Budaya  

Kisah Pahlawan Nasional Adisoemarmo Wirjokusumo di Bandara Boyolali

Sejarah dan Warisan Adisoemarmo Wirjokusumo

Adisoemarmo Wirjokusumo (1921–1947) adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU). Ia dikenal sebagai perintis TNI AU, pendiri Sekolah Radio Telegrafis Udara, dan gugur dalam tragedi jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA yang membawa bantuan obat pada 29 Juli 1947. Namanya diabadikan sebagai nama Bandara Adi Soemarmo di Boyolali, Jawa Tengah.

Lahir dan Perjuangan Awal

Adisoemarmo lahir di Blora, Jawa Tengah, dan dibesarkan dalam keluarga penganut Islam. Ia menjadi bagian dari generasi pionir yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Bersama tokoh-tokoh seperti Adisucipto, Abdulrachman Saleh, Husein Sastranegara, dan Iswahjoedi, ia memainkan peran penting dalam pembentukan TNI AU.

Dedikasinya dalam perjuangan kemerdekaan diakui oleh pemerintah Indonesia hingga ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada 1974. Penghargaan ini menjadi pengakuan resmi atas kontribusinya dalam membangun kemampuan komunikasi di Angkatan Udara.

Karier Militer dan Kontribusi

Sebelum bergabung dengan TNI AU, Adisoemarmo merupakan anggota Radio Telegrafis Udara di The Netherlands East Indies Air Force. Ia dikenal sebagai sosok inovatif dan berdedikasi tinggi. Salah satu kontribusinya yang paling penting adalah mendirikan Sekolah Radio Telegrafis Udara, cikal bakal dari Sekolah Radio Udara yang kemudian berkembang di lingkungan Angkatan Udara.

Peran ini sangat strategis karena kemampuan radio menjadi media penting untuk mengabarkan perjuangan kemerdekaan Indonesia ke mata dunia. Meski karier militer Adisoemarmo singkat, ia tetap memberikan pengorbanan besar dalam upaya membangun infrastruktur komunikasi yang vital bagi perjuangan bangsa.

Tragedi Dakota VT-CLA

Pada tanggal 29 Juli 1947, sebuah pesawat Dakota VT-CLA yang dikemudikan Pilot Alexander Noel Constantine (Australia) dan Co-pilot Roy L.C. Hazlehurst, terlibat dalam misi penting mengambil bantuan obat-obatan dari India dan Palang Merah Malaya untuk rakyat Indonesia yang tengah berjuang. Pesawat tersebut membawa tiga perintis AURI: Adisoemarmo, Adisucipto, dan Abdulrachman Saleh.

Namun, pesawat ditembaki oleh pesawat P-40 Kitty Hawk Belanda dari pangkalan Kalibanteng, Semarang, yang dipiloti Letnan Satu B.J. Reusink dan Sersan Mayor W.E. Erkelens. Akibat serangan itu, pesawat jatuh di Dusun Ngoto, Bangunharjo, Sewon, Kabupaten Bantul. Adisoemarmo meninggal dunia di dalam pesawat akibat tembakan senapan mesin Belanda, dengan luka tembus dari punggung kanan hingga perut kiri. Hanya satu penumpang yang selamat, yaitu Abdul Gani Handonotjokro.

Peristiwa ini kemudian dikenang sebagai Hari Berkabung TNI AU setiap 29 Juli sejak 1955. Adisoemarmo dimakamkan di Pemakaman Semaki, yang kemudian menjadi Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara Semaki.

Warisan dan Penghargaan

Pada 9 November 1974, berdasarkan Keputusan Presiden No. 071/TK/1974, Adisoemarmo resmi dinyatakan Pahlawan Nasional. Kontribusinya dalam membangun kemampuan radio dan komunikasi di Angkatan Udara menjadi tonggak penting bagi strategi perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Nama Adisoemarmo juga diabadikan untuk Bandar Udara Adi Soemarmo di Boyolali. Bandara ini memiliki sejarah panjang dan beberapa fakta unik:

  • Dibangun pada Masa Kolonial: Bandara ini awalnya dibangun Belanda pada 1940 sebagai Pangkalan Militer Udara Panasan, dilengkapi dengan fasilitas militer dan konstruksi tambahan saat pendudukan Jepang.
  • Berada di Boyolali, Bukan Solo: Meski sering disebut Bandara Solo, secara administratif bandara terletak di Kabupaten Boyolali, dengan kode IATA SOC yang sudah diakui internasional.
  • Simpul Penting Maskapai Lion Air: Bandara ini menjadi hub utama Lion Air, memungkinkan penumpang transit sebelum melanjutkan perjalanan domestik.
  • Status Bandara Internasional Sempat Dicabut: Bandar Udara Adi Soemarmo di Solo kembali menyandang status bandara internasional di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Sebelumnya, bandara ini melayani rute internasional sejak 31 Maret 1989 ke Singapura dan Malaysia, namun status internasionalnya sempat dicabut pada 2 April 2024 melalui Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 31 Tahun 2024.
  • Kembali Berstatus Internasional: Kini, kembalinya status internasional Adi Soemarmo ditetapkan melalui Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 37 Tahun 2025, yang menetapkan 36 bandar udara umum di Indonesia sebagai bandara internasional.
  • Dilengkapi Kereta Bandara: KA BIAS menghubungkan Bandara Adi Soemarmo dengan Stasiun Solo Balapan, Madiun, dan beberapa kota di Jawa Tengah. Tarif bervariasi antara Rp 7 ribu – Rp 40 ribu, memberikan akses transportasi yang mudah dan terjangkau.
admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?