk memperkuat pertahanan udara Israel—dua indikasi bahwa serangan AS terhadap Iran masih mungkin terjadi.
Di Iran, banyak demonstran kini merasa terombang-ambing dalam ketidakpastian. Terputus dari dunia luar akibat pemadaman internet dan berada di bawah tekanan berat pemerintah, mereka tidak yakin apakah harus kembali turun ke jalan. Protes berhenti sementara. Orang-orang menunggu untuk melihat apa yang akan dilakukan Trump.












