Budaya  

Mempertahankan Rasa Campor Lorjuk Madura Dengan Bantuan Chef Terkenal dan Bule Perancis

Keunikan Kuliner Tradisional yang Tetap Bertahan

Di tengah bermacam-macamnya pilihan makanan modern, campor lorjuk menjadi pengingat bahwa rasa terbaik sering lahir dari tangan yang menjaga tradisi. Di kampung Kosabe, Sawahan, Desa Pademawu Timur, Kabupaten Pamekasan, tidak hanya dikenal sebagai wilayah pesisir. Di tempat itu, sebuah warung sederhana bernama Warung Campor Lorjuk Bu Hamid menjadi magnet bagi para pencinta kuliner tradisional.

Di balik warung yang buka mulai jam 7 pagi hingga selesai Isya, berdiri sosok Siti Hamidah, perempuan yang setia menjaga cita rasa campor lorjuk yang kini makin langka. Ia melanjutkan warisan ibunya, sebagai generasi kedua setelah menyelesaikan sekolah menengah umum. Awalnya ia jualan di rumah selama 25 tahun. Dari tujuh bersaudara, hanya dirinya yang meneruskan. Berawal dari suka bantu-bantu, lalu diajarkan resep oleh ibunya dan sekarang tetap mempertahankan resep tersebut tanpa dicampur-campur.

Meski seiring waktu ia tidak lagi menguleg bumbu secara manual, tetapi racikannya tetap sama. Kini bumbu digiling karena kondisi tubuh yang tidak memungkinkan untuk menguleg satu kilo bumbu. Isian campor lorjuk buatannya tetap khas dengan lontong, mie suun, kecapar goreng, remahan peyek, dan lorjuk sebagai bintang utama yang diguyur kuah.

Untuk kuahnya, ia menggunakan bumbu dasar merah sekaligus petis yang dicampur, sehingga tidak terlalu pekat. Lorjuk merupakan kerang kecil yang hanya hidup di pesisir Madura. Bentuknya memanjang, menyerupai bambu kecil dan bersembunyi vertikal di bawah pasir. Ada teknik khusus untuk menemukannya dengan menggunakan linggis. Karena itulah kuliner ini tidak ditemui di kota lain.

Dari Media Sosial Hingga Pengunjung Ternama

Keragaman bahan baku menciptakan rasa gurih yang tidak bisa disamakan dengan hidangan daerah lain. Namun, bagi Siti Hamidah, perjalanan berjualan tetap penuh dinamika. Kadang ramai, kadang tidak, tetapi alhamdulillah semakin banyak peminat yang datang. Banyak pengunjung awalnya melihat dari Instagram, TikTok, dan Google, berasal dari Surabaya, Pasuruan, Probolinggo, dan lainnya.

Seiring berjalannya waktu, pengunjung yang datang membuat warung kecil ini seperti titik temu banyak cerita. Mulai dari warga Madura sendiri, komunitas motor gede dari pulau Jawa, rombongan mahasiswa dari Malang, hingga turis dari Perancis pernah mencoba campor lorjuk buatannya. Bahkan chef asal Surabaya Rudy Choirudin juga masuk daftar pengunjung istimewanya.

“Pernah ke sini tiga kali, dia makan sambil beli petis lorjuk, terus makan di sini sambil nanya resepnya juga,” kata Siti Hamidah. Ia merasa senang karena kuliner legend ini banyak diminati, agar orang-orang tahu bahwa setiap daerah punya ciri khas dan tidak boleh dihilangkan.

Harga yang Ramah dan Penggemar Setia

Sampai saat ini, harga campor lorjuk yang dijual tetap merakyat sebesar Rp 10.000 per porsi, atau Rp 15.000 jika ingin menambah lorjuk. Syahid Mujahidin, salah satu warga yang sering mampir menikmati campor Lorjuk buatan Siti Hamidah, memiliki alasan tersendiri. “Kuliner ini salah satu bagian dari sea food juga, kebetulan suka sea food,” ujar pria yang biasa disapa Syahid itu.

Ia menyamakan kuliner ini dengan soto, tetapi dengan karakter rasa dan isinya sedikit berbeda. “Ini isian utamanya pakai lorjuk, saya sukanya makan pas siang hari, sepulang dari pantai biasanya mampir sini karena di sini enak,” pungkasnya.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?