
Pada suatu hari siang, mungkin saat pertemuan ke sepuluh atau kesebelas, saya sedikit lupa detailnya. Yang jelas, saya memberikan tugas kepada mahasiswa di kelas Politik Luar Negeri untuk membaca dua artikel berbeda dan kemudian menjelaskan hasil bacaannya di depan kelas.
Beberapa dari mereka agak tidak setuju karena penugasan dilakukan secara acak. Namun, saya menjelaskan bahwa setiap dosen memiliki strategi pedagogi yang disesuaikan dengan kondisi mahasiswa dan capaian mata kuliah.
Mata kuliah yang saya ampu termasuk dalam ranah ilmu sosial, yang membutuhkan banyak membaca. Berbeda dengan ilmu eksakta yang lebih mengutamakan pengukuran kuantitatif, membaca adalah satu-satunya pintu utama untuk memahami fenomena sosial. Dengan membaca berbagai perspektif, mahasiswa bisa menyusun sintesis dari berbagai pandangan yang ada.
Dua minggu sebelumnya, saya berdiskusi dengan seorang profesor dari UPI tentang kondisi mahasiswa di era perkembangan teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kemampuan membaca mahasiswa semakin menurun. Teknologi membuat otak manusia ingin instan dan sulit untuk mendalami isu tertentu.
Banjir informasi tidak membuat kita lebih pintar daripada generasi sebelumnya. Justru, informasi yang terlalu banyak membuat kita kesulitan memilah mana yang penting dan mana yang hanya sampah.
Kemampuan Membaca
Di salah satu kelas kuliah online Prof Bambang Sugiharto, Guru Besar Fakultas Filsafat (FF) Unpar, beliau menjelaskan situasi generasi muda Indonesia dengan jelas:
“Anak muda Indonesia itu buta huruf, artinya bisa baca. Tapi kemampuan menangkap isi bacaan itu, dan mengolah isi bacaan serta digabung menjadi bacaan lain untuk menjadi visi itu rendah sekali. Kemampuan dan analisis sintetiknya itu rendah sekali. Mahasiswa tahun pertama (di Indonesia) itu levelnya hanya setara anak SMP di negara maju.”
Sulit untuk membantah pernyataan ini karena di lapangan, kemampuan mengartikulasikan hasil bacaan masih sangat kurang, tidak hanya pada mahasiswa tetapi juga pada generasi umum di Indonesia, bahkan para pengajar pun kadang tidak mampu.
Saya pernah menemui beberapa orang di komunitas baca yang bahkan tidak mampu mengartikulasikan kembali bacaan yang hanya beberapa halaman. Membaca bukan sekadar proses bagaimana mengeja diksi demi diksi, tetapi melibatkan penalaran. Ketika membaca, pikiran harus ikut aktif dalam merefleksikan apa yang sedang dibaca. Aktivitas membaca merupakan rangkaian kerja kognitif yang menuntut penalaran, bukan sekadar aktivitas mekanis seperti menonton film atau membaca buku fiksi yang bisa dipahami sekali baca.
Jika ingin mengukur apakah mahasiswa memahami bacaan, harus ditugaskan untuk menjelaskan kembali hasil bacaan dengan bahasa sendiri, entah itu dengan cara dipresentasikan atau dituliskan kembali dengan penekanan pada argumen pribadi tanpa harus mengikuti pola artikel ilmiah karena lebih mudah melakukan plagiasi.
Sejak awal perkuliahan, saya seringkali membagikan beberapa referensi mata kuliah sebagai bahan diskusi di kelas. Namun di hampir setiap pertemuan, saya jarang menemukan mahasiswa yang benar-benar sudah membaca referensi sebelum masuk kelas. Padahal, mereka akan mampu berdialektika ketika memiliki cukup referensi bacaan.
Bahkan beberapa kali saya melontarkan pertanyaan retoris kepada mereka:
“Berapa buku yang sudah dibaca dalam sebulan atau bahkan setahun?”
Tidak ada yang percaya diri mengangkat tangan kemudian menjawab jumlah buku yang dibaca. Inilah realitas yang harus dihadapi, tidak hanya menjadi masalah mereka tetapi juga sistem pendidikan secara umum.
