Pelajaran Tsunami Aceh: Smong dan Komunikasi Penyelamat Nyawa



JAKARTA,

Gempa besar yang mengguncang Samudra Hindia pada 26 Desember 2004 menjadi pengingat pahit tentang rapuhnya manusia di hadapan bencana alam. Gempa bermagnitudo 9,1 dengan kedalaman sekitar 10 kilometer itu terjadi pukul 07.59 waktu setempat dan berlangsung hampir 10 menit. Getaran kuat menyebabkan air laut surut secara tiba-tiba. Di sejumlah pesisir Aceh, warga justru mendekat ke pantai untuk melihat kondisi laut dan mengumpulkan ikan, tanpa menyadari bahwa sekitar 30 menit kemudian gelombang tsunami setinggi hingga 30 meter akan datang menerjang.

Tanpa sistem peringatan dini yang memadai, minimnya pengetahuan masyarakat, serta manajemen bencana yang belum siap, gelombang tsunami menghantam wilayah pesisir Aceh dan sekitarnya dengan kecepatan sangat tinggi. Dampaknya meluas hingga ke sejumlah negara lain di kawasan Samudra Hindia. Di Indonesia, tercatat 166.080 orang meninggal dunia dan 6.245 orang dinyatakan hilang, menjadikan jumlah korban Indonesia sebagai yang tertinggi. Kerugian ekonomi akibat bencana ini diperkirakan mencapai Rp49 triliun, sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebutnya sebagai bencana kemanusiaan terbesar dalam sejarah modern.

Namun, dari tragedi tersebut lahir pelajaran penting: bencana bukan hanya soal kekuatan alam, tetapi juga soal komunikasi risiko—bagaimana informasi dipahami dan direspons oleh masyarakat dalam waktu yang sangat terbatas.

Komunikasi Risiko sebagai Fondasi Ketangguhan

Kajian kebencanaan pascatsunami Aceh menunjukkan bahwa kegagalan komunikasi risiko berkontribusi besar terhadap tingginya jumlah korban. Risiko tidak berhenti pada ancaman fisik, melainkan juga menyangkut cara pesan bahaya disampaikan, dipercaya, dan ditindaklanjuti. Sejak 1980-an, komunikasi risiko berkembang sebagai strategi utama pengurangan dampak bencana, seiring meningkatnya kompleksitas risiko dan perkembangan teknologi informasi.

Pengalaman tsunami Aceh kemudian mendorong komitmen global terhadap pengurangan risiko bencana yang dirumuskan dalam Kerangka Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana 2015–2030. Salah satu penekanannya adalah pentingnya komunikasi risiko dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat agar mampu merespons secara cepat dan efektif. Ketika masyarakat mampu mengenali tanda bahaya, mengambil keputusan tepat, serta pulih bersama, di situlah ketangguhan bencana terbentuk.

Smong: Kearifan Lokal Penyelamat Nyawa

Di tengah besarnya korban tsunami Aceh, terdapat kisah kontras dari Pulau Simeulue. Masyarakat Simeulue memiliki kearifan lokal bernama Smong, sebuah pengetahuan turun-temurun tentang tsunami yang berakar dari pengalaman gempa dan tsunami pada 1907. Kala itu, sekitar 70 persen populasi pulau tersebut menjadi korban. Para penyintas kemudian merangkum pengalaman pahit itu dalam syair dan cerita lisan yang diwariskan lintas generasi.

Inti pesan Smong sangat sederhana namun tegas: apabila terjadi gempa bumi dan air laut surut, segera lari ke tempat yang lebih tinggi. Pesan ini tidak hanya dihafal, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari melalui lagu pengantar tidur, syair, dan percakapan keluarga. Efektivitas Smong terbukti saat tsunami 2004 terjadi. Dari sekitar 70.000 penduduk Simeulue, hanya tiga orang yang tercatat menjadi korban.

Keberhasilan ini menunjukkan bahwa komunikasi risiko yang jelas, sederhana, dan dipahami bersama dapat berfungsi sebagai sistem peringatan dini berbasis komunitas. Aceh Besar dan Kota Banda Aceh juga memiliki jejak kearifan lokal terkait tsunami, yang tertuang dalam hikayat, syair, lagu, hingga tarian seperti Seudati dan Likok Pulo. Namun seiring waktu, pesan mitigasi di balik karya-karya tersebut kerap berubah menjadi sekadar aset budaya dan pertunjukan, tidak lagi menjadi pedoman tindakan dalam kehidupan sehari-hari.

Perbedaan ini menegaskan bahwa kearifan lokal seperti Smong tidak cukup hanya dilestarikan sebagai budaya. Pesan risikonya harus dipahami, diingat, dan diterapkan agar benar-benar berkontribusi pada pengurangan risiko bencana.

Tantangan Globalisasi dan Upaya Pelestarian

Globalisasi membawa tantangan tersendiri bagi keberlanjutan kearifan lokal. Minat generasi muda terhadap hiburan modern kerap menggeser tradisi lisan. Karena itu, pesan-pesan mitigasi berbasis budaya perlu dikemas ulang dalam medium yang lebih relevan, seperti lagu modern, film, animasi, komik, hingga materi pembelajaran di sekolah, tanpa menghilangkan esensi pesannya.

Pendekatan ini sejalan dengan upaya nasional yang dikoordinasikan oleh BNPB, yang menempatkan edukasi dan komunikasi risiko sebagai pilar utama kesiapsiagaan bencana. Teknologi peringatan dini tetap penting, namun tanpa pemahaman masyarakat, teknologi tidak akan bekerja secara optimal.

Tragedi tsunami Aceh mengajarkan bahwa ketangguhan masyarakat dibangun dari perpaduan pengetahuan, budaya, dan komunikasi risiko yang efektif. Pengalaman Smong di Simeulue membuktikan bahwa kearifan lokal—jika dipahami dan dijalankan—mampu menyelamatkan nyawa dalam situasi paling genting. Di tengah ancaman bencana yang terus ada, pelajaran ini tetap relevan hingga kini: pesan risiko yang sederhana, dipercaya, dan dipraktikkan bersama adalah kunci membangun masyarakat tangguh bencana.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?