Pengalaman Nongkrong dengan Tas Besar di Gili Trawangan
Gili Trawangan, Lombok. Suami adalah manusia paling utama di muka bumi yang sering mengeluhkan betapa rempongnya saya dengan koleksi tas besar, tas kanvas, pun beragam model tas wanita berukuran besar lainnya. Seringnya, saya tak peduli. Saya jauh lebih peduli, sudahkan semua buku yang sedang saya baca, terbawa atau tidak. Amankah tumbler botol minum, jika diletakkan bareng bersama buku-buku. Aman jugakah segala model kabel, head/ear set, powerbank — sesekali saya bawa kabel roll juga, tetap di ruang besar yang sama. Buku, air putih di dalam tumbler, segala kabel dan gadget.
Sore tadi, tas kanvas hitam terisi dua buku. Yang tebal, buku travelling Sigit Susanto “Menyusuri Lorong-lorong Dunia”. Buku kedua yang tipis, buku Amy Hest “The Private Notebook of Katie Roberts age#11”. Tumbler hitam berisi kopi panas, belum terasa aman dibawa bersama. Jadilah si tumbler ditaruh di drybag suami. Powerbank, kabel cas hp, dua kresek plastik, seikat kecil tali rafia. Begini kisah lengkap, tas kanvas hitam dan drybag, yang pertama ter-cangklong di punggung saya, yang kedua, aman diletakkan di keranjang depan sepeda.
Belasan Buku di Temu Baca Gili Trawangan
Pekan pembelajaran pertama di awal tahun 2026. Langsung sibuk, tentu saja. Bahkan, kelas saya kedatangan dua murid baru. Syukurlah. Sehari tadi, momen hari sekolah pertama, tampaknya sudah jauh berkurang. Segera dua murid baru sudah bisa mengikuti sebagian besar aktivitas rutin di kelas. Walau salah satu murid praktis hanya menggunakan Bahasa Inggris di percakapan kesehariannya, interaksi dengan sebagian besar kakak guru serta teman sekelasnya sudah semakin baik.
Nah, rutinitas pekerjaan semacam ini, mendorong Putri menghidupkan Temu Baca. Tak muluk. Hadir bersama sekian waktu, membawa buku sendiri pun tanpa buku, silent reading sekian waktu dan pastinya diskusi buku seru. Berbaginkisah, mengapa dan jatuh cinta pada buku yang mana. Ah, sungguh menyenangkan. Sampai pun, karena berhasil menghadiri undangan pertama ini, saya menuliskan tentangnya ke dalam dua tulisan!
Yang utama ya tentu saja di blog personal. Kedua, ya tulisan ini. Kebetulan juga tantangan menulis Topik Pilihan, tentang membawa tas saat nongkrong. Nah, saya adalah salah satu yang hobi nongkrong dengan tas besar pun berat, ya karena itu tadi. Buku-buku, tumbler, segala pernak pernik per-gadget-an. Semakin berat lagi kalau sedang kumat ingin sok kembali ke khittah. Alias perempuan sewajarnya. Punya beauty case — semoga tulisannya sudah benar :D.
Momen Temu Baca di Gili Trawangan
Eh, koq terlewat ingin kisahkan momen Temu Baca-nya. Jadi, sesuai undangan, saya berhasil hadir di sekira pukul 4 sore Wita. Lokasinya juga mudah ditemukan. Di pantai depan Masjid Jami’ Gili Trawangan. Dekat pun dari lokasi sekolah. Memantau kurang dari 5 menit, teman-teman Temu Baca sudah tampak mencolok. Dua gadis membentangkan kain pantai, lalu mengeluarkan belasan buku. Salah seorang dari mereka mengambil foto. Area seluas sekitar 20an meter persegi, hanya mereka berdua yang tampak mencolok membawa buku yang banyak. Di jaman now gitu loh. Sekeras apapun hidupkan kegiatan literasi, yang jauh lebih ramai malah event semacam mabar game online.
Mantap saya menuju lokasi mereka, menyapa dan yak, benar sekali. Mereka lah pengundang Temu Baca. Segera kami duduk bersama. Cas cis cus membincang Haruki Murakami, Dee Lestari, Tere Liye, dan sebagainya yang lekat dengan aktivitas membaca serta buku-buku.
Janji Temu Baca Rutin Mingguan
Episode pertama di Season ke-satu Temu Baca (biar agak ala ala drakor pun series lainnya di tayangan digital jaman now) tak lama. Suami saya yang mencangklong drybag-nya sudah tampak gelisah. Umpan buatan ingin segera dilemparnya. Kalau gagal strike dengan teknik casting yang disukainya, ia akan mencoba peruntungan dengan memancing cumi. Akhirnya saya pamit dari Putri dan Dira. Setelah tentu saja mengikat janji. Kami akan Temu Baca rutin, setiap Jumat sore, di jam dan lokasi yang sama. Oke sip.
Pindah ke lokasi mancing, dermaga sandar kapal ferry dan private speedboat di pelabuhan Gili Trawangan. Tempat favorit suami, dan mungkin akan jadi tempat favorit saya juga. Suami bisa mancing, saya bisa membaca dan menulis berkat lampu led dermaga (walau terbatas pada buku-buku dengan font ukuran 13 ke atas — saya jadi bisa selesaikan membaca buku Amy Hest dan juga dua tulisan di blog).
Dua Jenis Tas Favorit Saat Nongkrong
Nah, kembali ke topik tulisan, dua jenis tas nongkrong favorit sudah tertuliskan. Saya si pencinta buku, tersering membekal tas punggung bermuatan banyak. Suami yang pemancing, drybag 10 liter, sudah cukup untuk peralatan memancingnya dan ekstra tumbler kopi hitam panas. Dua model tas yang cara membawanya tetap membuat dua tangan kita bebas, sehingga masih bisa buat cangklong joran atau dua tangan saya bebas memeluk kuat pinggang suami. Terutama karena trip rutin kami setelah bekerja lima hari, Senin sampai Jumat, bersepeda. Sudah mulai lupa hitungan, berapa kali tepatnya kami kelilingi Gili Trawangan.
Oh iya, hampir lupa. Saya dan suami sekantor. Saya pengajar, suami saya tukang bersih-bersih sekolah sekaligus penunggu gerbang. Liburan kami, eksplor Gili Trawangan sampai puas. Ekstra hobi kami, saya si yang jatuh cinta pada buku, suami adalah pemancing garis keras.
[Dermaga Gili Trawangan, 9 Januari 2026.]
Musik latar dari deretan properti di sepanjang garis pantai, berpacu dengan diksi yang saya pilah menjadi dua gulisan. Terima kasih Temu Baca. Betapapun, pertemuan singkat tadi, sungguh trigger yang baik.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."












