Sejarah dan Keunikan Tahok Pak Citro di Solo
Tahok Pak Citro adalah salah satu kuliner legendaris yang berasal dari Kota Solo, Jawa Tengah. Berawal dari usaha kecil yang dijalankan oleh generasi pertama, kini usaha ini dikelola oleh generasi kedua, yaitu Sentot. Dengan cita rasa yang khas dan cara penyajian yang sederhana, tahok telah menjadi bagian penting dari identitas kuliner Solo.
Awal Mula Usaha Tahok Pak Citro
Pemilik generasi kedua, Sentot, menceritakan bahwa ayahnya mulai menjual tahok sejak tahun 1968 dengan berjualan keliling. Pada masa itu, ia berkeliling dari pasar ke pasar, seperti Pasar Legi, Pasar Ledoksari, hingga Pasar Gede. Baru pada tahun 2004, usaha ini mulai tetap berada di Pasar Gede. Awalnya, ayahnya menggunakan pikulan, namun pada tahun 2010 beralih ke gerobak.
Sentot sendiri mulai menggantikan ayahnya pada tahun 2006. Karena ayahnya sudah tua dan lelah, ia memutuskan untuk membantu. Meski usaha ini telah bertahun-tahun berkembang, ia tetap mempertahankan kesederhanaan dalam pelayanan. Saat ini, tahok disajikan di pinggir jalan dengan gerobak sederhana, dan pelanggan bisa menikmatinya sambil duduk di trotoar atau kursi.
Rasa yang Menghangatkan dan Manfaatnya
Tahok adalah minuman tradisional hasil akulturasi antara budaya Tionghoa dan Jawa. Bahan utamanya adalah kedelai yang dilumatkan hingga lembut, mirip dengan puding atau bubur sumsum. Kuahnya terdiri dari gula merah, jahe, daun serai, daun jeruk, dan daun pandan, memberikan rasa manis hangat yang khas. Minuman ini tidak hanya lezat, tetapi juga dipercaya memiliki manfaat kesehatan. Tahok dapat menghangatkan tubuh, meredakan masuk angin, serta memberikan rasa kenyang.
Menurut kepercayaan tradisional, tahok juga baik dikonsumsi oleh ibu hamil karena diyakini membantu kelancaran persalinan. Karena rasanya yang unik dan manfaatnya, tahok biasa disajikan di pagi hari, dan penjual biasanya mulai beroperasi sejak pukul 05.00 pagi hingga selesai.
Cita Rasa yang Tak Terkalahkan
Meskipun penyajiannya masih sederhana, rasa tahok Pak Citro tidak pernah mengecewakan. Setiap sendok saripati kedelai langsung menyeruak aroma yang kuat. Kuah yang disajikan bersama tahok mirip dengan wedang ronde, dengan campuran jahe dan gula yang mengiringi lembutnya saripati kedelai. Hal ini membuat pengunjung merasa seperti sedang makan di restoran mewah, meski hanya dengan harga Rp 10 ribu.

Asal Usul dan Sejarah Tahok
Tahok memiliki sejarah panjang yang terkait dengan akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa. Kuliner ini mulai dikenal sejak tahun 1950-an, meski awalnya hanya dikonsumsi oleh komunitas Tionghoa yang tinggal di Jawa. Seiring waktu, tahok perlahan diterima oleh masyarakat Jawa hingga akhirnya menjadi bagian dari identitas kuliner Solo.
Keberadaan tahok di Solo diyakini berkaitan dengan kedatangan masyarakat Tionghoa yang mengungsi ke Jawa pasca-kerusuhan etnis di Batavia pada tahun 1740. Para pengungsi tersebut kemudian menetap di Kartasura, wilayah yang tidak jauh dari Solo. Nama “tahok” berasal dari kata “Tao” atau “Teu” yang berarti kacang kedelai dan “Hoa” atau “Hu” yang berarti lumat. Karena pelafalan sulit diucapkan lidah Jawa, nama tersebut disederhanakan menjadi “tahok”.
Harapan untuk Generasi Mendatang
Meskipun saat ini tahok Pak Citro masih dijajakan dengan cara sederhana, Sentot mengaku ingin mengembangkan bisnisnya. Ia berharap anak-anaknya bisa mengembangkan usaha warisan ayahnya suatu saat nanti. Namun, saat ini mereka masih fokus pada karier masing-masing. Sentot menyampaikan bahwa ia meminta calon penerus untuk terus melanjutkan usaha ini, meski saat ini belum siap. Ia berharap suatu saat nanti ada yang bisa menggantikannya.












