Sejarah dan Perkembangan Pelabuhan Belinyu
Pelabuhan Belinyu di Tanjung Gudang memiliki perjalanan sejarah panjang yang mencerminkan peran pentingnya dalam perdagangan dan transportasi di wilayah utara Pulau Bangka. Dari masa kolonial hingga kini, pelabuhan ini terus berkembang menjadi salah satu titik penting dalam kegiatan ekonomi daerah.
Masa Kolonial dan Awal Pembangunan
Pada masa kolonial Belanda, Pelabuhan Belinyu masih berupa dermaga lokal sederhana dengan konstruksi kayu dan balok sepanjang sekitar 50 meter. Meskipun bukan tujuan utama persinggahan kapal, pelabuhan ini tetap menjadi bagian dari jaringan pelabuhan kolonial. Pada waktu itu, pelabuhan digunakan untuk mengekspor timah serta komoditas lainnya.
Berdasarkan arsip kolonial Belanda, seperti Besluit atau Almanak Hindia Belanda, tercatat bahwa pada 16 Juli 1913, pelabuhan Belinyu resmi dibuka sebagai kawasan perdagangan. Hal ini menunjukkan peran administratif yang penting dalam struktur pelabuhan kolonial di Hindia Belanda.
Perkembangan Fisik dan Fasilitas
Sejak tahun 1970-an, Pelabuhan Belinyu masih berbentuk dermaga kayu. Pada tahun 1990-an, dermaga tersebut diubah menjadi konstruksi beton dan diperpanjang hingga permanen. Sejak saat itu, pelabuhan terus berkembang hingga menjadi salah satu pelabuhan penting di utara Pulau Bangka.
Pada tahun 1980-an, pelabuhan Belinyu lebih aktif dengan posisi sebagai pelabuhan lokal meskipun masih menggunakan dermaga kayu. Saat itu, pelabuhan sudah dilengkapi dengan fasilitas gudang untuk kepentingan disposisi barang perdagangan, seperti gudang kayu, gudang kaolin, dan gudang pengolahan ubur-ubur.
Aktivitas Ekonomi dan Pengusaha Lokal
Pada periode 1970-1980-an, tingkat sosial ekonomi masyarakat Belinyu sangat maju dan cukup berkontribusi. Pelabuhan Belinyu aktif mengekspor kaolin dan barang dagang lainnya ke luar. Salah satu pengusaha Tionghoa bernama Ajat memiliki armada kapal kayu dan truk pengangkut barang dengan merk Chevrolet, Dodge, Ford hingga Mercedes Benz.
Kapal-kapal milik Ajat tujuan ke Jakarta, Palembang, Jawa, dan Surabaya dengan membawa berbagai macam barang komoditas dagang seperti cengkeh, kopra, dan lada/sahang. Kapal-kapal tersebut juga digunakan sebagai kapal penumpang.
Namun, sejak tahun 1980-an jumlah kapal milik Ajat menyusut, kemungkinan karena perkembangan transportasi darat dan perubahan kondisi ekonomi.
Peran Pelabuhan dalam Transportasi Penumpang
Pada masa lalu, pelabuhan Belinyu aktif menjadi tempat kapal besar penumpang bersandar dengan jadwal seminggu dua kali masing-masing kapal, dengan tujuan Tanjung Priok di Jakarta. Kapal-kapal penumpang seperti KM Bukit Raya dan KM Sirimau pernah masuk ke pelabuhan Belinyu.
Namun, seiring waktu, rute kapal berkurang, terutama setelah adanya pelabuhan Pangkalbalam yang lebih efektif melayani tujuan para penumpang melalui ASDP. Tiket pesawat yang murah dan banyaknya maskapai membuat masyarakat lebih memilih naik pesawat.
Proyek Pengembangan Pelabuhan
Berdasarkan data teknis transportasi wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Pelabuhan Tanjung Gudang di Belinyu dibangun sekitar tahun 1996 sebelum terbentuknya Provinsi Bangka Belitung Belitung tahun 2000.
Upaya pengembangan infrastruktur dari pemerintah provinsi bersama berbagai pihak dilakukan untuk menjadikan Pelabuhan Tanjung Gudang Belinyu sebagai pelabuhan ekspor-impor berkapasitas lebih besar. Rencana ini mencakup pengerukan alur pelayaran agar bisa melayani kapal-kapal yang lebih besar dan lebih dalam, termasuk rute kapal penumpang dan kapal barang.
Pembangunan dermaga dan perpanjangan fasilitas pelabuhan Belinyu dilakukan atas prakarsa Kementerian Perhubungan melalui PT Pelindo serta dorongan DPRD Provinsi Babel. Tujuannya adalah menjadikan kawasan pelabuhan Belinyu sebagai pintu ekspor-impor utama.












