Hari Jumat, Hari yang Penuh Keberkahan
Hari Jumat adalah hari istimewa dan dianggap sebagai Sayyidul Ayyam (Penghulunya Hari) yang penuh keberkahan bagi umat Islam. Pada hari ini, salat Zuhur digantikan oleh salat Jumat yang wajib dilaksanakan oleh kaum lelaki Muslim yang sudah balig, sehat, dan berakal. Hari Jumat memiliki makna tersendiri dibandingkan dengan hari-hari biasanya.
Pada hari tersebut, kaum lelaki dari umat Islam yang telah balig, sehat, dan berakal, diwajibkan untuk melaksanakan salat dua rakaat yang menggantikan salat zuhur. Salat pada hari Jumat hanya terdiri dari 2 rakaat, yang diawali dengan khutbah Jumat oleh khatib. Khutbah Jumat merupakan ceramah yang disampaikan khatib sebelum salat, yang juga termasuk salah satu syarat dan rukun dalam salat Jumat.
Berbicara tentang hari Jumat merupakan Sayyidul Ayyam atau Penghulunya Hari, Jumat pun diyakini oleh kaum muslimin sebagai hari yang penuh keberkahan. Di dalam hari Jumat, salat Zuhur pun berganti menjadi Salat Jumat.
Beberapa syarat pun berlaku dalam pelaksanaan khutbah pada sholat Jumat, diantaranya:
- Khatib harus laki-laki, baligh, berakal, suci dari hadast besar dan kecil, menutup aurat dan bisa membedakan antara sunnah dan rukun khutbah.
- Khutbah harus diperdengarkan dan didengarkan oleh jamaah sholat Jumat.
Dalam bekhutbah sang khotib bebas menerangkan perihal ketaan kepada Allah Subhana Wata Alaa. Ada berbagai jenis topik khutbah Jumat, namun kali ini kita mengulas salah satu tema berjudul Tanda Lemahnya Iman Seorang Muslimin.
Tanda Lemahnya Iman Seorang Muslimin
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
وَقَالَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ. أَمَّا بَعْدُ:
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Kami wasiatkan kepada diri kami, juga kepada jamaah sekalian dengan wasiat yang sangat mulia. Mari tingkatkan iman dan takwa kita kepada Allah ‘azza wajalla. Mari pegang teguh syariat-syariat-Nya.
Mari tegakkan syariat shalat wajib lima waktu. Mari tunaikan hak-hak dan kewajiban-kewajiban kita sebagai hamba Allah ‘azza wajalla dengan sebaik-baiknya. Tidak ada bekal yang dapat menyelamatkan kita dari siksa api neraka kecuali dengan bekal iman dan takwa kepada Allah ‘azza wajalla.
Mari tingkatkan ketakwaan dan ketaatan kita kepada syariat Allah ‘azza wajalla. Ketahuilah, seburuk-buruk umat adalah umat yang suka melanggar syariat-syariat Allah ‘azza wajalla. Seburuk-buruk umat adalah umat yang tidak mau taat kepada Allah ‘azza wajalla.
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Kita meyakini dengan pasti bahwa iman itu dapat bertambah juga dapat berkurang. Iman akan bertambah dengan amal ketaatan. Iman akan berkurang dengan amal kemaksiatan dan dosa. Melemahnya iman seseorang tentu ada tandanya, dan tanda tersebut tidak hanya satu. Tanda-tanda lemahnya iman ini harus kita pahami dan perlu diingat serta kita jadikan bahan muhasabah dan evaluasi diri setiap hari. Dengan mengenali tanda lemahnya iman, kita berhadap kepada Allah ‘azza wajalla agar kita mampu mengendalikan diri sehingga kita memiliki kesempatan untuk menjaga iman kita agar tidak terus merosot.
Bukan tanpa alasan jika iman seorang muslimin terbolakbalik hatinya dalam keimanan setiap harinya. Namun bagaimana kita sebagai muslimin bisa menjaga kualitas iman tersebut, karena iman seorang muslim ada dijari-jemari sang pencipta dan mudah bagi Allah untuk membalikannya di detik manapun sesuai keinginan dan kehendaknya. Jika sampai itu tiba, dan keimanan seorang melemah sedang Allah beniat membalikan keimanannya maka habislah cerita. Bahkan manusia terbaik SalaLlahu Alaihi Wasalam, yang telah dijanjikan surga didepan matanya pun setiap detik meminta agar Allah, Tuhannya menjaga hati dan iman dalam dadanya agar tak hilang dari genggaman sang khalik, lantas bagaimana dengan kita yang belum pasti akan ke neraka atau ke syurga?
