Kepala BNPB Akui Kesalahan dalam Menilai Dampak Banjir Sumatera
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, mengakui kesalahannya dalam menilai dampak banjir yang terjadi di Sumatera. Pernyataan ini disampaikan setelah ia melakukan peninjauan langsung ke lokasi terdampak banjir di Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara, bersama Bupati Tapsel pada Minggu (30/11/2025).
Suharyanto menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat atas pernyataannya sebelumnya yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi lapangan. Ia mengakui bahwa kondisi banjir di Tapsel lebih parah dari yang diperkirakan.
“Sebenarnya saya kaget begitu melihat kondisi di Tapsel. Saya tidak menyangka akan sebesar ini. Saya mohon maaf, Pak Bupati. Ini bukan berarti kami tidak peduli,” ujarnya dikutip dari siaran Kompas TV.
Sebelumnya, Suharyanto sempat menepis informasi tentang keparahan banjir di media sosial. Ia mengatakan bahwa meskipun banyak informasi yang menyebut situasi mencekam, saat tiba di lokasi, beberapa daerah sudah tidak hujan dan wilayah lain relatif membaik. Namun, hal tersebut justru menuai kritik karena kondisi di lapangan justru menunjukkan sebaliknya.
Profil Singkat Kepala BNPB Suharyanto
Dilansir dari Kompas.id, Suharyanto lahir di Cimahi pada 8 September 1967. Ayahnya merupakan anggota TNI Angkatan Darat (AD), sehingga Suharyanto tumbuh di lingkungan asrama tentara. Masa kecilnya dihabiskan di kota kelahirannya dan tidak pernah jauh dari dunia militer.
Hidup di lingkungan militer membuat Suharyanto bercita-cita menjadi tentara dan ingin bergabung dengan TNI AD. Setelah lulus SMA pada 1985, ia langsung mendaftar Akademi Militer (Akmil) di Magelang dan diterima sebagai taruna di kampus tersebut. Empat tahun kemudian, Suharyanto lulus dari akademi militer dan menyandang pangkat letnan dua pada tahun 1989.
Karier Suharyanto di TNI
Setelah lulus dari Akmil tahun 1989, Suharyanto ditugaskan pertama kali di kesatuan Infanteri Kalimantan selama kurang lebih sembilan tahun. Selama masa penugasan tersebut, dia juga sempat melaksanakan tugas operasi di Timor Timur.
Pada tahun 1999, Suharyanto mendapat tugas belajar di sekolah lanjutan perwira di Bandung dan bermarkas di Gummil Pussenif. Tahun 2003, ia ditugaskan ke Jawa Timur selama kurang lebih tujuh tahun sebagai komando batalyon hingga komando Kodim.
Beberapa jabatan yang diemban selama di Jawa Timur antara lain Pabandya Ops Sopsdam V/Brawijaya (2003–2004), Danyonif 516/Caraka Yudha (2004–2005), Danyonif 500/Raider (2005–2006), Dandim 0832/Surabaya Selatan (2006), dan Dandim 0817/Gresik (2009–2010). Dari Gresik, ia ditarik ke Mabes AD sebagai staff pengamanan Angkatan Darat (2010–2011).
Pada 2012, Suharyanto bertugas di Sekretaris Militer Presiden (Setmilpres) sebagai kepala bagian pembinaan personel lalu dipindah ke bagian kepala penelitian dan pengamanan khusus. Selanjutnya, ia pernah memegang sejumlah jabatan, antara lain, Kasi Intel Korem 081/Dhirotsaha Jaya, Danrem 051/Wijayakarta (2015–2016), kemudian masuk dalam Badan Intelejen Negara (BIN) dan menjabat Kepala Biro Kepegawaian Settama BIN (2016–2017), serta Direktur Kontra Separatisme Deputi III BIN (2017–2018).
Setahun kemudian, Suharyanto yang kala itu berpangkat Brigadir Jenderal dipercaya menjabat Kasdam Jaya (2018–2019), kemudian Sekretaris Militer Kemensetneg RI (2019–2020). Pangkatnya pun naik menjadi Mayor Jenderal dan dipromosikan menjabat Panglima Kodam V Brawijaya (2020–2021) pada Oktober 2020.
Setelah setahun bertugas di Jawa Timur, Suharyanto ditunjuk Presiden Joko Widodo sebagai Kepala BNPB pada 17 November 2021, menggantikan Letjen Ganip Warsito yang memasuki masa pensiun. Berselang beberapa pekan, bintang di pundak Suharyanto bertambah satu menjadi bintang tiga alias Letnan Jenderal (Letjen).












