Hidup dengan Rp 60.000 Sehari: Kisah Mira Merawat Ibu dan Kakak yang Sakit di Kukar



KUKAR,

Setiap pagi, Mira Ambar Wati (36) melangkah keluar dari rumahnya di Jalan Gerbang Dayaku, Gang Nirwana, Kelurahan Loa Janan Ulu, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Rutinitasnya nyaris tak pernah berubah. Berangkat bekerja lebih dulu, pulang dengan sisa tenaga, lalu mengurus keluarga yang menunggunya di rumah. Perempuan kelahiran 8 Agustus 1988 itu menggantungkan hidup keluarganya dari upah Rp 60.000 sehari. Ia bekerja serabutan di sebuah warung bakso—mencuci piring, menyiapkan minuman, membantu dapur, hingga mengerjakan apa pun yang diminta. Upah itu sudah termasuk jatah makan, dan harus cukup untuk menghidupi tiga anak, merawat ibu yang renta, serta menopang kakak yang sakit menahun.

“Kalau saya enggak kerja, kami enggak makan,” ujar Mira saat diwawancarai, Selasa (20/1/2025).

Pulang ke Rumah Lama demi Ibu

Rumah yang ditempati Mira bukan rumah baru. Bangunan lama peninggalan keluarga itu berdiri di gang sempit, berdempetan dengan rumah lain. Dulu, Mira sempat menyewa tempat tinggal sendiri. Namun setelah ayahnya meninggal, ia memilih kembali ke rumah itu demi menjaga ibunya. “Enggak mungkin saya tinggalin mama,” kata Mira singkat. Di rumah itulah Mira tinggal bersama ibunya yang kini berusia 63 tahun, kakak sulung bernama Juman, serta anak-anaknya. Beban yang ia pikul tidak sederhana.

Kakak dengan Gangguan Mental

Juman, kakak tertua Mira, mengalami gangguan mental sejak duduk di kelas 3 sekolah dasar. Hingga kini, penyebab pastinya tak pernah diketahui keluarga. Seiring waktu, kondisinya kian berat setelah menderita hernia yang membatasi geraknya. Perutnya membesar, berjalan menjadi sulit, dan aktivitas sehari-hari tidak lagi normal. Hingga kini, keluarga tak pernah membawa Juman menjalani operasi.

“Kami enggak pernah operasi. Takut juga, enggak sanggup,” ujar Mira. Dalam keseharian, Juman sering berada di luar rumah dan meminta-minta di jalan. Namun bagi Mira, kakaknya masih menyimpan sisi kemanusiaan yang membuatnya bertahan. “Kadang makanannya enggak dimakan, dibawarkan ke mama. Dia masih ingat mamaknya,” kata Mira.

Merawat Juman bukan perkara mudah. Kakaknya kerap mengumpulkan barang-barang bekas—pakaian, botol, dan benda lain—lalu menumpuknya di kamar kecil. “Kalau dibuang, dia ngamuk. Ngomel lama. Tapi enggak pernah mukul,” ujar Mira.

Menopang Tiga Anak

Selain kakaknya, Mira juga merawat ibunya yang kondisi fisiknya semakin melemah. Dalam keseharian, ia dibantu anak keduanya yang baru lulus SMA dan kini bekerja di agen sembako. Anak tersebut memperoleh penghasilan sekitar Rp 1,5 juta per bulan. Sebagian uangnya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan membantu biaya sekolah adik-adiknya.

Tiga anak Mira masih menempuh pendidikan. Anak sulungnya baru lulus SMA dan mulai bekerja. Anak kedua duduk di bangku SMP, sementara anak bungsunya masih kelas 3 SD. Bantuan pendidikan kerap menjadi penopang, meski tidak selalu datang rutin. “Kadang ada bantuan, kadang enggak. Kalau ada, kami atur bareng-bareng,” kata Mira.

Bertahan dengan Rp 60.000 Sehari

Dengan penghasilan Rp 60.000 sehari, Mira harus pandai menghitung. Uang itu digunakan untuk membeli beras, lauk sederhana, kebutuhan sekolah, hingga ongkos harian. “Rp 60.000 itu buat makan, sarapan anak, bekal kerja. Pintar-pintar aja ngaturnya,” ujarnya. Ia mengaku pernah bekerja dengan jam panjang hingga malam hari. Namun kondisi keluarga membuatnya tak sanggup bertahan.

“Enggak ada yang ngurus mama sama kakak kalau saya pulang malam. Itu yang berat,” katanya. Mira akhirnya memilih pekerjaan dengan jam lebih singkat meski penghasilannya lebih kecil, demi memastikan keluarganya tetap terurus. Suaminya bekerja serabutan—kadang mengangkut pasir, kadang pekerjaan kasar lain. Penghasilannya tak menentu, sekitar Rp 30.000 hingga Rp 50.000 sehari, bahkan kadang tidak ada sama sekali. Karena itu, Mira tetap menjadi penopang utama ekonomi keluarga.

“Kalau ngandelin satu aja enggak cukup,” ujar Mira.

Bertahan Hari demi Hari

Di tengah beban ekonomi dan tanggung jawab keluarga yang berat, Mira mengaku sering lelah. Namun ia tak memiliki pilihan selain terus bekerja. “Namanya hidup. Anak-anak masih sekolah, mama masih ada, kakak juga,” katanya. Rumah di Gang Nirwana menjadi saksi keteguhan Mira. Hari-harinya nyaris serupa: bekerja, pulang mengurus rumah, menyiapkan kebutuhan keluarga, lalu kembali bersiap untuk esok hari.

Tak ada rencana besar, tak ada mimpi muluk. Bagi Mira, bertahan hidup hari ini sudah cukup. “Motivasi saya keluarga. Anak-anak, mama, kakak,” ujarnya. Di sudut Gang Nirwana, kawasan Gerbang Dayaku, Mira Ambar Wati terus berjalan. Di balik angka Rp 60.000 sehari, ada kisah tentang perempuan yang menjaga keluarganya tetap hidup, meski dengan segala keterbatasan.

Askanah Ratifah

Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?