Aku, Guru, dan Kejutan

Refleksi Seorang Guru Muda

Mengawali tahun baru dengan penuh haru. Alhamdulillah, kita semua diberi kemampuan oleh Allah melalui perjalanan satu tahun yang lalu yang penuh warna. Salah satu hal yang menarik adalah tentang perjalanan cinta.

Tulisan saya malam ini dimulai dari refleksi perjalanan pertama saya mengajar di salah satu lembaga pendidikan nonformal. Kedatangan saya disambut dengan sangat baik. Saya merasa sangat dicintai, baik oleh siswa, rekan kerja, maupun orang tua/wali murid.

Pada suatu ketika, di bulan November 2025 tepatnya pada peringatan hari guru kemarin, saya tidak menyangka mendapat begitu banyak hadiah dari siswa dan orang tua siswa. Sejujurnya, saya sangat terkejut. Ini adalah pertama kalinya saya terjun langsung dalam dunia pendidikan nonformal setelah kurang lebih 6 tahun menempuh pendidikan tinggi.

Sebagai seorang guru muda, terlebih lagi hanya sebagai guru les biasa, saya masih harus terus belajar tentang tahap perkembangan anak agar dapat menyelaraskan diri menghadapi dinamika proses pembelajaran bersama siswa. Oleh karena itu, saya merasa bahwa saya tidak begitu perlu merayakan hari guru untuk diri sendiri.

Namun, ternyata kenyataan tidak selaras dengan angan-angan saya. Diluar ekspektasi dan dugaan, ternyata saya merasa benar-benar dirayakan. Justru bukan diri saya yang merayakan, melainkan dirayakan oleh anak-anak, rekan sejawat guru, terlebih lagi orang tua siswa.

Saya merasa terharu, mengingat saya hanya guru les yang menemani belajar anak-anak beberapa jam saja dalam satu minggu. Tetapi, anak dan orang tua mereka sangat menyayangi dan merayakan saya sebagai seorang guru.

Saat menuliskan tulisan ini, saya merasa terharu dan berkaca-kaca. Sekali lagi saya merasa tidak menyangka, kalau dirayakan sedemikian rupa sehingga peristiwa ini menambah warna dalam hidup.

Malam ini saya tertegun sejenak, mengingat perayaan ini sekaligus teringat kebijakan “Guru dilarang menerima hadiah dalam bentuk apapun” yang dikeluarkan beberapa hari sebelum hari guru.

Dalam batin, saya berdialektika. Mungkin tujuan dari kebijakan itu baik, barangkali supaya tidak memberatkan atau membebani siswa atau orangtua. Tetapi pertanyaannya, bagaimana ketika anak-anak, rekan sejawat guru, dan orang tua siswa memberinya secara sukarela (naluriah) dan dengan penuh cinta, sebagai bentuk dari rasa terima kasih sekaligus untuk memuliakan gurunya. Lantas, apakah kita sebagai guru tidak boleh menerima kasih dan cinta itu dengan penuh hati juga?

Menurut hemat saya, ini bukan tentang memberi dan menerima. Tetapi ini adalah tentang kasih dan cinta. Bentuk kasih dan cinta yang diwujudkan dalam bentuk merayakan hari guru dengan memberi hadiah sederhana. Namun begitu bermakna bagi guru, karena ada cinta didalamnya.

Ya, walau sejatinya makna kasih dan cinta jauh lebih luas, tidak hanya sebatas memberi dan menerima hadiah. Tetapi lebih jauh dari itu, nilai dan makna yang tersemat dalam hadiah yang diberikan bagi saya sangat dalam. Bahwa ternyata anak-anak dan orang tua sangatlah menyayangi dan menghargai gurunya.

Mungkin kalau saya berposisi jadi orangtua, tentu akan sepakat untuk memberi hadiah walaupun kecil kepada guru sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan kepada beliau, karena telah dengan sabar membimbing anak kami. Beliau sebagai perantara yang menyampaikan ilmu-ilmu Allah kepada anak kami.

Lalu apa salahnya kami berterima kasih dalam bentuk memberi bingkisan kecil yang jauh dari kata gratifikasi? Lantas, apa salahnya jika sebagai orangtua juga ikut merayakan guru-guru kami, selain melalui dekap kidung doa?

Ya, walaupun saya belum menjadi orangtua, setidaknya saya belajar dari orangtua-orangtua terdahulu kami, bahwa beliau benar-benar takzim (memuliakan) guru-guru mereka. Sehingga tidak jarang kita jumpai orang-orang yang hidupnya saat ini berkah dan sukses, karena begitu cinta, menghormati, dan juga takzim kepada gurunya.

Semoga kita semua senantiasa diberikan keistiqomahan untuk selalu mentakdzimi dan mendoakan guru-guru kita.

Tabik

Eka Y. Nurohmah

Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?