9 Tanda Melemahnya Iman Seorang Muslimin
Dalam pembagiannya tanda melemahnya iman seseorang dikategoroikan dengan 9 tanda, diantaranya :
Pertama: Malas melaksanakan amal ketaatan dan cenderung meremehkannya
Tanda lemahnya iman yang paling mudah dikenali adalah tumbuhnya rasa malas untuk melaksanakan amal ketaatan. Tanda yang lebih serius dari itu adalah meremehkan amal ketaatan. Terutama yang sifatnya amal tambahan atau nafilah. Dalam (QS. An-Nisa’: 142) Allah ‘azza wajalla berfirman,
وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ
“Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas.”
Tanda ini sangat jelas terlihat bagi mereka yang malas melaksanakan amal ketaatan, tumbuh dari sikap kurangnya rasa kepedulian terhadap hukum dan keutamaan amal ketaatan tersebut. Akhirnya ia mulai meremehkan kedisiplinan waktu pelaksanaan amal ketaatan. Seolah, ia telah kehilangan harapan besar untuk mengharap pahala dari Allah ‘azza wajalla.
Tanda lemahnya iman berupa malas ibadah ini terwujud dalam sikap menunda pelaksanaan haji padahal ia mampu, mundur dari medan perang padahal dia mampu untuk maju, menunda pelaksanaan shalat wajib padahal tidak ada uzur, bermalas-malas mendatangi shalat Jumat padahal dalam kondisi longgar. Dimana tanda ini sangat bertolak belakang dengan apa yang difirmankan Allah ‘azza wajalla, dalam (QS. Al-Anbiya: 90)
فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ ۖوَوَهَبْنَا لَهٗ يَحْيٰى وَاَصْلَحْنَا لَهٗ زَوْجَهٗۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا يُسٰرِعُوْنَ فِى الْخَيْرٰتِ وَيَدْعُوْنَنَا رَغَبًا وَّرَهَبًاۗ وَكَانُوْا لَنَا خٰشِعِيْنَ
“Maka Kami kabulkan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sungguh, mereka selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami.”
Kedua: Melakukan kedurhakaan dan dosa
Tanda selanjutnya adalah, melakukan kedurhakaan dan dosa. Jika diri kita mulai merasa ringan melakukan kedurhakaan, perbuatan dosa, dan perbuatan maksiat, bisa jadi iman kita sedang melemah. Terlalu sering melakukan kedurhakaan bisa berubah menjadi kebiasaan. Jika telah menjadi kebiasaan, otomatis ia akan merasa berat untuk meninggalkannya. Secara perlahan, rasa takut dan kesadaran bahwa itu adalah perbuatan dosa pun akan hilang dari lubuk hatinya. Akhirnya, pelakunya mulai berani melakukan kedurhakaan secara terang-terangan.
Tanda ini sama seperti apa yang dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam [HR. Al-Bukhari No. 6069; HR. Muslim No. 2990]
كُلُّ أُمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ، فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ
“Semua umatku dimaafkan kecuali orang-orang yang melakukan dosa dengan terang-terangan. Dan sesungguhnya termasuk melakukan dosa dengan terang-terangan adalah seseorang melakukan suatu dosa di waktu malam hari, kemudian ketika pagi dia berkata (kepada orang lain), ‘Hai Fulan, tadi malam aku melakukan ini dan itu!’, padahal di waktu malam Rabbnya telah menutupinya (yaitu tidak ada orang yang mengetahuinya), namun di waktu pagi dia membongkar tirai Allah terhadapnya (yaitu menyampaikan kepada orang lain).”
Ketiga: Tidak marah jika menyaksikan pelanggaran syariat
Tanda yang sering kita saksikan selanjutnya adalah tidak adanya rasa marah jika menyaksikan pelanggaran syariat. Entah itu pelanggaran terhadap hal-hal yang haram, atau pelanggaran terhadap aturan-aturan syariat Islam lainnya. Mengapa demikian? Sebab ghirah dalam hatinya telah padam, sehingga anggota tubuhnya tidak mampu lagi mengingkari pelanggaran-pelanggaran syariat tersebut. Dari mimik wajahnya pun, samak sekali tidak ada perubahan ekspresi ketika melihat kemungkaran terjadi. Lagi- lagi inilah tanda iman sedang lemah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, dalam (HR. Abu Daud No. 4345)
إِذَا عُمِلَتْ الْخَطِيئَةُ فِي الْأَرْضِ كَانَ مَنْ شَهِدَهَا فَكَرِهَهَا وَقَالَ مَرَّةً أَنْكَرَهَا كَانَ كَمَنْ غَابَ عَنْهَا وَمَنْ غَابَ عَنْهَا فَرَضِيَهَا كَانَ كَمَنْ شَهِدَهَا
“Jika ada satu kemaksiatan dikerjakan di muka bumi, maka orang yang melihat lalu membencinya,” dalam riwayat lain, “Lalu ia mengingkarinya, ia seperti orang yang tidak melihatnya. Sedangkan bagi orang yang tidak melihatnya, namun ia ridha dengan kemaksiatan tersebut, maka ia seperti orang yang melihatnya.”
