SURABAYA,
– Wakil Wali Kota Surabaya Armuji memberikan respons terhadap video yang viral di media sosial. Video tersebut memuat pernyataan seorang pria yang menuduh bahwa anak buahnya memerintahkan demonstrasi oleh organisasi masyarakat Madura Asli (Madas) terkait kasus nenek Elina.
Pria dalam video tersebut menyampaikan pesan kepada “anak buah” Armuji untuk menghentikan aksi demo. Ia juga menegaskan bahwa jika aksi tetap berlangsung dan berdampak pada Madas Nusantara atau Madas Rumpun, maka akan ada konsekuensi.
“Kalau sampean atau anak buahnya sampean ngotot, ya, jujur kalau sampai Madas Nusantara atau Madas Rumpun yang kena imbasnya, kita tidak akan tinggal diam, Armuji ya,” ujarnya.
Armuji: Bukan Anak Buah, Itu Wartawan
Armuji, yang akrab disapa Cak Ji, menjelaskan bahwa orang yang disebut sebagai anak buahnya dalam video tersebut bukanlah bawahannya. Ia menegaskan bahwa orang tersebut adalah seorang wartawan.
“Pada saat saya kunjungan dan sidak di wilayah tempat Nenek Eliana. Sekali lagi, yang di sebelah saya itu bukan anak buah saya. Kalau enggak salah sebut, itu adalah wartawan media sosial,” kata Cak Ji melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Sabtu (27/12/2025).
Ia menjelaskan bahwa setiap hari Selasa, Rumah Aspirasi dibuka untuk menerima keluhan warga. Pada kesempatan itu, sering kali hadir wartawan yang ingin meliput.
“Bukan setiap Selasa mereka hadir, tapi kadang kala mereka hadir mengikuti keluhan warga yang disampaikan ke saya.”
“Masa kalau ada orang mau meliput kegiatan saya, tidak diperbolehkan karena rumah aspirasi ini adalah boleh untuk siapa saja,” tambahnya.
Cak Ji menambahkan bahwa selama ia melakukan sidak ke sejumlah lokasi, kegiatan tersebut sering diikuti oleh wartawan.
“Ya, tentunya saya tidak boleh melarang dong karena mereka kan juga ingin mendapatkan liputan,” ujarnya.
Karena itu, ia meminta masyarakat tidak langsung menggeneralisasi orang yang muncul di sekitar dirinya dalam rekaman sebagai anak buahnya.
“Terus ada orang misalkan foto sama saya atau ke-shooting di pinggir saya, jangan langsung diasumsikan digebyah-uyah (digeneralisir) bahwa itu anak buah saya, itu salah kaprah. Ya, tolong dipahami secara baik bahwa itu bukan anak buah saya 100 persen,” katanya.
Soal Madas dan Kasus Nenek Elina
Armuji juga menegaskan bahwa sekelompok orang yang sempat diduga berasal dari ormas Madas hanyalah oknum. Ia menegaskan bahwa hal tersebut bukanlah tindakan resmi dari organisasi tersebut.
“Saya juga tidak menyalahkan, tapi saya bilangnya oknum,” tegasnya.
Ia berharap masyarakat tetap bersikap kondusif dan tertib selama proses hukum terkait pengusiran dan pembongkaran paksa rumah nenek Elina Wijayanti yang kini ditangani Polda Jawa Timur.
“Karena kasusnya Nenek Eliana ini sudah ditangani secara hukum oleh Polda Jawa Timur, harapan saya semua tetap kondusif, semua menjaga ketertiban, dan yang pasti hukum akan berjalan dengan baik, secara transparan,” imbaunya.
Menurutnya, pihak yang paling bertanggung jawab dalam perkara tersebut adalah pembeli rumah nenek Elina, Samuel Ardi Kristanto.
“Samuel, sebenarnya kalian orang yang paling bertanggung jawab dalam hal ini,” tuturnya.
Madas Bantah Keterlibatan Anggota
Diketahui, video viral tersebut berkaitan dengan kasus pengusiran dan pembongkaran paksa rumah nenek Elina yang diduga dilakukan oleh sekelompok orang yang disebut berasal dari ormas Madas.
Namun, pihak Madas membantah tudingan tersebut. Ketua Umum DPP Madas Sedarah Moh Taufik menegaskan bahwa empat dari lima orang yang terlibat bukan anggota ormas Madas. Sedangkan satu orang lainnya bernama Muhammad Yasin baru bergabung sebagai anggota pada Oktober 2025.
“Yang Pak Wakil Walikota Surabaya memframing, ada tulisan Madas, itu bohong besar. Itu yang kami sesali,” tegasnya saat dihubungi, Sabtu (27/12/2025).
“Yang Pak Yasin itu baru gabung Oktober, yang lainnya kami tidak kenal, silahkan dicek KTA-nya (Kartu Tanda Anggota), identitasnya dicek,” imbuhnya.
Ia juga mengaku merasa dirugikan dengan pemberitaan yang dinilainya bias dan berpotensi mengarah pada sentimen rasisme.
“Sementara kami ini merasa dirugikan dengan hal pemberitaan-pemberitaan yang cukup bias menurut saya sampai mengarah kepada rasisme,” ucapnya.
Ia berharap penegakan hukum dapat dilakukan secara adil dan berimbang terhadap semua pihak.
“Silakan lakukan upaya-upaya hukum, tetapi dengan sesuai dengan hukum dan berkeadilan,” tuturnya.
“Jangan sampai framing ini, Polda Jawa Timur dalam hal ini melakukan proses penyelidikan maupun penyidikan itu merasa tertekan, tidak boleh begitu,” lanjutnya.












