Penyesuaian Struktur OPD dan Kebijakan Kerja Fleksibel di Bengkulu Tengah
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkulu Tengah kini tengah mengambil langkah-langkah strategis untuk menyesuaikan struktur organisasi perangkat daerah (OPD) serta kebijakan kerja pegawai. Langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap pengurangan dana Transfer Keuangan Daerah (TKD) yang berasal dari pemerintah pusat. Tujuannya adalah untuk menciptakan sistem pemerintahan yang lebih efektif, efisien, dan mampu beradaptasi dengan kondisi keuangan yang semakin ketat.
Perampingan OPD sebagai Strategi Penghematan Anggaran
Bupati Bengkulu Tengah, Rachmat Riyanto, menjelaskan bahwa penataan OPD menjadi salah satu strategi utama dalam mengendalikan belanja daerah tanpa mengurangi kualitas pelayanan publik. Dalam hal ini, Pemkab akan melakukan beberapa tindakan seperti perampingan sejumlah OPD yang memiliki fungsi serupa, penghapusan OPD tertentu, hingga kemungkinan pembentukan OPD baru sesuai dengan kebutuhan dan arah pembangunan daerah.
“OPD yang ada saat ini akan dievaluasi secara menyeluruh. Ada yang dirampingkan, ada yang dihilangkan, dan ada pula yang dimunculkan OPD baru,” ujar Bupati.
Namun, Rachmat menegaskan bahwa jumlah OPD serta OPD mana saja yang akan terdampak penyesuaian masih dalam tahap kajian. Ia ingin kebijakan ini benar-benar matang dan tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari. Targetnya, proses penyesuaian struktur OPD tersebut dapat rampung dan mulai diterapkan pada Agustus 2026.
Kebijakan Masuk Kantor Tiga Hari Kerja
Selain penyesuaian OPD, Pemkab Bengkulu Tengah juga telah menerapkan kebijakan masuk kantor hanya tiga hari kerja bagi aparatur sipil negara (ASN). Kebijakan ini resmi berlaku sejak Senin, 12 Januari 2026. Dalam skema terbaru ini, ASN di lingkungan Pemkab Bengkulu Tengah hanya diwajibkan masuk kantor selama tiga hari dalam sepekan, yakni Senin hingga Rabu. Sementara itu, pada Kamis dan Jumat, ASN akan bekerja dengan sistem work from anywhere (WFA).
Penjabat Sekretaris Daerah Bengkulu Tengah, Ayatul Mukhtadin, menjelaskan bahwa penerapan skema kerja fleksibel ini merupakan langkah strategis dalam menghadapi tantangan fiskal tahun anggaran 2026. Tujuan utamanya adalah menekan penggunaan anggaran di OPD dengan melihat apakah WFA selama dua hari ini bisa menurunkan biaya listrik, wifi, dan air bersih.
“Nanti akan kita evaluasi lagi setelah tiga bulan penerapan,” tegas Ayatul.
Penyesuaian untuk OPD Pelayanan Publik
Meski kebijakan ini berlaku umum, Ayatul menegaskan bahwa skema kerja tiga hari masuk kantor tidak berlaku penuh bagi ASN yang bertugas di sektor pelayanan publik. ASN di OPD yang berkaitan langsung dengan pelayanan masyarakat, seperti rumah sakit, puskesmas, sektor pendidikan, Dinas Sosial, serta Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil), tetap memberikan layanan setiap hari kerja. Namun, pada Kamis dan Jumat, pengaturan dilakukan dengan skema 50 persen WFA.
Pengurangan Anggaran TPP dan Efisiensi Anggaran
Selain kebijakan kerja fleksibel, Pemkab Bengkulu Tengah juga berencana melakukan pengurangan anggaran tambahan penghasilan pegawai (TPP) PNS hingga 70 persen. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya efisiensi anggaran di tengah keterbatasan dana transfer ke daerah.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu juga telah menerapkan sistem kerja work from anywhere (WFA) atau bekerja dari mana saja. Penerapan sistem kerja tersebut dilakukan setelah digelar evaluasi seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkup Pemprov Bengkulu. Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni, menjelaskan bahwa penerapan WFA mulai diberlakukan pada 1 Januari 2026.
“ASN dipersilahkan kerja dimana saja, mau dari rumah silahkan saja, hal ini merupakan upaya kita meminimalisir belanja rutin kita, dari Efisiensi Anggaran tahun 2026,” jelas Herwan.
Di sisi lain, tambahan penghasilan pegawai (TPP) ASN juga ikut dilakukan penyesuaian. Untuk TPP ASN, pemangkasan dilakukan sebesar 60 persen bagi eselon II, sementara eselon III dipangkas sebesar 50 persen, dan untuk staf dilakukan pemangkasan dengan persentase yang lebih kecil.
Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."












