Keterjangkauan Harga Jadi Penghambat Pertumbuhan Pasar Otomotif Nasional
Pasar otomotif nasional menghadapi tantangan signifikan dalam mencapai target penjualan mobil yang ditetapkan pemerintah. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan pasar justru stagnan di kisaran 1 juta unit per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa berbagai faktor ekonomi dan sosial memengaruhi daya beli masyarakat terhadap kendaraan bermotor.
Faktor Utama yang Menahan Pertumbuhan Pasar
Menurut kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI), keterjangkauan harga menjadi salah satu penghambat utama pertumbuhan pasar otomotif domestik. Peneliti LPEM UI, Syahda Sabrina, menjelaskan bahwa melemahnya daya beli rumah tangga menyebabkan kesenjangan antara pendapatan masyarakat dan harga kendaraan yang terus meningkat.
“Kita curiga isu yang paling besar itu adalah terkait dengan keterjangkauan atau affordability,” ujar Syahda dalam diskusi yang diselenggarakan oleh PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Bandung, Jawa Barat, Jumat (9/1/2025).
Ia menambahkan bahwa kenaikan pendapatan rumah tangga tidak sebanding dengan lonjakan harga mobil. Bahkan, jika dilihat dari upah riil, kenaikannya juga tertinggal dibandingkan inflasi. Kondisi ini menciptakan ketidakseimbangan yang memengaruhi kemampuan masyarakat untuk membeli kendaraan baru.
Peluang Pencapaian Target 2 Juta Unit Mobil pada 2030
Pemerintah telah menetapkan target penjualan mobil pada 2030 sebesar 2 juta unit. Namun, berdasarkan analisis LPEM UI, pencapaian target tersebut dinilai sangat sulit tanpa adanya intervensi kebijakan yang signifikan.
Salah satu opsi yang dikaji adalah mendorong pembelian mobil pertama (first car buyer). Namun, data SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional) menunjukkan bahwa hanya sekitar 13 persen rumah tangga nasional yang belum memiliki mobil sama sekali. Dengan komposisi yang tipis, kontribusi pembeli mobil pertama terhadap lonjakan penjualan dinilai tidak signifikan.
Opsi lain yang dipertimbangkan adalah mendorong pergeseran konsumen dari mobil bekas ke mobil baru. Pergeseran ini hanya bisa terjadi jika kesenjangan harga antara mobil baru dan mobil bekas dipersempit. Hal ini dapat dilakukan melalui penurunan harga mobil baru maupun kenaikan harga mobil bekas.
Dalam survei terhadap 1.511 calon pembeli mobil dalam lima tahun ke depan, LPEM UI menemukan bahwa sekitar dua pertiga atau 962 responden awalnya berniat membeli mobil bekas. Ketika disimulasikan harga mobil baru turun sekitar 10 persen, sebanyak 27 persen responden menyatakan bersedia beralih ke mobil baru. Namun, ketika skenario yang diuji adalah kenaikan harga mobil bekas, potensi pergeseran sangat tipis, hanya sekitar 15 persen.
Peran Nilai Jual Kembali (Resale Value)
Kajian ini juga menyoroti pentingnya nilai jual kembali (resale value) kendaraan. Berdasarkan analisis data mobil bekas yang dihimpun melalui web scraping dari OLX, LPEM UI menemukan hubungan positif antara tingginya resale value dengan penjualan mobil baru.
“Ini menunjukkan bahwa sebenarnya kalau misalnya resale value dari mobil tersebut bisa dijaga setinggi mungkin, tidak jauh berbeda dari nilai jual OTR yang barunya. Itu sebenarnya penjualan mobil barunya tidak akan turun seperti itu atau dengan istilah lain depresiasinya tidak terlalu tinggi, itu penjualan mobil barunya bisa terjaga,” ujar Syahda.
Sebagai contoh, Toyota Innova disebut memiliki depresiasi yang rendah, dengan resale value masih sekitar 73 persen dari harga On The Road (OTR). Kondisi tersebut sejalan dengan tren penjualan Innova yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Tantangan Makro dan Proyeksi Penjualan
Secara makro, LPEM UI menilai target pemerintah tetap sulit dicapai. Tanpa intervensi kebijakan, proyeksi penjualan mobil pada 2030 dinilai akan jauh di bawah target. Bahkan dengan asumsi adanya pergeseran konsumen dari mobil bekas ke mobil baru, penjualan diperkirakan hanya mencapai sekitar 1,6 juta unit.
“Dengan adanya shifting dari mobil bekas ke mobil baru, itu tetap belum bisa mencapai target pemerintah yang 2 juta unit penjualan,” terang Syahda.
Ia menambahkan, jika melihat data historis, sejak 2021 hingga 2025 target penjualan mobil baru yang ditetapkan pemerintah juga tidak pernah tercapai. Hal tersebut mengindikasikan bahwa target 2 juta unit pada 2030 berpotensi kurang realistis tanpa perubahan fundamental pada sisi harga, daya beli, dan struktur pasar otomotif nasional.












