Profil Singkat Noe Letto
Noe Letto, yang memiliki nama lengkap Sabrang Mowo Damar Panuluh, lahir di Yogyakarta pada 10 Juni 1979 (usia 46 tahun). Ia adalah putra pertama dari Emha Ainun Nadjib, dikenal sebagai Cak Nun, dan istri pertamanya, Neneng Suryaningsih. Pada masa kecilnya, Noe mengenyam pendidikan SD dan SMP di Lampung. Namun, orangtuanya memutuskan berpisah saat ia berusia enam tahun, sehingga Noe ikut ibunya pindah ke Lampung.
Di Lampung, ia bersekolah di SD 1 Yosomulyo, kemudian melanjutkan ke SMP Xaverius Metro. Mulai dari SMP, ia mulai mengenal musik melalui kaset Queen yang diberikan pamannya. Setelah lulus SMP, Noe kembali ke Yogyakarta dan meneruskan sekolah di SMU 7 Yogyakarta. Selama masa SMA, ia bertemu beberapa teman untuk saling bermain musik dan aktif dalam komunitas ayahnya.
Pada tahun 1997, Noe melanjutkan studi di Universitas Alberta, Kanada. Ia mengambil dua jurusan sekaligus, yaitu Matematika dan Fisika. Meskipun menghadapi krisis moneter, ia berhasil menyelesaikan studi dengan gemilang dan meraih gelar Bachelor of Science With Honors (B.Sc.) pada 2003. Gelar ini berbeda dengan jenjang S1 biasanya karena kurikulum yang lebih berat dan persiapan untuk menjadi peneliti atau ilmuwan.
Dalam kehidupan pribadi, Noe menikah dengan Fauzia Fajar Putri Khaeruddin (Uci) pada 19 Februari 2009 di Kendari, Sulawesi Tenggara. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai dua anak, dan hubungan keluarga mereka tetap harmonis hingga kini.
Karier Musik dan Produksi Film
Setelah pulang dari Kanada, Noe aktif di studio KiaiKanjeng, belajar mixing, mastering, dan menulis musik. Pada 2005, bersama Ari, Dedy, dan Patub, ia membentuk band Letto. Noe sebagai vokalis, sementara Patub sebagai gitaris, Arian sebagai bassis, dan Dhedot sebagai drummer. Mereka merilis album debut Truth, Cry, and Lie yang meraih double platinum—penghargaan industri musik atas penjualan album dalam jumlah besar.
Dua tahun kemudian, pada 2007, Letto kembali mengukuhkan posisinya lewat album Don’t Make Me Sad. Di medio 2000-an, Sabrang (alias Noe) dikenal luas sebagai vokalis Letto dengan lagu-lagu hits seperti “Ruang Rindu”, “Sebelum Cahaya”, dan “Sandaran Hati”. Lagu-lagu tersebut melekat di ingatan publik dan menjadikan Letto salah satu band berpengaruh pada masanya.
Memasuki 2008, Noe mendirikan Pic[k]Lock Productions bersama Dewi Umaya Rachman. Dari rumah produksi ini lahir sejumlah film, antara lain Minggu Pagi di Victoria Park (2010), RAYYA, Cahaya Di Atas Cahaya (2011), dan Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015).
Dilantik Jadi Tenaga Ahli DPN
Pelantikan Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe Letto sebagai tenaga ahli Dewan Pertahanan Nasional (DPN) RI menjadi perbincangan publik. Pelantikan dilakukan oleh Menteri Pertahanan sekaligus Ketua Harian DPN, Sjafrie Sjamsoeddin, pada Kamis (15/1/2026) di Aula Bhinneka Tunggal Ika, Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI, Jakarta.
Noe tampak mengenakan jas hitam, kemeja putih, dasi merah, dan kopiah hitam. Menurut Karo Infohan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, para tenaga ahli akan mengisi posisi krusial sebagai Tenaga Ahli Utama, Madya, dan Muda pada kedeputian bidang geoekonomi, geopolitik, serta geostrategi.
Selain Noe, turut dilantik Jupriyanto dan Frank Alexander Hutapea, putra pengacara Hotman Paris, sebagai Tenaga Ahli Madya. Nama lain yang masuk jajaran Tenaga Ahli Utama antara lain Surachman Surjaatmadja, Ian Montratama, M. Abdul Kholiq, Agato P. P. Simamora, Achmad Rully, dan Filda Citra Yusgiantoro.
Kemhan menegaskan bahwa pelantikan tidak dikaitkan dengan latar belakang keluarga maupun faktor non-institusional lainnya. Pengisian tenaga ahli DPN sepenuhnya diarahkan untuk memperkuat kualitas kebijakan pertahanan Indonesia.
Tugas Tenaga Ahli DPN
Setelah pelantikan, Noe Letto disebut memiliki peran memberikan masukan sesuai bidang masing-masing dalam forum Dewan Pertahanan Nasional. Rico menjelaskan, tenaga ahli menyampaikan masukan melalui mekanisme yang sudah ditetapkan di internal DPN. Masukan dan rekomendasi tersebut menjadi bahan pertimbangan kolektif pimpinan DPN, termasuk Menteri Pertahanan.
“Sehingga keputusan tetap berada dalam koridor kelembagaan dan kepentingan strategis pertahanan negara,” tambah Rico. Tugas utama tenaga ahli adalah memberikan kajian dan rekomendasi sesuai bidang keahliannya untuk mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi DPN.












