Kekuatan Politik IAS di Partai Golkar Sulsel
Mantan Wali Kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin (IAS), masih dianggap sebagai tokoh yang kuat dan memiliki pengaruh besar di internal Partai Golkar Sulsel. Meskipun saat ini belum ada kepastian mengenai waktu pelaksanaan Musda Golkar Sulsel, IAS tetap menjadi salah satu nama yang digadang-gadang akan bertarung untuk posisi Ketua.
Saat ini, tiga figur utama disebut-sebut akan maju dalam persaingan tersebut. Mereka adalah Munafri Arifuddin (Appi), Ilham Arief Sirajuddin (IAS), dan Taufan Pawe (TP). Hal ini diungkapkan oleh Pengamat Politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Ali Armunanto, saat dihubungi.
Menurut Ali, dari segi kompetensi, IAS dinilai paling mumpuni. Ia pernah memimpin partai Demokrat dan juga Golkar, serta berhasil membawa kedua partai tersebut dalam kondisi yang stabil dan baik.
Selain itu, IAS memiliki jaringan politik yang luas, baik di tingkat daerah maupun nasional. Menurut Ali, hal ini terlihat saat IAS melakukan safari politik menjelang Pilgub, meskipun akhirnya tidak maju. Sambutan masyarakat saat itu sangat baik, menunjukkan bahwa relasi-relasinya masih solid.
Namun, Ali juga menyebutkan bahwa status IAS sebagai mantan narapidana korupsi menjadi tantangan tersendiri bagi karier politiknya. Faktor ini membuat sebagian elit politik menjauh karena bisa menjadi isu yang merusak kredibilitas partai.
Potensi dan Tantangan Figur Lain
Dalam konteks persaingan, figur lain seperti Munafri Arifuddin (Appi) juga memiliki potensi. Namun, menurut Ali, pengalaman politik Appi masih terbatas, terutama dalam memimpin partai. Meski begitu, dukungan politik yang dimilikinya bisa menjadi keuntungan.
Sementara itu, Taufan Pawe, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Golkar Sulsel, dinilai masih memiliki relasi kuat di pusat. Namun, ia menghadapi tantangan elektoral. Salah satu kesalahan fatal Taufan Pawe adalah ketika Golkar disalip oleh NasDem dalam perolehan suara. Meskipun jumlah suara Golkar tidak menurun, citra Sulsel sebagai lumbung suara Golkar runtuh di masa kepemimpinannya.
Ali juga mencatat bahwa dalam beberapa pilkada terakhir, Golkar mengalami banyak kekalahan. Dari sini, setiap figur memiliki potensi sekaligus kelemahan masing-masing.
Keputusan Partai Golkar Sulsel
Ali menyimpulkan bahwa setiap calon punya potensi yang sama, tetapi juga memiliki catatan politik sendiri. Saat ini, IAS dinilai sebagai pilihan paling aman karena pergerakan politiknya yang terlihat. Namun, ia juga menegaskan bahwa belum diketahui apakah keluarga Halid akan ikut maju, sehingga masih perlu ditunggu.
Sekretaris DPD I Golkar Sulsel, Marzuki Wadeng, mengatakan bahwa pihaknya masih menunggu arahan resmi dari DPP. Menurutnya, jika hingga masa bakti berakhir belum ada jadwal Musda, maka besar kemungkinan DPP akan menunjuk pelaksana tugas (Plt) untuk memimpin Golkar Sulsel sementara waktu.
Marzuki menjelaskan bahwa penunjukan Plt merupakan langkah organisatoris yang biasa dilakukan partai jika terjadi kekosongan kepemimpinan akibat masa jabatan berakhir. Ia mencontohkan seperti yang terjadi di Provinsi Riau, di mana jika masa bakti sudah habis namun Musda belum digelar, biasanya ditunjuk Plt untuk menjalankan roda organisasi.
Dirinya memastikan, meski masa jabatan segera berakhir, seluruh pengurus masih menjalankan tugas hingga waktu berakhirnya masa bakti. Setelah itu, segala kegiatan akan berhenti menunggu keputusan DPP terkait kepengurusan sementara maupun jadwal Musda berikutnya.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”












