Kenali Gedung Tahan Gempa Pertama di Indonesia di Citepus Sukabumi

Sejarah Bangunan Tahan Gempa Pertama di Indonesia

Wilayah Laut Kidul, tepatnya di Jalan Raya Citepus, Desa Citepus, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menyimpan jejak sejarah yang menarik. Di sini terdapat sebuah bangunan tahan gempa yang menjadi lokasi pertama di Indonesia yang dibangun dengan teknologi khusus untuk menghadapi gempa bumi.

Bangunan tersebut dikenal dengan nama Tenjo Resmi. Dibangun sejak tahun 1990-an, bangunan ini memiliki empat lantai dan berada di lahan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) 1 Regional 2. Meskipun cat berwarna merah muda pada bangunan mulai mengelupas akibat usia dan lembapnya udara laut pantai selatan, struktur bangunan tetap terlihat kokoh.

Di bagian lantai 1, tepat di area tangga menuju lantai 2, terdapat plakat sejarah yang dipasang dalam bingkai berdiameter sekitar satu meter. Tulisan “Bangunan Tahan Gempa Tenjo Resmi, Pasir Badak” terpampang jelas di sana.

Pembangunan dan Tujuan Bangunan

Menurut Ujang Sutardi, karyawan PTPN 1 Regional 2, bangunan tahan gempa ini selesai dibangun pada tahun 1994 dan diresmikan pada tanggal 26 Oktober 1994. Ia menjelaskan bahwa pembangunan bangunan ini dimulai pada tahun 1990-an, namun peresmiannya dilakukan pada 1994 karena alasan tertentu.

“Karena lokasinya dekat dengan Jakarta dan Bandung, serta memiliki potensi gempa yang tinggi, maka dibangun di sini,” ujarnya.

Pembangunan bangunan tahan gempa ini sepenuhnya didanai oleh organisasi PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) untuk pengembangan industri (UNIDO). Tujuan dari pembangunan ini adalah untuk meningkatkan penggunaan karet alam dalam kehidupan manusia, yang diusulkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Karet Internasional (IRRDB).

Proyek ini dilaksanakan oleh Asosiasi Penelitian Produsen Karet Malaysia (MRPRA) di Inggris dengan dukungan dari Universitas California Barkeley, Lembaga Pendidikan Getah Malaysia (RRIM), dan anggota IRRDB lainnya seperti Indonesia, Thailand, China, Filipina, dan India.

Teknologi Bantalan Karet

Bangunan tahan gempa Tenjo Resmi ini dibangun tidak menapak tanah alias berbentuk panggung dengan bantalan karet. Ujang Sutardi menjelaskan bahwa bangunan ini dibangun oleh tujuh negara, termasuk India dan Indonesia.

“Ternyata pada saat pembuatan di sini itu tidak optimal karena di bawahnya itu tidak ada tanah, banyaknya karang, jadi si getaran gempanya itu agak kurang. Makanya di uji coba bikin simulasi gempa, ternyata tidak ada perubahan dari segi struktur bangunannya,” jelasnya.

Sutardi menunjukkan bantalan karet yang digunakan dalam struktur bangunan. Di lobi bangunan juga terdapat struktur karet bagian dalam yang dipakai dalam konstruksi bangunan. Terdapat sekitar 16 bantalan karet yang digunakan untuk menopang bangunan 4 lantai ini.

“Ini bangunannya pakai bentuk panggung, itu kan bantalannya pakai karet sintetis dari Malaysia, dimana di dalamnya itu dilapisi serat baja, jumlah bantalannya itu 16 bantalan karet. Untuk bangunan ada 3 lantai, 4 sama ruangan rapat yang di atas,” ucap Sutardi.

Bantalan karet yang digunakan dalam struktur bangunan ini mampu menopang beban sampai ratusan ton dan memiliki masa pakai hingga 200 tahun setelah dipasang.

“Untuk masa kadaluarsa karetnya ini 200 tahun dari sejak terpasang itu. Untuk bantalan karet itu yang 16 itu bisa menopang menahan beban sebesar 786 ton, masa kadaluarsanya itu 200 tahun,” kata Sutardi.

Fungsi dan Keadaan Saat Ini

Sutardi menjelaskan bahwa bangunan tahan gempa Tenjo Resmi saat ini difungsikan sebagai Agrowisata. Kamar-kamar pada bangunan pun disewakan senilai Rp 750 ribu per malam dengan fasilitas kamar ber-AC. Pengelolaannya berada di bawah naungan Gunung Mas.

“Sekarang itu difungsikan untuk disewakan jadi penginapan, jadi masuknya ke agro bisnis ke Gunung Mas, jadi ke Agrowisata. Jadi perkebunan regional 4 bukan dalam segi perkebunannya yang pusatnya di Gunung Mas, jadi pengawasan ini ke Gunung Mas. Kamar-kamar bisa disewakan, perkamar itu Rp 750 ribu,” kata Sutardi.

Saat ini, Sutardi mengungkap bahwa fasilitas bangunan yang mulai usang sedang dalam tahap renovasi. Sejumlah AC telah terpasang di 6 kamar, pengecetan ulang pun direncanakan akan kembali dilakukan.

“Dulu kan udah terpasang semua AC, kan deket pantai jadi cepet rusak, jadi mau renovasi dulu. Makanya sekarang lagi dalam pembenahan ulang, renovasi dulu, kemarin udah pasang AC baru 6 kamar yang terpasang. Rencana kedepan ini ada pengecetan ulang, mungkin nunggu acc direksi dulu,” ungkap Sutardi.


Rafitman

Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?