Masalah ini harus menjadi perhatian bagi pengajar untuk bertumbuh bersama mahasiswa sembari perlahan demi perlahan memahamkan bahwa mahasiswa punya kewajiban moral untuk meningkatkan kompetensinya, salah satunya dengan memperbanyak referensi bacaan.
Memang, semua mahasiswa tidak bisa digeneralisasi dengan standar yang sama karena mereka memiliki keunikan masing-masing, namun pada aspek membaca dan menulis, ada standar minimal yang mereka harus penuhi salah satunya adalah kemampuan untuk memahami bacaan dan menuliskan kembali hasil bacaan sesuai dengan argumen masing-masing.
Bagaimana Memberikan Tugas Kepada Mahasiswa
Minggu kedua di awal tahun 2026, kampus kami UNISA Bandung, memasuki masa-masa Ujian Akhir Semester (UAS). Persiapan sudah dimatangkan jauh hari sebelumnya, baik oleh dosen yang harus menyusun soal-soal maupun oleh mahasiswa yang harus membaca kembali materi bahan kuliah yang sudah dipelajari.
Dari observasi di setiap pertemuan kelas, saya menyimpulkan bahwa ada dua hal yang harus ditingkatkan pada mahasiswa yang mengambil mata kuliah di kelas saya yaitu kemampuan membaca dan menuliskan kembali hasil bacaannya.
Dari hipotesis tersebut, saya sudah merancang dari awal bahwa penugasan UAS yang akan saya wajibkan kepada mahasiswa yaitu tugas menyusun opini populer.
Kenapa opini populer?
Pertimbangan saya pada beberapa hal yang kontekstual dengan masalah yang saya temukan di kelas. Alih-alih memberikan tugas artikel jurnal ilmiah, saya menugaskan menulis opini populer karena mereka akan lebih mengelaborasi argumen pribadi dengan bahasa yang lebih umum, tentu mereka harus menuliskan sendiri tanpa menggunakan ChatGPT. Tulisan dalam bentuk opini populer yang dihasilkan dari ChatGPT terlalu sistematis, maka identifikasinya akan lebih mudah.
Oh iya, tentu saya bukan generasi konvensional yang menolak perkembangan AI tetapi juga tidak sepakat jika setiap tugas dihasilkan dari AI tanpa dinalar kembali oleh Penulisnya.
Selain itu, menulis opini populer membutuhkan referensi dari hasil bacaan maka mau tidak mau, mereka harus membaca kasus tertentu sebelum menuangkan dalam sebuah tulisan.
Opini populer memberikan mereka kebebasan untuk menuangkan ide-idenya yang liar tanpa harus dibatasi oleh sistematika penulisan yang terlalu kaku. Mereka akan lebih bebas untuk menjelaskan apa argumen pribadi pada kasus tertentu yang akan dibahas.
Saya menikmati membaca tugas-tugas mahasiswa yang dibahasakan dengan lebih populer. Pada beberapa tugas yang sudah saya baca, saya serasa sedang berdiskusi dengan mahasiswa dan membayangkan mereka sedang memaparkan tugasnya di depan saya.
Sebelum menulis artikel ini, saya sudah membaca dua tugas dari mahasiswa yang sudah mengumpulkan berjudul, pertama “Strategi Cerdas Jokowi Membangun Diplomasi Antar Negara Melalui G20.” Kedua, “Gagal Jadi Pemimpian ASEAN: ‘Ketika Jokowi Pilih Urus Dalam Negeri Ketika Myanmar Berdarah.'”
Saya memvisualisasikan Ilham dan Wildan ketika membaca tulisan mereka dengan struktur bahasa lisan mereka. Tentu masih ada sistematika dan penulisan yang kurang pas tetapi paling tidak, ide yang mereka sampaikan sudah memadai.
Demikianlah, saya menikmati membaca tulisan mahasiswa yang autentik.
“Baca buku itu tidak bisa digantikan dengan Tiktok atau Film karena kerja otak hanya bisa dilatih tajam kalau otak berdialog yaitu dengan baca buku.” (Prof Karlina Supelli)












