Budaya  

Siapa Syifa? Tentara AS Asal Tangerang dengan Kehidupan Mewah

Video Perpisahan Emosional Syifa, WNI di Militer Amerika Serikat, Viral di Media Sosial

Media sosial belakangan ini diguncang oleh sebuah video yang menyentuh hati. Rekaman singkat itu memperlihatkan momen perpisahan seorang ibu dengan putri tercintanya di sebuah bandara. Bukan sekadar pelepasan biasa, tetapi pelepasan seorang anak perempuan yang harus kembali menjalankan tugas sebagai tentara Amerika Serikat.

Video yang diunggah akun Instagram @bunda_kesidaa pada Sabtu (17/1/2026) tersebut sontak viral. Suasana haru begitu terasa ketika seorang perempuan muda berpamitan dengan kedua orang tuanya, meninggalkan pelukan yang berat dan air mata yang tak terbendung.

Syifa, WNI Berhijab dalam Seragam US Army

Dalam video itu, sang putri tampak mengenakan seragam loreng khas militer Amerika Serikat, lengkap dengan tulisan “US Army” di dada kiri. Yang membuat banyak orang terhenyak, perempuan tersebut tetap mengenakan hijab—sebuah simbol identitas yang ia bawa dengan bangga di tengah seragam militer negara adidaya.

Perempuan itu diketahui bernama Syifa, Warga Negara Indonesia (WNI) asal Tangerang, Banten. Kini, Syifa resmi bergabung sebagai anggota Army National Guard Amerika Serikat, sebuah keputusan besar yang langsung menyita perhatian publik dan memicu perbincangan luas di berbagai platform media sosial.

Jejak Diaspora: Keluarga Indonesia di Negeri Paman Sam

Saat dikonfirmasi, Safitri, ibu Syifa, membenarkan bahwa putrinya memang telah menjadi bagian dari militer Amerika Serikat. Ia menjelaskan bahwa keluarganya merupakan diaspora Indonesia yang telah menetap di AS sejak pertengahan 2023.

Safitri, suami, serta dua anak perempuannya pindah ke Amerika Serikat setelah memperoleh Green Card, izin tinggal tetap yang memungkinkan warga asing tinggal dan bekerja secara legal dalam jangka panjang. Keluarga tersebut kini menetap di Kensington, negara bagian Maryland, sebuah kawasan pinggiran Washington DC.

Video perpisahan yang viral itu diambil di bandara setempat, tepat saat Syifa harus kembali menjalani kewajibannya sebagai prajurit. “Jadi anak saya baru saja selesai liburan Natal karena sedang ada camp, dapat cuti dua minggu. Setelah cuti kami antara lagi (ke bandara),” ungkap Safitri, Selasa (20/1/2026).

Kekhawatiran Seorang Ibu dan Pilihan National Guard

Safitri tak menampik bahwa pada awalnya ia diliputi rasa cemas ketika mengetahui keinginan putrinya bergabung dengan militer. Bayangan medan perang sempat menghantui pikirannya sebagai seorang ibu. Namun, kekhawatiran itu perlahan mereda setelah ia memahami posisi dan peran yang diambil Syifa.

“Awalnya saya juga takut, saya kira disuruh perang, namun ternyata tidak. Posisi yang diambil anak saya adalah di National Guard, dan bekerja di bagian office,” jelas Safitri.

Saat ini, Syifa masih menjalani proses training militer yang dijadwalkan rampung pada bulan ini. Keputusan untuk bergabung dengan National Guard disebut telah melalui pertimbangan matang dan diskusi panjang di dalam keluarga.

“Awal ke sini ada tetangga juga dari Indonesia yang juga menjadi army di sini, mereka kemudian memberikan informasi lebih lengkap,” ungkapnya.

Apa Itu National Guard?

Mengacu pada laman nationalguard.mil, National Guard merupakan komponen cadangan militer Amerika Serikat yang direkrut oleh masing-masing negara bagian. Meski demikian, pasukan ini dapat dikerahkan secara nasional apabila dibutuhkan dalam situasi tertentu, baik untuk kepentingan pertahanan maupun penanganan bencana.

Tetap Berhijab di Balik Seragam Militer

Penampilan Syifa yang tetap mengenakan hijab saat berseragam militer AS menjadi sorotan tersendiri. Banyak warganet mempertanyakan bagaimana aturan berpakaian di tubuh militer Amerika Serikat.

Safitri memastikan bahwa hijab tidak menjadi penghalang, baik dalam proses pendaftaran maupun saat menjalankan tugas. “Sebelum mendaftar tentu kami juga berdiskusi dengan keluarga dan mencari informasi. Salah satunya dengan penampilan hijab.”

“Ternyata memang diperbolehkan, dan ada juga anggota dari negara-negara lain yang mengenakan hijab selain dari Indonesia,” ungkap Safitri.

Fakta ini menegaskan bahwa ada ruang keberagaman di tubuh militer AS, khususnya di National Guard yang beranggotakan individu dari berbagai latar belakang budaya dan agama.

Gaji dan Keuntungan Jadi Sorotan Publik

Di balik kisah haru perpisahan itu, publik juga menyoroti sisi lain yang tak kalah menarik: aspek finansial. Berapa sebenarnya gaji tentara Amerika Serikat, khususnya anggota National Guard?

Berdasarkan penelusuran SURYA.co.id dari nationalguard.com, sistem penggajian militer AS ditentukan oleh pangkat dan masa kerja. Untuk prajurit pemula kategori Enlisted (E), gaji mencakup masa pelatihan dan tugas aktif.

Anggota National Guard umumnya menjalani latihan rutin sekitar dua hari setiap bulan, ditambah dua minggu Pelatihan Tahunan (Annual Training). Selama periode tersebut, mereka berstatus Active Duty dan menerima bayaran penuh.

Per 20 Januari 2026, rata-rata gaji tahunan anggota National Guard di AS mencapai US$35.072 atau sekitar Rp605 juta, dengan rincian:
* US$2.922 (sekitar Rp49,5 juta) per bulan
* US$674 (sekitar Rp11,4 juta) per minggu
* US$16,86 (sekitar Rp285 ribu) per jam

Angka tersebut masih dapat meningkat seiring kenaikan pangkat, pendidikan, spesialisasi militer (MOS), serta pengalaman lapangan. Data ZipRecruiter bahkan mencatat prajurit berkualifikasi tinggi bisa memperoleh hingga US$45.000 per tahun.

Selain gaji pokok, anggota National Guard juga menerima berbagai tunjangan, mulai dari perumahan, keringanan pajak, hingga bayaran penuh saat dikerahkan dalam tugas aktif.

Antara Air Mata dan Kebanggaan

Video perpisahan Syifa dan keluarganya kini tak sekadar menjadi konten viral, melainkan simbol pergulatan emosi antara cinta seorang ibu, keberanian seorang anak, dan pilihan hidup di tanah rantau. Di balik air mata di bandara, tersimpan kisah tentang identitas, pengorbanan, dan langkah berani seorang WNI berhijab yang menapaki jalan hidupnya sendiri bahkan hingga ke barisan militer Amerika Serikat.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× How can I help you?