Kehidupan Komuter Jakarta di Tengah Hujan dan Galian Jalan
ALRAM berbisik jam 4 pagi. Saya turun dari tempat tidur dengan perasaan dongkol. Capek!
Tidak, ini bukan karena kurang tidur. Saya kesel karena saya tahu situasi yang akan saya hadapi di jalan. Hujan deres, macet parah, dan galian jalan yang tidak pernah selesai.
Saya membuka aplikasi maps dan melihat semua jalur merah semu. Lalu, saya buka group WhatsApp. Isinya keluhan yang sama: jalan masih digali, sekarang malah jadi kolam ikan lele, gurame, patin, dan semua teman-temannya kecuali ikan sapu-sapu.
Masalahnya, kita harus tetap berangkat ke kantor, kan? Karena pekerjaan tidak peduli dari mana kita berasal—Depok, Bekasi, Tangerang, atau ujung dunia sekalipun. Kita harus sampai di kantor. Titik.
Itulah kehidupan komuter Jakarta, terutama saat musim hujan dan jalan sedang digali.
Rasanya Melewati Jalan yang Sama Tiap Hari
Kalian tau nggak sih rasanya melewati jalan yang sama tiap hari, dengan kondisi yang makin parah setiap hari? Bulan lalu, jalanan ini masih mulus. Tiba-tiba digali. “Ada proyek kabel bawah tanah,” katanya. Oke, fine. Perubahan terhadap teknologi itu bagus.
Tapi udah sebulan. Galangannya masih disitu. Nggak ada yang kerja. Nggak ada yang nutup. Cuma ada lubang besar di tengah jalan yang sekarang jadi kolam.
Hujan turun. Lubang galian jadi genangan. Genangan jadi banjir mini. Mobil-mobil terpaksa antri satu jalur. Macet. Motor nekat lewat pinggir saling serobot, nggak ada yang mau ngalah karena kerjaan kita harus sampe kantor. Titik.
Besoknya? Sama. Lusa? Sama. Minggu depan? Masih sama. Tau nggak yang paling nyebelin itu apa? Nggak ada papan peringatan yang bener. Nggak ada lampu pengaman. Cuma cone plastik oranye yang udah pada miring. Kalau malem, kalian bisa kaget tiba-tiba ada lubang gede banget di depan mata.
Berkali-kali saya lihat motor nyungsep gara-gara nggak liat lubang galian. Kasian kan?
Waktu yang Terbuang dan Stres yang Menumpuk
Kalian tau nggak sih gimana rasanya berangkat jam 5 pagi, sampai kantor jam 9? Empat jam. Buat jarak yang harusnya cuma sejam. Karena kombinasi mematikan antara hujan, macet, sama galian jalan yang nggak kelar-kelar.
Hujan bikin jalan licin. Galian bikin jalan sempit. Macet jadi nggak terhindarkan. Kita semua tau (menurut keyakinan saya) pembangunan itu penting, kita juga sadar kalau infrastruktur harus diperbaiki. Cuma yang saya nggak ngerti itu kenapa harus digali barengan? Kenapa harus pas musim hujan? Terus kenapa selalu berulang-ulang? Bulan ini PLN, bulan besok PDAM, bulan besoknya lagi Telkom. Gitu aja terus sampai Jakarta tenggelem.
Dampak yang Lebih Parah dari Sekadar Macet
Siapa yang rugi? Kita. Para komuter. Yang cuma mau pulang-pergi kerja dengan aman, nyaman lancar jaya. Udah gitu doang! Yang bikin capek itu bukan cuma galiannya. Tapi siklusnya.
Tahun lalu, jalan A digali. Macet. Kita sabar. Eh… beres. Bagus. Seneng.
Tahun ini, jalan B digali. Macet lagi. Kita sabar lagi.
Terus jalan C digali. Jalan D digali. Jalan E digali.
Semuanya barengan. Semuanya pas musim hujan. Kita nggak punya jalan alternatif. Semua jalan lagi digali. Yang bikin kocak itu, kemana aja kita coba cari jalan pasti ketemu galian.
Yang paling nyesek… ada jalan yang baru diperbaiki tahun lalu, sekarang digali lagi. Kenapa? Katanya ada proyek kabel bawah tanah. Katanya ada proyek pipa air. Katanya ada proyek ini-itu.
Kenapa nggak dikerjakan barengan aja dari awal? Kenapa harus digali, ditutup, digali lagi?
Harapan untuk Pembenahan yang Lebih Baik
Saya yakin masyarakat nggak minta banyak. Kita cuma mau:
- Kalau mau gali, selesaikan. Jangan digali terus ditinggal berhari-hari. Kerja yang konsisten. Ada time line yang jelas.
- Koordinasi antar proyek. Jangan sampai jalan yang sama digali berkali-kali dalam setahun buat proyek yang beda-beda. Rencanakan dari awal. Kerjakan barengan.
- Beri info yang jelas. Papan proyek yang jelas, dikerjakan kapan, selesai kapan, kontraktor siapa, contact person siapa. Biar kita tau harus komplain kemana.
- Jangan pas musim hujan. Ini common sense. Galian pas musim hujan itu menyusahkan semua orang. Galian jadi genangan. Pekerjaan jadi lambat. Semua orang rugi.
Tapi… kayaknya ini terlalu banyak minta? Kayaknya juga nggak mungkin juga dilakukan, kan?
Sejujurnya, saya capek. Capek harus bangun lebih awal. Capek macet berjam-jam. Capek lihat galian yang sama berbulan-bulan nggak selesai. Capek ngeluh nggak ada yang dengerin.
Jadi, ya, udah. Besok? Sama. Lusa? Sama. Sampai jalan ini selesai. Sampai… entah kapan.
Hujan masih turun. Galian masih terbuka. Macet nggak pernah habis.
Saya masih harus berangkat kerja. Karena hidup harus jalan. Meskipun jalannya nggak.