Keempat: Menilai sesuatu dengan standar dosa atau tidak dosa, mengabaikan standar hukum makruh.
Tanda selanjutnya, yakni menilai sesuatu dari sisi terjadinya dosa atau tidak, serta tidak mau melihat dari sisi perbuatan yang makruh, merupakan tanda lemahnya iman. Sebagai contoh : sebagian orang ketika hendak melakukan suatu pekerjaan, maka dia tidak bertanya tentang pekerjaan yang baik, tetapi dia bertanya apakah pekerjaan ini menjurus kepada dosa atau tidak, apakah pekerjaan itu menjurus kepada dosa atau tidak, haram atau sekedar makruh saja?
Kondisi kejiwaan seperti ini dapat menyeret dirinya kepada syubhat dan perbuatan-perbuatan yang dimakruhkan. Lambat laun menjurus kepada hal-hal yang diharamkan. Mengapa demikian? karena pelakunya tidak memiliki proteksi untuk tidak melakukan perbuatan yang dimakruhkan atau pekerjaan yang syubhat meskipun memang hal tidak tergolong perbuatan yang diharamkan. Tanpa kita sadari, fenomena ini persis seperti yang pernah digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ أَلاَّ وِإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ
“Sebagaimana ada penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya.”
Kelima: Dada terasa sesak, perilaku mulai memburuk
Jika dada kita mulai sering terasa sesak, mudah gelisah karena urusan remeh, diikuti dengan perubahan perilaku yang semakin buruk, seperti sebelumnya tidak melakukan suatu kemaksiatan lalu tiba-tiba melakukannya, sebelumnya tidak melakukan suatu dosa tiba-tiba tumbuh keinginan untuk melakukannya, maka kita perlu waspada. Ini adalah salah satu tanda lemahnya iman.
Iman yang melemah akan menjadikan dadanya terasa sesak dan sempit. Allah ‘azza wajalla sirnakan rasa lapang dari hatinya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam (Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah No. 554),
اَلْإِيْمَانُ: اَلصَّبْرُ وَالسَّمَاحَةُ
“Iman ialah kesabaran dan kelapangan hati.”
Keenam: Jarang membaca al-Quran dan zikir
Sudah berapa lama kita tidak membaca al-Quran? Sepekan, sebulan, atau bahkan setahun? Berapa sering kita berzikir mengingat Allah ‘azza wajalla, hanya setelah shalat saja, atau setelah shalat pun tidak berzikir dan langsung keluar masjid? Maka, waspadalah, karena lalainya kita dari membaca al-Quran adalah tanda lemahnya iman. Kenapa bisa demikian? Orang yang imannya kuat adalah orang yang selalu mengingat Allah ‘azza wajalla. Di mana pun dan kapan pun. Ia memiliki semangat untuk terus menggali makna di balik ayat-ayat Allah ‘azza wajalla. Artinya, interaksi dirinya dengan al-Quran tentu sangat sering. Sebaliknya, orang yang lemah imannya adalah orang yang paling lali dari mengingat Allah ‘azza wajalla. Jangankan menggali makna di balik ayat-ayat al-Quran, membacanya saja ia tidak ada keinginan, berzikir saja jarang.
Ketujuh: Gila hormat, jabatan, dan ketenaran
Jika diri kita mulai merasa nyaman dan sangat menikmati pujian orang lain, sangat menikmati ketenaran, sangat menikmati gelar dan jabatan, tanpa diiringi ketakwaan kepada Allah ‘azza wajalla, maka kita patut untuk waspada. Sebab semua itu merupakan tanda lemahnya iman. Fenomena seperti ini telah jauh-jauh hari diperingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتْ الْفَاطِمَةُ
“Kalian akan rakus terhadap jabatan, padahal jabatan itu akan menjadi penyesalan dihari kiamat, ia adalah seenak-enak penyusuan dan segetir-getir penyapihan.” (HR. Al-Bukhari No. 7146)
Kedelapan: Tidak peduli dengan urusan kaum muslimin
Tidak peduli dengan kondisi kaum muslimin dan hanya mementingkan urusan pribadi adalah salah satu tanda lemahnya iman. Sikap ini terwujud dalam banyak hal. Ketika ada saudara muslim yang tertimpa musibah, tidak mau menolongnya. Saudara muslim Uighur Turkistan Timur berada dalam kondisi penindasan agama; kalau shalat ke masjid, ditangkap dan dipenjara, kalau mengenakan jilbab, ditangkap dan dipenjara, kita sama sekali tidak peduli, tak mau mendoakan mereka. Padahal kita tahu tentang itu. Ini adalah tanda lemahnya iman kita. Ada saudara kita yang terkena musibah banjir, kita diam saja. Tidak mau bergerak menolong mereka. Bahkan, mendoakan mereka saja, kita enggan. Ini adalah tanda lemahnya iman kita.
Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,
إِنَّ الْمُؤْمِنَ مِنْ أَهْلِ الْإِيمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ يَأْلَمُ الْمُؤْمِنُ لِأَهْلِ الْإِيمَانِ كَمَا يَأْلَمُ الْجَسَدُ لِمَا فِي الرَّأْسِ
“Sesungguhnya kedudukan orang mukmin dalam bagian orang-orang beriman itu laksana kedudukan kepala pada badan, ia akan merasakan penderitaan yang menimpa orang-orang beriman sebagaimana jasad yang ikut menderita karena rasa sakit di bagian kepala.” (HR. Ahmad No. 22877)
Kesembilan: Tidak tergugah untuk beramal bagi kepentingan Islam dan kaum muslimin
Tanda lemahnya iman seseorang yang berikutnya adalah tidak tergugah hatinya untuk beramal untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin. Tidak mau berusaha berkontribusi pada hal-hal yang menyangkut kepentingan Islam dan kaum muslimin. Bekerja hanya bertujuan mencari harta untuk kepentingan pribadi. Memiliki usaha, hasilnya hanya untuk menambah harta pribadi, membangun rumah yang megah, membeli mobil di luar batas kebutuhan. Memiliki kelebihan kemampuan fisik dan skill hanya digunakan untuk memperkaya diri sendiri. Dari semua itu, sama sekali tidak ada yang dialokasikan untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin. Ini semua adalah tanda lemahnya iman kita. Sangat jauh berbeda dengan karakter para sahabat yang berada di sekeliling Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Kesepuluh: Berlebihan dalam urusan duniawi
Tanda lemahnya iman yang kesepuluh adalah berlebihan dalam urusan duniawi. Jika kita merasa berada pada batas berlebihan dalam urusan makan dan minum, makan harus di restoran yang mewah, minum harus minuman yang bermerek, maka kita perlu waspada. Ini merupakan tanda iman kita sedang melemah. Jika kita merasa berada pada batas berlebihan dalam urusan pakaian, beli baju harus mahal, beli sepatu harus branded, beli kendaraan harus yang mahal, maka kita perlu introspeksi diri. Ini merupakan tanda lemahnya iman. Seseorang yang telah terjebak dalam sifat berlebihan pada urusan duniawi, maka ia akan sulit keluar dari jebakan itu, tanpa hidayah dan inayah Allah ‘azza wajalla, jika tidak segera ingat atau diingatkan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berpesan kepada Mu’adz bin Jabal ketika ia diutus ke Yaman untuk berdakwah,
إِيَّاكَ وَالتَّنَعُّمَ، فَإِنَّ عِبَادَ اللهِ لَيْسُوا بِالْمُتَنَعِّمِينَ
“Jauhilah hidup mewah, karena hamba-hamba Allah itu bukanlah orang-orang yang hidup mewah!” (HR. Ahmad No. 22105. Hadits hasan menurut Syaikh al-Albani)
Itulah sepuluh tanda lemahnya iman yang sangat perlu untuk kita ingat selalu. Semoga Allah ‘azza wajalla senantiasa menjaga diri kita dari berbagai hal yang dapat melemahkan iman kita kepada-Nya.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ وَالمُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَاتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ
اللَّهُمَّ خَالِفْ بَيْنَ كَلِمِهِمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِي لَا تَرُدُّهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِيْنَ
اللَّهُمَّ الْعَنِ الكَفَرَةَ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ وَيُقَاتِلُوْنَ أَوْلِيَاءَكَ
اللَّهُمَّ إِياَّكَ نَعْبُدُ، وَلَكَ نُصَلِّي وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ، نَرْجُوْ رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ، إِنَّ عَذَابَكَ بِالْكُفّارِ مُلْحِقٌ
اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْإِيْغُوْرَ الْمَظْلُوْمِيْنَ فِي الصِّيْنَ
اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُضْطَهَدِي
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”












