Budaya  

Nasi Kuning, Menu Sarapan Favorit Solo yang Dulunya Makanan Bangsawan Majapahit

Sejarah dan Makna Nasi Kuning di Solo

Nasi kuning menjadi salah satu menu sarapan favorit masyarakat Solo. Hidangan ini tidak hanya populer karena rasanya yang gurih dan aromanya yang khas, tetapi juga memiliki sejarah panjang yang berakar dari tradisi Jawa kuno. Pada masa Kerajaan Majapahit, nasi kuning dipercaya sebagai sajian istimewa bagi kalangan bangsawan dan sering dihidangkan dalam berbagai upacara penting.

Warna kuning pada nasi berasal dari kunyit, rempah utama yang tidak hanya memberi warna alami, tetapi juga aroma dan cita rasa khas. Warna ini melambangkan kemakmuran, kejayaan, dan harapan akan kehidupan yang sejahtera. Nilai-nilai ini sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat pada masa itu. Nasi kuning berasal dari Pulau Jawa dan diyakini merupakan warisan resep turun-temurun yang telah bertahan selama ratusan tahun.

Hingga kini, keberadaannya tetap lestari dan terus beradaptasi dengan kehidupan modern. Di Solo, nasi kuning tidak lagi hanya identik dengan acara syukuran atau perayaan tertentu. Justru, hidangan ini semakin dekat dengan keseharian masyarakat, terutama sebagai pilihan sarapan praktis yang mengenyangkan, sekaligus menjadi pengingat akan kekayaan sejarah dan budaya kuliner Jawa.

Jejak Sejarah Nasi Kuning

Sejarah nasi kuning diyakini berawal dari masa Kerajaan Majapahit. Pada zaman itu, nasi kuning hanya disajikan dalam acara tertentu dan diperuntukkan bagi kalangan bangsawan atau masyarakat dengan status sosial tinggi. Nasi kuning biasanya hadir dalam bentuk tumpeng dan digunakan dalam upacara adat, keagamaan, hingga pernikahan.

Masyarakat Jawa yang saat itu memeluk agama Hindu mempersembahkan nasi kuning tumpeng kepada para dewa yang diyakini bersemayam di gunung. Tujuannya sebagai ungkapan rasa syukur serta doa agar terhindar dari marabahaya. Tradisi ini terus bertahan, bahkan saat pengaruh Islam masuk ke Jawa, budaya tumpengan nasi kuning tetap dilestarikan hingga kini.

Makna dan Filosofi Nasi Kuning

Warna kuning pada nasi berasal dari kunyit, rempah utama yang tak hanya memberi warna alami, tetapi juga aroma dan cita rasa khas. Warna kuning melambangkan kesejahteraan, kemakmuran, dan keceriaan. Inilah alasan nasi kuning kerap hadir dalam berbagai perayaan penting sebagai simbol harapan dan doa yang baik.

Penggunaan rempah-rempah seperti kunyit, daun pandan, serai, dan daun jeruk juga mencerminkan kekayaan rempah Nusantara yang menjadi ciri khas kuliner Indonesia. Dari segi filosofis, nasi kuning tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga representasi dari nilai-nilai luhur yang dipegang teguh oleh masyarakat Jawa.

Dari Tumpeng ke Menu Sarapan

Seiring perkembangan zaman, nasi kuning tidak lagi terbatas pada acara adat. Di banyak daerah, termasuk Solo, nasi kuning kini menjadi menu sarapan sehari-hari. Penyajiannya pun lebih sederhana, tidak berbentuk tumpeng, melainkan seporsi nasi kuning lengkap dengan lauk pendamping seperti telur dadar iris, abon, kering tempe, atau kentang.

Beragam daerah di Indonesia memiliki ciri khas nasi kuning masing-masing, seperti nasi kuning Banjar dengan sambal habang, nasi kuning Manado dengan ikan cakalang pedas, hingga nasi kuning Bali yang disajikan bersama ayam betutu dan sambal.

Rekomendasi Nasi Kuning di Solo

Di Solo, salah satu tempat yang terkenal dengan sajian nasi kuningnya adalah Nasi Kuning Bang Ro. Kuliner ini dikenal luas karena porsinya yang melimpah dengan harga ramah di kantong, mulai Rp12 ribuan per porsi. Menariknya, Nasi Kuning Bang Ro justru buka pada sore hingga tengah malam, menjadikannya pilihan favorit untuk makan malam maupun sarapan “malam hari” ala warga Solo.

Pilihan lauknya pun beragam, mulai dari ayam goreng, ayam bakar, telur, hingga sate-satean dan gorengan. Selain rasanya yang nikmat, nasi kuning di sini dipastikan halal, memiliki warna cerah, tekstur nasi yang pulen dan tidak lembek, serta aroma rempah yang menggugah selera.

Ditunjang fasilitas seperti mushola, toilet bersih, dan tempat yang nyaman. Lokasi : Jalan Dr Radjiman 126, Coyudan, Solo. Jam buka : Setiap hari pukul 07.00 WIB-01.00 WIB. No telepon : 08112698101.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?