Guru SMK Jambi yang Disebut ‘Prince’ oleh Siswa Akui Nyaman

Pengakuan Guru yang Dikeroyok Siswa di SMK Negeri 3 Berbak

Agus Saputra, seorang guru Bahasa Inggris di SMK Negeri 3 Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, akhirnya angkat bicara mengenai panggilan unik yang diberikan oleh siswanya. Ia membenarkan bahwa dirinya dipanggil dengan sebutan “prince” oleh para siswa di lingkungan sekolah. Sebutan ini menurut Agus merupakan cara akrab untuk berinteraksi dengan murid-muridnya.

Agus menyatakan bahwa panggilan tersebut membuatnya merasa nyaman dalam menjalankan tugas sebagai guru. Namun, ia juga mengungkap bahwa selama 15 tahun mengajar di sekolah tersebut, ia sering menerima panggilan tidak pantas dan kata-kata kasar dari siswa. Menurutnya, siswa yang sering bersikap kasar kepadanya adalah sosok yang sama setiap tahun.

“Anak yang berkata kasar itu anak yang sama sepanjang tahun selalu mengajak saya untuk berantem,” ujarnya. Meski telah didamaikan oleh pihak sekolah, siswa tersebut tetap mengulangi perbuatannya.

Pengakuan dari salah satu siswa, MLP, menyebutkan bahwa Agus ingin dipanggil dengan sebutan “prince” karena jika dipanggil “bapak”, ia tidak ingin marah. Hal ini terjadi saat kelas sedang ramai dan MLP spontan meminta teman-temannya diam. Peristiwa ini justru memicu reaksi keras dari guru tersebut.

Agus Saputra juga mengaku bahwa ia sempat melakukan kekerasan terhadap siswa hingga berujung pada pengeroyokan. Ia menjelaskan bahwa tindakan tersebut dilakukan secara refleks karena ditegur dengan nada tidak sopan oleh siswa. “Saya hanya membela diri. Bisa dilihat di video,” katanya.

Persoalan Pengeroyokan dan Kekerasan

Situasi semakin memanas ketika para siswa menuntut permintaan maaf dari Agus karena dianggap telah menghina orang tua salah satu siswa. Meskipun sudah dimediasi oleh guru lain dan komite sekolah, sang guru justru membahas hal lain yang memicu kekecewaan. Puncak pengeroyokan terjadi saat Agus dibawa ke kantor oleh Bapak Komite.

MLP mengklaim bahwa Agus mengejek dan tersenyum sinis ke arah para siswa. Saat mendekati untuk meminta kejujuran, ia justru mendapat bogem mentah. Melihat aksi Agus yang meninju, siswa meradang hingga mengeroyok sang guru.

Agus menjelaskan bahwa ia sempat diajak komite sekolah seusai mediasi. “Saya diajak komite masuk ke ruang kantor, di saat itulah terjadi pengeroyokan oleh anak kelas 1, kelas 2, kelas 3,” ujarnya. Dalam salah satu potongan video, Agus terlihat membawa celurit. Ia menjelaskan bahwa alat tersebut merupakan alat pertanian yang tersedia di sekolah karena SMKN 3 Tanjab Timur merupakan SMK Pertanian.

Tindakan Hukum dan Laporan ke Polda

Setelah kejadian tersebut, Agus Saputra resmi melapor ke Polda Jambi. Ia didampingi kakaknya, Nasir, dan melakukan pembuatan laporan polisi hampir empat jam. Nasir menyatakan bahwa langkah hukum ini diambil karena adiknya merasa dirugikan secara mental setelah kasus ini viral di media sosial.

“Kondisi adik saya sedikit pusing, kita bikin laporan dari jam empat sore. Adik saya dirugikan secara mental dan sikis terlebih di medsos. Karena kita warga negara kita berhak melapor,” ujarnya. Ia juga menyebutkan bahwa Agus telah melakukan visum, di mana ada beberapa luka lebam di tubuhnya yang akan menjadi bukti untuk pihak kepolisian.

Agus yang hadir ke Polda Jambi enggan memberikan banyak komentar atas kejadian ini. Diketahui laporan tersebut ditujukan ke beberapa siswa dalam video yang viral di media sosial. Nasir mengatakan ada lebih dari satu orang yang dilaporkan.

Penyebab Keroyokan

Agus mengakui bahwa dirinya melontarkan kata-kata yang diduga menyinggung perasaan siswa. Kata-kata tersebut menyinggung soal ekonomi siswa yang kurang mampu. “Saya menceritakan secara umum, saya mengatakan kalau kita orangnya kurang mampu itu kalau bisa jangan bertingkah macam-macam itu secara motivasi,” ungkapnya.

Sebab itu, dia berharap kasus tersebut ada yang memediasi. “Kalau seandainya ini tambah viral dimanapun, saya berharap ini ada yang menengahkan khususnya dinas pendidikan atau juga pihak yang berwenang untuk menyelesaikan persoalan ini agar tidak berlarut-larut,” harapnya.


Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?